Bermula dari Sebuah Kata Bernama Cinta (bagian 2)

Bermula dari Sebuah Kata Bernama Cinta (bagian 2)

Serial karir seorang ibu 0-6 th : Membangun Fitrah Keimanan

Di tulisan saya yang sebelumnya, kita banyak berdiskusi bagaimana perlakuan kasar dari orang tua memiliki efek negatif yang begitu besar, kita menyebutnya ‘luka persepsi’ yang membekas dan bukan tidak mungkin ditiru.

Alhamdulillah banyak sekali chat maupun komen dari pembaca&teman-teman dekat yang membuat saya juga semakin merenung panjang,

“sudah berapa banyak luka yang sengaja atau tidak sengaja tergoreskan di hati anak-anak kita?”

Yah, kisah makcik adalah salah satunya. Mungkin dalam prakteknya tanpa sadar kita pun sering menjadi ‘satpam’ untuk mereka, alih-alih ingin membuat mereka disiplin, ingin mereka menjadi orang baik tapi kalimat, sikap dan kita gunakan tidak tepat. Atau lebih dalamnya lagi, bisa jadi tuntutan kita pada mereka lah yang belum pada tempatnya, seperti yang saya share di tulisan sebelumnya.

Aah, sedih ya kalau diingat ingat. Apa yang sekarang mereka persepsikan mengenai dirinya, lingkungannya dan bagaimana cara mereka bersikap sebagian besarnya adalah “investasi” dari apa yang kita tanam.

Jadi teringat di suatu sore, saya pernah dikagetkan oleh suara azzam yang tinggi pada adiknya,

“iiiih….bisa diam gak de alma, kenapa nangis terus sih?aku jadi pusing dengernya”
(dan adeknya tambah nangis lebih kenceng sangat ‘stereo’ dan biasanya lama berhentinya).

Lalu saya datang, mencoba mengamankan dan memadamkan emosi *emak-emak pemadam kebakaran*

Saya Tanya,
“kenapa ade nangis, ada apa ini?”
(lalu keduanya saling mengadu, kata adeknya karena kakaknya, kata kakaknya adenya yang salah—as always ya bu ibu selalu saling tunjuk 
yang kalau diterjemahkan kondisi TKP saat itu adalah: si ade ingin ikut mas nya mewarnai tapi mas nya merasa terganggu dan menarik kertasnya. Ade kaget, nangis dan masnya marah, ade tambah nangis kenceng)

Setelah dialog yang rada panjang sambil inhale exhale, saya mencoba mengkoreksi cara azzam saat marah (karena saya dengar langsung nadanya tinggi tadi). Saya jelaskan bagaimana ia bisa memilih sikap yang lebih baik pada adeknya, tidak perlu pakai nada yang tinggi, dll…

Dan, saya kaget dengan jawabannya,

“aku juga pernah liat bunda begitu sikapnya sama aku. Bunda langsung narik hp bunda pas aku pengen liat cara buat lego, katanya bunda lagi ada urusan orang dewasa dan aku disuruh pergi dulu, aku juga sedih waktu itu sama bunda. ”

Deeeg!!! Aaah, iya!saya pernah melakukannya.Dan mungkin bukan cuma sekali dua kali *ngaku

wajah saya ikutan merah meski gak ikutan nangis kayak de alma, saya malu tapi saya tau bukan saatnya membela diri.

dengan berat hati saya bilang :
“oh ya azzam? kalau begitu, itu adalah sikap yang salah. Bunda salah waktu itu dan minta maaf ya. Kita sama-sama belajar ya, pakai cara yang lebih baik…karena sama seperti perasaan azzam saat itu, ade juga sedih dan karena itu dia menangis, malah lebih mengganggu kan? mungkin kalau caranya lebih baik, kalian bisa sama-sama mewarnai dengan lebih menyenangkan ”

aaah, berat rasanya mengeluarkan kalimat “maaf” itu pada seorang bocah kecil, yang tentunya “otoritas” kita lebih tinggi darinya. Kita ibunya, punya hak dong menertibkan sikap-sikap mana yang boleh dan tidak boleh,toh memang alasan kita saat itu benar kok, ada “urusan orang dewasa”
tapi apa iya harus begitu?
—–
apa iya mereka paham arti “urusan orang dewasa” itu apa?sepenting apa sampai tidak bisa diinterupsi? sepenting apa sampai kita harus bersikap kasar? apa cara begitu cukup membuatnya sabar dan mengerti?

