Ayah Lelah? Pulanglah

Ayah Lelah? Pulanglah

(Bersama saling menentramkan)

 

Judul ini spontan tertuang setelah saya menulis mengenai kelelahan yang dirasakan ibu,

Jika Ibu Lelah, rehatlah

Jika lelah, berbagilah

Lalu, bagaimana dengan Ayah?

 

Tidak banyak tulisan yang mengulas tentang Ayah,

Sementara tugas seorang Ayah tidak kalah banyaknya

Bahkan dalam beberapa hal tugasnya jauh lebih berat

 

Jika rumah adalah sebuah peradaban,

Maka ayah adalah nahkodanya

Ia memberi arah, ia bertanggung jawab penuh pada haluan

Ia tak hanya memikul bebannya

Ia tak hanya memikul tugas di dunia,

Ia membawa misi akhirat : menjaga semua keluarga dari panasnya api neraka

 

Ia menjaga anak gadisnya untuk tumbuh ayu dan piawai menjaga kehormatan dirinya

Ia mendampingi pria kecilnya untuk tumbuh kuat mewarisi kepemimpinanya

Ia menjadi sebaik baik guru untuk istri dan anak-anaknya

Pelukannya menjadi penguat bagi ibu untuk bisa menjalankan perannya

 

Ia adalah model,

Ia juga bukan sekedar pelaku rutinitas

Bukan sekedar pejuang nafkah

 

Ada kalanya ia lelah, peluh

Akan ada masa punggung tegapnya rapuh

 

Tapi Ayah tak seperti ibu,

Ia tak seperti Ibu yang punya banyak ruang kata dan ekspresi

Air matanya tertahan untuk mengalir

Lidahnya kelu pun hanya sekedar untuk mengeluh

Harapan untuknya tumbuh kuat melebihi semua ambang ekspresinya

 

Lalu, bagaimana saat Ayah lelah?

Ayah menepi..

Beberapa memilih bermunajat padaNya,

Lainnya memilih menyibukkan diri

Sebagian lainnya berbalik haluan…mencari sumber rasa tenangnya yang lain

 

Yang lain….bukan di rumahnya

Bukan kepada istrinya

Bukan dengan pelukan dan tawa anak-anaknya

Bukan karena tak mau, tapi kadang ia melihat rumahnya begitu menyesakkan

Penuh sesak akan  peluh dan keluh

 

Menepinya tak lama,

Karena ia tetap harus berjalan

Kadang ia harus tetap berjalan meski tanpa penguat

Tanpa teman belajar

 

Langkahnya nampak tetap tegap,

Tapi tak sedikit para ayah yang melemah

Ia berjalan, tapi kehilangan visinya

Dan hanya menjadi pelaku rutinitas

Pagi sampai malamnya

Hanya peluh, hingga sampai jenuhnya

Perlahan…dan membuat kapalnya karam

 

MasyaAllah,

Fenomena ini banyak sekali terjadi,

Betapa banyak para Ayah yang kehilangan kesempatan belajarnya menjadi suami dan Ayah yang sejati

 

Bukan karena tak mampu

Bukan juga karena tak mau

Bisa jadi karena ia tak pernah benar-benar memiliki kesempatan belajar

 

Ia disibukkan oleh rutinitasnya

Oleh capaian di luar rumahnya

Ia pulang, tapi tak benar-benar pulang

Ia hanya singgah redakan lelah raganya

Tapi jiwanya tak berlabuh

 

masyaaAllah,

jangan biarkan itu terjadi, Ibu

Biarkan ia pulang, untuk sekedar kembali padamu

Engkaulah sumber rasa tenangnya

Engkaulah sumber energinya,

Biarkan ia pulang, dengan sebenar-benarnya rasa untuk berlabuh

 

Menikmati indahnya senyummu, teduhnya pandanganmu

Biarkan ia pulang dengan sebenar-benarnya rasa berpulang,

Melihat tawa anak-anak yang ringan

Bukan dengan keluhan akan keburukan mereka

 

Biarkan ia pulang dengan sebenar benarnya rasa berpulang

Berikan ia nyamannya pelukanmu

Bukan sekedar rapihnya rumahmu

 

Tata hati diantara banyaknya kesibukan dan bebanmu bu

Lapangkan sebagiannya untuk mendengar,

Agar kau bisa melihat betapa banyak bagian yang kau isi untuk membuatnya lebih kuat

 

Ada makna tersirat dari sebuah ayat yang sering kita hafalkan :

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqon: 74)

Bahwa sebuah rumah, haruslah menyejukkan

Ada keutamaan untuk saling menentramkan sebelum mendidik generasi

Saling menguatkan, bukan saling menyalahkan

Saling menyokong untuk bertumbuh, bukan mencari siapa yang lebih berjasa

 

Karena cinta, tak hanya sekedar bersama

 

Kualalumpur, 08 September 2017

 

#30DWC

#30DWCjilid8

#day12

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Security