Bermula dari Sebuah Kata Bernama Cinta (Bagian 1)

Bermula dari Sebuah Kata Bernama Cinta (Bagian 1)

(serial karir seorang ibu 0-6 tahun : Menumbuhkan fitrah keimanan bagian 1)

….suatu malam di masjid diantara jeda shalat tarawih, sebuah pemandangan mengejutkan saya. Dari jarak jauh saya melihat seorang makcik bertubuh besar menjewer kuping anak saya sambil terlihat mengecam dan menunjuk wajahnya.

Saya sontak kaget, sayangnya makcik itu pergi meninggalkan Azzam yang menangis sebelum saya sampai. Perasaan saya bercampur, malu-cemas-deg-degan (mengalami ya bu ibu, sensasi bawa balita diantara kerumunan jamaah shalat itu sesuatu banget).

Saat saya dekati azzam, wajahnya pucat, dia keliatan shock. Saat saya peluk dia baru menangis terisak, terihat sangat takut. Perlahan saya tanya apa yang terjadi, dan dgn polosnya dia bilang : “aku cuma mau ambil iqra itu bun…biar nunggu bunda aku gak bosen, akunya mau istirahat dulu tarawihnya..”

—– aah, saya paham maksudnya&percaya dia tidak sdg sengaja untuk berulah,saya mmg menyarankannya mencari kegiatan tadi, tapi apa yang salah dgn iqra? aah, perasaan saya mulai tidak karuan

setelah selesai shalat, di masjid disediakan jamuan untuk jamaaah, kami bisa mengambil makanan dan minuman yang disiapkan masjid sambil duduk santai. Biasanya ini jadi bagian yang paling dinanti sama anak-anak tiap tarawih, selain menunya enak, kita bisa ngobrol santai dan kadang bawa bs bekel buat sahur *emak-emak bgt

Berbeda dgn malam itu, Saya gak bisa santai karena ternyata makcik itu tepat ada di depan meja saya…dan terdengar dia meluapkan emosinya pada ibu-ibu di samping kanan kirinya sambil membicarakan azzam…(aaaarrrgh, wajah saya mulai keluar tanduk)

setelah diskusi kilat sama suami, dengan mengumpulkan keberanian kami menghampiri makcik yang sedang berapi api ngomongin azzam diantara para datin berkelas yang jelas beda kelasnya dgn kami yang mahasiswa.

wajahnya kaget dan kurang respek saat kami datang, kami mencoba mengklarifikasi apa yang terjadi, dengan dialog malay campur sari. Dan diantara dialog itu, bagian yang kami kagetkan adalah sebuah pernyataan:

“saya tak suka budak-budak siapapun, bermain-main dengan al qur’an (termasuk mksdnya adalah iqra), apalagi kalau dia bawa sambil berlari, macam mana kalau jatuh kitab itu? berdosa. Saya juga tak suka ada budak yang tak hadap kiblat saat waktu sembayang, macam tak diajar orang tua saja.”

deeeeg!!! seperti ditinju dada saya mendengar kalimat terakhirnya. “macam tak diajar orang tua saja” : seperti gak pernah diajarkan oleh orang tuanya saja.

saya tergugah dan merasa perlu klarifikasi, saya menyampaikan bahwa saya dan suami pun tengah mengajarnya untuk mencintai masjid, tapi mungkinkah instan? bukankah semua ada awalnya?

—- singkat cerita malam itu dialog kami “menggantung” dan menyisakan dahaga di kerongkongan, tapi lantunan ayat quran dari speaker masjid malam itu seolah menahan kami untuk berdebat dan mengakhiri pembicaraan dengan dengan santun,
“kami mencoba paham maksud makcik, tapi mohon untuk tidak untuk melakukan bentuk kekerasan pada anak saya untuk mengajarnya tertib, usianya masih 5 tahun dan kesempatan berlatihnya masih sangat panjang, cara yang makcik lakukan hanya akan membuatnya takut pada masjid,dan hanya akan menghasilkan anak yang enggan ibadah bahkan sebelum usianya dijatuhi kewajiban…”

——dan, dugaan kami benar.
beberapa malam setelah malam itu azzam nampak lebih takut ke masjid dan memilih shalat di rumah, “aku takut kalau aku nanti gak bisa tertib bun..aku shalat di rumah aja ya sama ade”

aaah, sedih mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Sebuah kalimat yang tidak seharusnya keluar dari lidah bocah kecil, yang seharusnya mendapat kesempatan berlatih mencintai masjid, dengan caranya.