sepertinya tidak,
karena ternyata, mereka belum cukup pandai menangkap konten “apa”, mereka lebih cepat menangkap “kesan” tentang sikap yang kita berikan dan itu dipakainya untuk membangun konsep “seperti ini caraku menyelesaikan masalah kalau aku merasa terganggu”

itukah goal yang ingin kita ajarkan?

aaah, tentunya bukan
Kita tentunya tidak ingin anak kita mengembangkan cara-cara kasar untuk sekedar membuat dirinya nyaman sendiri. Mereka sangat punya kesempatan untuk “memilih” cara yang lebih baik,

tapi siapa yang akan memberikan pilihan-pilihan baik itu, mungkinkah mereka akan paham sendiri tanpa kita contohkan?

Ya, jawabannya kembali lagi pada kita, sebagai orang tuanya, mereka belajar dari keteladanan mom, dan itu ia rekam dari interaksi kita kepada mereka.

aaah, masyaallah.

Pada akhirnya memang kadang kita tidak perlu malu untuk mengaku salah.

sebagai ibu kita ini manusia biasa, ada kalanya khilaf, ada kalanya capek, ada kalanya jenuh, pengen sendiri dan gak ingin diganggu.Sementara titel sebagai ibu bukanlah titel yang bisa dicopot pasang.

Allah menguji kesungguhan kita sebagai ibu dengan banyak bentuknya ya…

Kadang, bisa jadi malah seringnya kita “tergoda” mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah. Kita meminta anak-anak diam, memintanya mengerti, memintanya memahami kita tanpa melihat apa sebenarnya yang ia maksudkan. Dan, kembali terjebak memakai sudut pandang kita sebagai orang dewasa. Lalu kita marah, terjebak emosi….

Dan ternyata, itu disimak. Dikopi dan…dipraktekkan *kaca mana kaca

Kadang malu rasanya, inilah mungkin alasan kenapa menjadi orang tua itu kita dapat bonus ‘training’ untuk dipaksa belajar sabar dan jadi lebih baik setiap saatnya.

Inilah mengapa kita harus sangat pandai menjaga interaksi kita dengan anak-anak, khususnya sebelum usianya 6 tahun. Karena pada masa ini perkembangan imajinasi mereka berlangsung sangat pesat, dan secara konsep berada pada puncaknya. Alam bawah sadar mereka terbuka lebar, belum berbatas seperti kita yang orang dewasa. Di sinilah mereka mulai mengembangkan persepsi positif/negatif tentang orang tuanya.

Bila kita hubungkan dengan konsep fitrah. Pada masa ini, sikap orang tua adalah representasi dari keberadaan Rabb nya, mereka yang dalam hatinya sudah terinstall fitrah keimanan, belum memiliki kemampuan seperti kita yang sudah dewasa untuk memahami apa, siapa dan bagaimana Rabb itu, Rabb sebagai pencipta, pemelihara, sebagai pemberi rizki. Dan mereka mengembangkan imajinasi itu melalui gambaran sikap kedua orang tuanya.

inilah juga yang menjadi alasan mengapa tanggung jawab pendidikan agama adalah salah satu tugas yang tidak bisa didelegasikan kepada orang lain. Sepenuhnya, tanggung jawab itu ada pada kita, sebagai orang tuanya dan itu dibangun sebelum usianya 6 tahun.

Karenanya, untuk merawat fitrah baik pada
anak-anak kita ada 2 hal yang perlu kita jaga betul :
1. atmosfer keshalihan
2. role model (keteladanan)

Pertama adalah atmosfer keshalihan. Kenapa disebut atmosfer?
ya, karena untuk mereka bisa merasakan dan terbiasa menjadi shalih, tidak cukup dengan sekedar kata-kata harus begini begitu.

Tidak cukup juga dengan mengajarkan mereka adab dan syariat atau memasukkan mereka ke dalam sekolah agama. Mereka perlu terlibat, masuk dan merasakan indahnya keshalihan yang mereka lihat dari kedua orang tuanya.
mereka perlu melihat bahwa atmosfer kebaikan itu begitu dekat, bahwa cinta, keridhaan di rumah itu begitu membuat nyaman.

Pada usia ini, kecintaan kepada agama perlu didahulukan sebelum mereka mempelajari agama. Mereka perlu memahami bahwa agama itu indah, dari mana mereka melihat?
lagi-lagi dari atmosfer keshalihan yang diciptakan oleh kedua orang tuanya melalui interaksi yang dibangun di dalam rumah.

ayah berinteraksi baik dengan ibu, begitu juga sebaliknya. Ibu-Ayah menjalin hubungan yang baik dengan anak-anak, Tidak ada nada tinggi, tidak ada yang marah-marah, semuanya berusaha untuk bersikap baik.

“berusaha” untuk bersikap baik. Kalimat itu yang sy coba tanamkan di keluarga, termasuk pada azzam. Karena untuk konsisten bersikap baik tentunya ada banyak godaan, dan kita kadang ada khilafnya *banyak malah.

Tapi kalau kita “berusaha”, maka akan ada selalu peluang memperbaiki setiap harinya, kalau kita salah, minta maaflah, saling mengkoreksi satu sama lain dan saling membantu untuk bersikap lebih baik.

yang kedua, adalah role model (keteladanan)
Ya, keteladanan. Dan ini dibangun dari hal kecil yang sangat sederhana seperti mimik wajah kita saat mendengar adzan, sikap kita kepada qur’an, dll.
coba kita ingat mom, apa reaksi kita saat mendengar adzan. ” ceria kah, bersyukurkah? bersegera mengambil wudhu kah?

ataaau…justru kaget dan mengatakan
“yaah..kok udh adzan lagi?” dan mengulur waktu shalat sampai merasa pekerjaan kita selesai.

semuanya itu direkam mam, dan ini berlaku untuk banyak hal lainnya. Mereka belum dibebani syariat untuk melakukan ini-itu, kitalah yang bertanggung jawab dan yang sudah dibebani syariat. Dan, cara kita “menjalankan” ibadah, menjadi contoh bagi mereka dan untuk mereka mengembangkan konsep bagaimana iman itu direfleksikan…(beuraaaat yaaah)

terdengar berat tapi tentunya ini bukan untuk menjadi beban, karena yang mereka rasakan adalah atmosfernya, mereka tidak perlu tau berapa banyak hadist yang kita hafal, berapa buku yang kita baca, berapa banyak hafalan kita…yang mereka lihat adalah bagaimana kita memperlihatkan kecintaan itu lewat interaksi dengan mereka. Lewat wajah yang ceria ketika mendengar adzan, lewat semangat yang terpancar saat kita mengaji, lewat nasehat-nasehat yang lembut, dan lain sebagainya..

keteladanan itu perlu dibangun dan dikuatkan juga lewat banyak kisah yang menggugah semangat kebaikan dan keshalihan, seperti bagaimana mulianya akhlaq rasullullah, para sahabat dll.
Hindari menggunakan kata-kata yang mengancam atau memberi kisah yang mengerikan tentang adzab, neraka. Sebaliknya, mulailah dari cerita mengenai keindahan syurga.

bangun dan kenalkan Allah dalam berbagi momentumnya, ciptakan “dialog iman” yang menggugah sisi fitrah mereka, lalu sesuaikan dengan usia.
Ubah kalimat :
“mamah gak suka kalau kakak…., awas ya kalau gak nurut, nanti durhaka…”
menjadi
“Allah dan Rasul sayang sekali jika kakak melakukan….”
“Rasul mengajarkan kita untuk….”
“Allah sangat sayang sama kita, ….”
sampaikan&kuatkan pada mereka bahwa “kita ingin berkumpul bersama di syurgaNya”

mungkin terkesan kikuk di awal dan tentunya tidak se praktis kita bicara dengan teknik “shortcut” : “pokoknya harus gini”

tapi sulit bukan berarti tidak bisa. Karena memang kita sedang menyiapkan pondasi kan, bukan sekedar menjadi satpam atau tim disipliner. Kita ingin mereka tau, the purpose of life, bukan hanya karena mereka nurut sesaat hanya karena takut dengan Ayah Bundanya.

karena fitrah itu sebenarnya sudah terinstall, kita hanya bertugas untuk membuatnya tetap hidup, tetap cantik dan subur.

saya memetik salah satu puisi neno warisman dalam buku Fitrah Based Education,

Ya Allah, mampukan kami menumbuhkan pohon cinta itu,
mampukan kami untuk memulainya, dengan menerima diri mereka apa adanya,
mampukan kami untuk mengisi masa kecil mereka dengan kenangan baik, bukan dengan rekaman kemarahan demi kemarahan,
agar cinta itu dapat tumbuh dengan indah, se indah indahnya dan menjadi pondasinya di masa akhil baligh nanti,
Mampukan ya Allah, kingga kami bisa mewariskan keindahan iman itu, saat kami telah tak bersamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Security