Catatan Kecil Mengenai LGBT

Catatan Kecil Mengenai LGBT

(dalam sudut pandang psikolog dan psikiater)

>sharing resume bahasan LGBT dr perspektif psikologi&psikiatri)

-dr.Fidiansyah (psikiater)
dalam WHO&kajian psikiatri,definisi sehat harus ditinjau dr byk perspektif,disebut “sakit” jika terjadi disfungsi dari satu atau lbh aspek2 : fisik,psikologi,sosial emosi, budaya dan jg spiritual

Dalam konteks ini,LGBT cenderung dpt disebut sbg penyakit/masalah dikarenakan adanya 1 atau lbh dr disfungsi pd aspek2 di atas.
Dalam konteks ini,makna penyakit/ gangguan artinya dpt disembuhkan,dpt menular melalui contoh perilaku (modelling),cara berpikir dan perlu mndpt bantuan profesional (helping profession).

Catt : dlm konteks ini sbnrnya sgtlah jelas bhw propaganda dlm bntk apapun tntg LGBT tdk dibolehkan,terutama jika dikonsumi oleh anak2 dibwh umur

– Meski di buku saku PPDGJ III(Panduan Penegakan Diagnosis Gangguan Jiwa) tdk lg disebutkan sbg penyimpangan(ini digunakan oleh komunitas LGBT sbg acuan), dalam text book asli sbg dasar buku saku PPDGJ (perlu peneleaahan kmbli detail axis di DSM-Diagnostic&Statistic Manual of Mental Disorder) msh disebut sbg gangguan/penyakit–sumber : dr.Fidiansyah(psikiater)

Sejalan dgn point sblmnya,bhw mrk perlu mendapat bantuan profesional.

Masih memerlukan pendalaman penelitian yg mendalam mengenai struktur otak LGBT dan normal oleh para neuroscience,tp mengerucut bhw sebagian bsr sebab LGBT ialah faktor lingkungan.
LGBT tdk terjadi tiba2,tetapi krn adany sebuah proses pembentukkan.Sekalipun terjadi periode krisis identitas gender,potensi untk diarahkan/disembuhkan msh ada.Selama mndpt bantuan profesional yg tepat,mengarah pd keberfungsian aspek baik bio-psiko-sosial dan spiritual

Psikologi dan Upaya Preventif
-faktor2 lingkungan yg bs jd penyebab(sekaligus sbg hal yg perlu diantisipasi oleh kita sbg org tua)–ibu ely risman,Psi

1.parents (kualitas kelekatan kita dg anak,terpenuhi/tdknya
Figur ayah dan ibu)

2.peer (cek kualitas lingkungan anak2 kita,saring dan batasi penggunaan gadget dan medsos,sasaran tembak pornografi dan LGBT byknya pd anak di bwh usia 8 thn yg blm baligh–shg synap di otak blm/baru tersambung sempurna–>cenderung lbh mudah menerima info tanpa menyaring dgn tepat

3.pemahaman agama (tdk blh di “sub kontrak kan” pd org lain/tdk bs didelegasikan,bkn hny knowledge..tp jg jd value yg dipahamkan dgn baik dan dikuatkan dgn teladan)

  1. Spesial peran ayah di dlm rmh,ayah hrs aktif mengambil peran dan membersamai pengasuhan anak.Penanaman mengenai arti dan peran laki-laki&perempuan jd pembekalan yg pntg

5.penanaman pola berpikir(tdk bs dihasilkan dr pola asuh yg terburu2,biasakan dialog dan ajarkan anak coping problem yg tepat)

Kesimpulan akhir sbnrnya mengerucut bhw LGBT sbg pelaku–posisinya sbg klien,yg perlu dibnt dan bs disembuhkan dgn berbagai bantuan baik medis maupun psikologis mll modifikasi perilaku maupun konseling.
sejalan dgn pernyataan sikap dr Ikatan Psikolog Klinis,mrk hrs terbuka jg menerima bantuan profesi.
Sbg sesama manusia,mrk perlu mndpt hak perlindungan&bantuan(tdk dibolehkan ada diskriminasi atau perilaku yg mengarah pd bullying)

Yg perlu kita perhatikan(dan kita tolak/kontra) ialah bntk Propaganda LGBT yg sebagiannya mengarah pd pornografi yg ditujukan pd anak/remaja indonesia dgn mksd menambah jumlah komunitas LGBT/lbh jauhnya lg untk misi menghalalkan pd Undang2 pernikahan sesama jenis

Tmn2 LGBT perlu menahan diri(bukan mendiskriminasi)untk tdk melakukan upaya propaganda dlm bntk apapun dan lbh baiknya lg aktif mencari bantuan profesional untk mencapai keberfungsian psikologis yg lbh optimal

Sbg catatan,tulisan ini tdk dimaksudkan untk mendebatkan sudut pandang lain yg mgkn bs jd berbeda.Dirangkum&dimaknakan dlm sudut pandang pribadi sy sbg psikolog memandang hal ini.Tentunya diperlukan lbh byk informasi&riset ilmiah sbg dasar.Smg bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Security