Ya, tentu belum sama definisi tertib ibadahnya ala kita dengan anak-anak ini. Semua ada awalnya dan saya percaya itu dibangun dari cinta.

melihat wajahnya ceria ketika adzan berkumandang, melihatnya menikmati perjalanan ke masjid, bisa berlatih shalat meski hanya beberapa rakaat shalat isya dan ‘cukup’ bersabar menunggu kami selesai tarawih dgn tidak mengganggu jamaah yang shalat sudah lebih dari cukup untuk saya dan suami.

Tapi sayangnya, definisi itu belum sama. Dan sepertinya saya gak sendiri, hihi. Banyak barisan ibu-ibu muda yang mengalami dilemanya membawa anak ke masjid…dan ujung-ujungnya kita jadi memilih shalat di rumah daripada ngambil resiko dipelototin jamaah. Sampai di rumah shalatnya tenang gak mom? enggak juga yaah, banyaknya jadi lebih gak concern krn pakpikpek urusan rumah *emak-emak

hal ini membuat saya tergugah, jika memulainya saja penuh rasa takut, bagaimana cinta itu bisa tumbuh? bukankah golden age untuk membangun fitrah keimanan itu ada pada usia di bawah 6 tahun?

—— saya jadi teringat kisah Rasul yang pernah menegur dengan keras seorang ibu yang menarik bayinya dengan keras karena pipis di pangkuan Rasul.

mengapa Rasul menegur ibu tersebut? apa karena ibu itu lalai membiarkan bayi itu pipis di pangkuan Rasul?
sama sekali tidak. Rasul marah dan menegur ibu itu karena ia menarik bayinya dengan kasar. Lalu beliau berkata :
“wahai ibu, air kencing (pipis) ini bisa dibersihkan, namun perbuatan ibu menarik bayi ini dengan keras akan diingat sepanjang hayatnya….”

—– aaah, masyaAllah ucapannya syarat makna. Ada keutamaan untuk menjaga keindahan fitrah yang memang sudah terberi dan terinstal pada anak-anak itu untuk mencintai agamanya, jauh sebelum kita mengajarnya tentang syariat dan adab. Bahwa perlakuan yang kasar dari orang dewasa, apalagi orang tua kepada anak akan membentuk imaji negatif dan menimbulkan luka yang membekas. Di riwayat lainnya kita Rasul juga memberi contoh yang bagaimana cara berinteraksi dengan anak-anak dalam konteks ibadah.

Rasulullah SAW membiarkan cucunya bermain kuda-kudaan ketika beliau sedang sujud hingga kedua cucunya puas, bukan memarahinya, bukan memaksa untuk mengajarnya shalat tertib. Rasul dgn bijak memahami bagi anak-anak gerakan shalat diimajinasikan sebagai permainan, dan itu alamiah.

lihatlah juga bagaimana Rasul meminta imam shalat memendekkan bacaan qur’an saat ada anak-anak pada shaf makmumnya..

apa maknanya?
pesannya sama, beliau mengajarkan kita untuk membangun imajinasi positif anak-anak tentang kehidupannya, tentang agamanya, tentang ibadah..agar fitrah keimanan dalam hatinya terlindung dan terpelihara. Agar cinta itu tumbuh, tidak koyak sebelum waktunya.

apa itu fitrah keimanan?

Fitrah keimanan adalah satu dari 8 aspek fitrah fundamental yang ada pada diri anak. Ia punya andil paling besar dalam membentuk karakter dan akhlaqul karimah, ia bertugas mengarahkan diri anak-anak kita nantinya tetap pada purpose of life. Sederhananya, ia seperti ‘navigator’ atau program auto pilot suatu pesawat.

kalau ustadz faudzil adhim menyebut dalam bukunya dengan istilah “segenggam iman untuk anak-anak kita”, yang akan menjadi warisan utama yang perlu kita siapkan sebelum yang lainnya, sebuah warisan yang akan memastikan anak-anak kita kelak tetap beribadah dan mencintai Rabbnya, meski kitanya telah tiada. Bukankah kita tidak selamanya ada untuknya mam?

ada saatnya nanti dia semakin besar, punya dunianya sendiri yang tidak selalu bisa kita masuki selapang saat ia masih anak-anak. Kita tidak selalu bisa membangunkannya shalat, mengajarnya al qur’an dan hal-hal lainnya. Ia perlu navigatornya sendiri mam, dan itu dibentuknya sebelum usia 6 tahun.

Banyak realita remaja kita yang kehilangan arah, jadi alay dan salah berkiblat. Terbolak balik konsep halal-haram, baik-benar. Yang benar dianggap aneh&asing, yang maksiat justru makin dicari dan jadi trendy, aah jangan sampai ya. Karenanya, berpeluhnya justru saat ini mam, saat sebelum usianya baligh. kita mungkin sering melihat realita betapa susahnya menggugah adek2 kita untuk sekedar mau shalat saat usianya sdh terlanjur besar *pengalaman susahnya bangunin shalat adek bujang,mulai dr alarm,pura2 ada tlpn dr ibu sampai guyur air  😀

dan,insyaallah gak akan sesulit itu jika sebelum usia 6 th fitrahnya tumbuh dengan baik, sebenarnya,setiap anak yang lahir telah terinstall potensi fitrah keimanan, jadi sebenarnya tidak ada anak yang tidak mencintai Tuhan dan kebaikan, kecuali jika disimpangkan oleh pendidikan/pengasuhan yang tidak tepat.

tidak tepat?

ya, termasuk salah satu di dalamnya ialah ketika kita memberikan pembebanan pada anak-anak kita “tidak pada tempatnya”. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya betapa pentingnya menempatkan anak pada tempatnya.

perlakuan kasar makcik dalam cerita saya di atas adalah salah satu contohnya (i’m sorry to say ya makcik…),juga termasuk saat kita mendahulukan mengajarnya adab&syariat sebelum menanamkan cinta: terburu buru menertibkan gerakan shalat&memarahinya jika tdk shalat,terburu buru memberikan target hafalan sebelum dia siap,menakuti tntg azab dan neraka..jg termasuk saat kita memintanya udh “beradab&berakhlaq” ala kita yg sudah dewasa..*tepuk pipi sendiri yg kadang krg sabar tapi meminta bocil untuk sabar &menahan dirinya  😀

kenapa krg tepat?
krn secara sosial ‘children not morally responsible until 7’

Secara tanggung jawab agamanya, usia 0-6 tahun bukanlah usia untuk diberi beban. Masa ini adalah masa pra latih, untuknya mengenali fitrah yang sebenarnya sudah terinstall, “siapakah Tuhanku, siapa pelindungku, siapa penjamin rezekiku..siapa panutanku, dll..” setelah kenal, tahap selanjutnya ialah membangkitkan gairah cintanya.

karenanya,2 hal yang perlu dibangun pada usia 0-6 thn ialah :
1.atmosfer kesalehan
2.role model (keteladanan)

jadi memang tidak ada tuntutan atau pembebanan sebelum usianya 7 tahun. Tugas kita hanya memastikan cinta pada keimanan itu tumbuh, karena mereka sudah datang dengan cinta Allah,itulah yg Allah tanamkan di hati mereka,maka periharalah cinta itu dengan sebaik baik atmosfer keshalehan kedua orang tua & keteladanan.

ajari dgn penuh kasih sayang, sesuaikan dengan usianya. Tunjukkan pada mereka cinta dan kasih sayang Allah lewat banyak bentuknya. Jangan gambarkan agama dengan mengerikan, berhenti menuntut karena di usianya saat ini mereka tidak bertanggung jawab terhadap kesalahan mereka.

karena pada masa ini,masih sepenuhnya tanggung jawab kita. maka mari mulailah dengan cinta mom,karena dari sana segalanya bermula.

biarkan fitrah iman itu tumbuh cantik dan subur,hingga pada saat mereka pada usia matang & siap diberi beban…insyaAllah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *