Ayah, Bunda Kepada Siapa Mereka Belajar?

Ayah, Bunda Kepada Siapa Mereka Belajar?

(Artis dan Role Model)

Suatu sore di depan rumah, saya mendengar anak saya tertawa dengan kedua teman perempuannya sambil berlenggak lenggok kemayu memperagakan salah satu tokoh dalam kartun anak-anak.

Iya lah nih, abang shaleh” sambil melambaikan tangan dan disambut tawa kedua teman-temanya

Degh!saya kaget, tidak menyangka film kartun yang saya rasa cukup aman ternyata ada konten yang salah direkam olehnya, dan…dicontoh.

Di kesempatan lainnya, saya mendengar anak-anak SD saling berbincang :

“aku nih si boy anak jalanan, sepedaku bisa ngebut, kalah kamu mah!”

“aah, biasa aja” sambut anak yang satu lagi. Aku nih si manusia harimau, jago gelutna”

Pemandangan lain yang tidak kalah miris pernah saya temukan di angkot saat jam pulang sekolah.

Ada yang asik pakai earphone sambil manggut-manggut menyanyikan lagu artis idolanya, ada muda-mudi yang asik pacaran sambil manggil ‘mama-papa’

Ada juga gadis-gadis belia berusia belasan dandan layaknya mbak-mbak usia 20+, sepanjang perjalanan mereka update kabar soal artis-artis idolanya lalu ketawa cekikikan tak peduli sekitar.

Saya memandang mereka sambil tertunduk
Saya sedih
Terbayang wajah-wajah artis yang mereka idolakan itu, sungguh jauh dari kriteria model yang mereka perlukan di usianya kini

Masih segar juga dalam ingatan saya polemik kedatangan artis SNSD ke Indonesia.

Saya resah saat membaca hujatan para sone (fans SNSD) yang ditujukan kepada para pendidik dan  kaum Ibu yang memprotes kedatangan SNSD.

aduh malu banget deh punya Ibu gak gaul, biasa aja deh bu jangan lebay pakai acara ngelarang-larang!” kurang lebih begitu bunyi salah satu cuitannya.

Lagi-lagi saya tertunduk, sedih

Ingin rasanya saya memeluk mereka dan mengusap halus keningnya :

“Ini bukan soal gaul atau tidak, dik. Ini  keresahan kami atas atas orientasi hidupmu. Kami peduli masa depanmu, sungguh tidak sependek itu tujuan kami mendidikmu. Jika gadis-gadis korea itu lebih kau hormati dari Ibumu, dimana letak fitrah iman di hatimu?”

MasyaaAllah

Fenomena seperti ini jadi renungan bagi saya pribadi
Kepada siapa mereka belajar, Ayah Bunda?
Siapa role model mereka?

Kita mungkin bisa jadi tak sengaja, atau lebih tepatnya lengah

Kita kalah cepat, kita kalah serunya
Kalah menariknya  dibanding para artis itu
Kita lengah dengan waktu
Kita melewatkan masa menjadi sebaik teman yang menyenangkan untuk mereka

Mereka terbuai dalam gemerlap artis itu sebelum taqwanya terbentuk
Mereka rela berkorban untuk menjadi pengikut setia
Semuanya dilakukan dengan senang, tanpa ragu. Tanpa beban
Tak seperti saat kita mengajarnya shalat, mengaji dan berbagai kebaikan lainny

Kenapa bisa begitu Ayah, Bunda?

Jawabannya ialah karena kita terlambat

Terlambat menumbuhkan cinta

Terlambat menjadi role model

Terlambat menjadi teman belajarnya

 

Kita mungkin lupa salah satu kaidah dalam belajar,

Bahwa apa yang paling dulu dipelajari, yang paling sering diulang dan yang paling dekat dengan dunia anak akan lebih cepat menyedot atensi, akan lebih cepat ditiru.

Inilah mungkin saatnya kita bertanya pada diri:
Sudah sejauhmana kita berupaya menjadi orang tua yang menyenangkan?
Sudah sejauhmana kita memberinya bekal iman,
sudah sejauhmana kita concern memperlakukan dunianya, bukan dengan cara kita melihat dunia kita sendiri?

“Bekali anakmu taqwa, sebelum tawa”
bunyi sebuah nasehat yang kini terngiang di telinga saya

Ayah Bunda, ajari anak-anakmu taqwa sebagai pondasi sebelum yang lainnya

Mereka datang dengan cintaNya

membawa fitrah untuk mencintai kebaikan
Rawatlah fitrah itu tumbuh sumbur, Ayah Bunda

Jadilah teman belajarnya,

Jadilah idolanya, untuknya

Hingga mereka tak perlu jauh langkahkan kaki untuk sekedari mencari kesenangan

Biarkan mereka melihatnya darimu Ayah Bunda
Sebagai sebaik baik sumber cinta dan sebaik baik role model untuknya

#30DWC
#30DWCjilid8

#day18

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *