Karena Cinta Tak Hanya Sekedar Bersama

Karena Cinta Tak Hanya Sekedar Bersama

(maturity dan kematangan peran – part 1)

kembali menulis lagi setelah lebih dari 1 bulan bersemedi untuk memantapkan perjalanan selanjutnya di kuala lumpur. Dan, dgn izinNya keputusan ini saya ambil. Tulisan ini adalah refleksi dari berbagai nasehat pernikahan dari orang2 hebat yg saya temui, yg bukan saja memantapkan hati, tapi mengajarkan saya sebuah makna tentang kedewasaan dalam pernikahan.

-karena cinta tak sekedar bersama-
kedewasaan pernikahan ialah ketika kita tidak hanya berkata dan bermimpi besar tntg apa yg ingin dicapai pada pernikahan, pada suami dan anak-anak kita. Karena jika sekedar bicara, semua org bisa melakukannya. Karena jika sekedar mimpi, kita bs lantang mengucapkannya.

kedewasaan pernikahan ialah justru ketika kita memahami hal yang mendasar, memahami fitrah dari peran dan tujuan pernikahan itu sendiri, dan berupaya setia untuk bersabar mengaplikasikannya.

setia untuk bersabar?mengapa?

ya, karena banyaknya kita tidak setia pada mimpi dan cita-cita sendiri, seringnya kita tidak sabar dengan apa yang kita inginkan. Kita lebih siap bermimpi, tapi kadang tidak siap mengambil konsekuensi.

contoh sederhana, kita bercita-cita untuk bisa sakinah, kita ingin pasangan kita menjadi imam yg shaleh. Tapi seberapa setia kita juga untuk mau membina diri untuk menjadi istri yg shalehah?seberapa setia kita memegang janji untuk tidak bersikap emosional dalam menghadapi masalah&perbedaan?

kita ingin anak-anak kita pandai, baik akhlaqnya dan respect pada kedua org tuanya. Tapi seberapa sabar kita mendampingi prosesnya, seberapa sabar kita menghandle keluhannya, jeritannya, tangisannya dalam proses kita mendidiknya. Bukankah lagi-lagi itu perlu kesetiaan dan kesabaran?

di titik ini saya semakin paham bahwa cinta tak sekedar lisan, tak sekedar persoalan bersama. Di dalamnya ada konsekuensi yg harus dijalani.

dan persoalan meminta, itu ada tanggungjawabnya.

tulisan ini ditulis sbg refleksi diri. Karena saya yakin, kita semua memiliki cita-cita mulia tentang cinta dan pernikahan pada awalnya, meski pada realisasinya ternyata tidak semudah dan seindah yang dibayangkan.

saya pernah berjumpa dg klien yg sudah hmpr 15 thn berumah tangga, tapi saat ditanya : apakah ibu/bapak bahagia dgn pernikahan ini?
jawabannya tidak.

pernah juga saya berjumpa dgn pasangan yang usia pernikahannya blm genap 2 tahun, saat saya menanyakan hal yg sama, jawabannya pun “tidak”.

“dia bukan pria yg saya harapkan”
“ini bukanlah pernikahan yang saya cita-citakan..”
“dia bukan sosok istri yang saya inginkan, saya tidak sanggup lagi mempertahankannya..”

——– dan banyak sekali negatif statement yg sering saya dengar dalam proses konseling. Bahkan tidak jarang saya menjumpai pasangan yg menjalani pernikahan tanpa cinta&kedewasaan peran. Uniknya, bahasannya selalu tentang “dia”. Tentang istrinya, tentang pasangannya…jarang yang memiliki kesadaran untuk mengidentifikasi masalah mulai dari dirinya sendiri.

ada yang tangguh untuk tetap berupaya menjaga rumah tangga meski menemui banyak hal yang tidak sesuai harapan, tapi tidak sedikit yang mundur. Mundur scr nyata dan mengakhiri ikatan pernikahan dgn sgl konsekuensi, maupun yang mundur perlahan dan melepaskan satu demi satu harapan pernikahan dan menjalani pernikahan tanpa komitmen dan cinta yg kuat di dalamnya, tanpa sadar keduanya sudah tidak saling memiliki harapan, tidak lagi saling bergantung..

tulisan ini tentunya tidak bermaksud menjustifikasi, karena masing-masing kita memiliki tantangan&ujiannya tersendiri. Tulisan ini menjadi sebuah refleksi, bahwa nyatanya kita perlu memahami hal yang sangat mendasar dari sebuah pernikahan : KEDEWASAAN PERAN, sebuah hal kecil tapi mendasari cita-cita besar tentang pernikahan.

dalam istilah psikologi, kedewasaan peran ini menjadi satu dari sekian banyak tugas perkembangan yg harus dicapai saat memasuki usia dewasa dini (rata-rata usia 21 th) — dengan bbrp tugas perkembangan di masa remaja yg tentunya hrs juga sudah tuntas sblmnya : memiliki konsep diri yg positif : mulai dari menerima keadaan fisik, adaptif secara sosial sampai memiliki kemandirian emosional dgn org dewasa lain, dll (insyaallah akn dibahas lbh detil di tulisan lain tntg remaja). Mengapa begitu banyak?

ya, karena rata-rata setelah usia 21-25 thn tugas perkembangan kita selanjutnya adalah “intimacy” : how to intimate with other, untuk membangun keluarga. Untuk bs mematangkan peran dan mencapai stabilitas emosi sbg bekal untuk usia selanjutnya. Jika sebagai pribadi kita masih “balatak” dan belum matang, bisa dibayangkan bgmn kualitas relationship yang dibangun dg pasangan nantinya.

“karena kematangan akan bertemu dengan kematangan ”
karena setelah bertemu dg jodoh yg kita “minta” dalam do’a2 kita, proses selanjutnya ialah membangun kedewasaan pernikahan.

karena persoalan cinta, bukan sekedar bersama.

” Intimacy” lebih banyak diartikan awam sbg kebutuhan untuk hidup bersama dgn org yg dicintai. Karenanya kegalauan akn melanda saat kita blm bertemu jodoh, dan muncul pertanyaan : kapan menikah” saat usia kita memasuki usia dewasa dini. Tapi, hanya sependek itukah maknanya?apakah persoalan akan selesai ketika kita bertemu jodoh dan menikah?

nyatanya tidak,
tidak sedikit klien laki-laki yg sy kenal justru mengatakan menyesal menikah, merasa salah memilih, merasa masih ingin berkelana..

dan, tidak sedikit pula para wanita yg merasa hidup dan cita-cita serasa berhenti setelah menikah, merasa terkekang, merasa tidak se bahagia dulu, dll

hal-hal spt ini akan banyak ditemui, jika kita tidak memiliki konsep yg cukup matang tentang peran laki-laki dan perempuan, dan tidak tuntas mengambil konsekuensi dari sebuah pernikahan. Kita kadang sibuk dgn mimpi besar, dengan tuntunan besar pada pasangan, namun kurang mengimbanginya dengan kedewasaan.

apa dan bagaimana membangun kedewasaan pernikahan?
yang menulis tidak lebih dewasa dari yang membaca, tapi smg bbrp refleksi ini bisa bermanfaat untuk menemani proses belajar kita.

(1) membangun kesadaran peran, laki-laki dan perempuan
dalam banyak kajian parenting, saat ini sudah semakin banyak dibahas tentang pentingnya membangun konsep peran pada anak2, mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan dan bagaimana mereka akan mengisi peran itu ketika dewasa nanti. Bahkan ibu Elly Risman menyampaikan, tugas besar kita sbg org tua salah satunya adalah mempersiapkan mereka menjadi suami/sitri yang baik untuk pasangannya nanti. Mengapa jadi penting?

kita diingatkan dgn fenomena “darurat” pornografi, darurat LGBT, darurat kekerasan seksual yang jika dirunut salah satu faktor internalnya ialah minimnya konsep yg dimiliki anak-anak tntg dirinya sendiri. Budaya pengasuhan yg serba sibuk banyak menghilangkan kesempatan untuk anak-anak kita belajar dgn utuh, “siapa saya”
bagaimana ibu sbg representasi figur perempuan dan bagaimana Ayah sbg sosok kepala keluarga yg mengambil tanggungjawab –khwtr tll panjang, insyaallah kita bahas di tulisan terpisah ya.

bagaimana dg kesadaran peran pada kita yg sudah dewasa?bukankah prosesnya sudah terlanjur terlewat?

ya, tidak bisa dipungkiri kita adalah juga produk pengasuhan dari kedua org tua kita. Konsep yg kita bangun tntg suami,istri dan pernikahan sebagian besar bersumber dari apa yg kita pelajari dari pengasuhan kita.

seorang suami yg dibesarkan oleh ibu yang sgt pengasih&pengabdi pd klrg mungkin akan lebih berat hati melihat istri banyak bekerja di luar rumah. Istri yang dibesarkan oleh Ayah yg family man dan penyayang tentunya akan lebih gampang menangis saat melihat suaminya cuek dan krg inisiatif. Dan, disadari atau tidak. Pada point pertama ini, kesolidan pernikahan kita diuji.

adakah model pastinya?
saya rasa tidak, karena saya yakin setiap keluarga akan punya pola dan penyesuaiannya.. Tapi yg bs digaris bawahi, adalah soal seberapa paham kita tntg peran kita.

Islam dengan jelas mengajarkan kita konsep mengenai ini. Bahwa ada tugas dan kewajiban yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Laki-laki dipersiapkan menjadi pemimpin, penanggung jawab keluarga, ia akan dimintai tanggungjawab mengenai istri dan anak-anaknya. Tugas besar para suami ialah membina istri dan anak-anaknya, mengindarkan mereka dari api neraka dan menghantarnya ke syurga. Bukan sekedar membelikannya rumah mewah dan isinya.

Dengan tugas besar ini, para suami dan Ayah haruslah jd sosok yg kuat, mereka hrs memiliki kemandirian, keberanian, kemampuan bertanggungjawab dan memiliki konsep yg sangat jelas mengenai visi misi pernikahan.

tentunya hal ini bukanlah hal yg instan, mereka laki-laki perlu teman belajar, mereka perlu kesempatan untuk mengaktualkan diri dengan perannya, mereka perlu mengasah sisi kepemimpinan itu.

apa yang bisa kita bantu?
sebagai istri tentunya kita perlu memberinya ruang yang besar. Saya menyebutnya “panggung”. Sedapat mungkin, hindari dominasi yang tidak perlu. Dalam banyak hal, bisa jd kita perlu menahan diri untuk tidak terlalu banyak mengambil andil pada peran yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya, meski bisa jadi kita mampu melakukannya lebih baik. Konsep ini tentunya bukan berarti wanita menjadi tidak terkukung, tapi saya belajar dari berbagai kasus konseling dari sudut pandang laki-laki : bahwa perlu seni dan keterampilan tersendiri dari kita kaum wanita untuk membantu jiwa kepemimpinan itu tumbuh. Karena nyatanya, tidak banyak pria yg langsung “matang” sisi kepemimpinannya setelah menikah kan?terlebih jika pada pengasuhan sebelumnya ia kurang mendapatkan kesempatan untuk belajar dan punya role model. Jika kita tidak memberinya kesempatan belajar, kapan dia akan bljr?

Mari kita ciptakan frekuensi komunikasi yang nyaman untk pasangan kita berkembang. Hindari banyak tuntutan dan negative statement yg berlebihan, apresiasi proses belajarnya…meski kadang kita perlu sedikit “mundur” dan ngawahan, untuknya terbang lebih tinggi mengambil peran yg lebih banyak.

next, peran sbg istri
Islam juga tidak kalah jelas mengatur peran dan kewajiban sebagai wanita, akan perannya sebagai istri dan ibu. Bahkan dalam kajian ayat qur’an dan hadist dijelaskan dengan sangat detil.
menariknya, sepanjang saya membaca berbagai literatur dan meminta banyak nasehat mengenai peran sbg wanita, semakin saya menemukan kesederhanaan, bahwa Islam menempatkan posisi wanita sangat mulia. Islam tidak membebani wanita untuk mencari nafkah atau bertanggungjawab pada keluarganya (kecuali jika ada kondisi lain dimana suami tidak lg memiliki kemampuan). Islam juga tidak menuntut wanita untuk bisa jadi keren menampilkan diri punya ini dan itu, Islam mengajarkan konsep bahwa sebaik-baik wanita ialah yg bisa menjadi pendamping hidup yang baik : pemberi ketenangan, menjadi penyejuk bagi suami dan bersama-sama suami mendidik anak agar menjadi generasi yg shaleh.
“menyejukkan hati jika dipandang, yang menenangkan jika ditinggal (menjaga kehormatan dan harta suami) dan menjadi madrasatul ula/madrasah pertama bagi anak-anaknya…”

….terdengar sederhana. Dan mungkin “jauh” dari list mimpi-mimpi kita yang besar : punya ini-itu, mencapai ini – itu, harus bisa tampil begini- begitu…dan tuntutan2 lain yang seringnya kita buat sendiri, dan jadi capek sendiri.

konsep ini mengingatkan kita, bahwa sebaik baik perannya wanita ialah menjadi istri dan ibu yang baik. Dan, semuanya berawal dari rumah, dari tugas untuk menjaga ketahanan keluarga.

bukan tidak boleh berkarya di luar, bukan juga persoalan konfrontatif mengenai working mom vs stay at home mom, ini soal peran dan tanggung jawab, dan jawabannya akan sgt personal.

saya mengambil kata-kata bu elly risman dalam satu satu seminarnya :
“life is choice, and the choice is yours. But please, take the responsibility..”

Apa yg bs ayah bantu?
Seorang istri perlu diyakinkan untk mnjalani peran ini dg utuh,buatlah ia berharga menjalani peran mulia itu.Wahai Ayah, ambil tanggunjawab yg utuh sbg Ayah dan berikan ketenangan untk ibu menjalankan perannnya.Jadilah pelindung,jadilah penjaga..jdlh nahkoda yg tangguh,tp tetap lembut akhlaq pd istri dan anak2..dan terampilah dalam mengaktualkan potensi istri,agr ttp bs mengembangkan dirinya tanpa melupakan kodratnya. Dalam banyak hal, perhatian dan kelembutan pria jauh lbh berharga dari hadiah paling mewah sekalipun. Ayah yg hebat, akan menghasilkan ibu yg hebat dan anak-anak yg bahagia  🙂

di akhir refleksi pada point pertama ini, saya rasa kita perlu sama2 merenung tentang point dasar ini. Sudahkah kita memenuhinya, masih setia dan bersabarkah menjalaninya?
sudah benarkah cara kita mengatur energi dan memenuhi peran ini?

ataukah, kita masih terbalik balik konsepnya?mengejar sesuatu di luar tugas dasar ini, menghabiskan banyak waktu untuk mengejar hal lain, tapi melupakan tugas dasar ini? jawabannya pasti sangat personal, tapi mari kita mulai dengan mengambil tanggung jawab itu,

Ayo Ayah,bunda.Coming back home.Mari kita menilik lg sejauh mana tanggung jwb peran ini sdh kita jalankan.Mari sama2 bersinergi memprioritaskan apa yg mnjd tugas dasar ini.

Mari kita atur ritme aktivitas dan energi kita,bkn hny sibuk dgn hal-hal besar, tapi mempersiapkan diri untuk menjalankan peran-peran kecil di dalam rumah, untuk pasangan dan anak-anak kita.

Kembali pada keluarga,sbg harta terbesar kita. Mulai dari memberikan hati yang utuh untuk apa yg menjadi hak mereka : Memberikan telinga yg siap mendengar, memberikan jiwa raga yg siap untuk terlibat dalam prosesnya, memberi waktu terbaik yg bisa kita berikan.

mari sama2 bljr untk setia dgn janji dan doa yg kita minta,
karena cinta tak sekedar persoalan bersama…
karena dewasa, justru dimulai dari kemampun kita memahami hal kecil yg menjadi peran kita  🙂

(to be continue)
maaf gak menulis panjang sekali, smg bs bermanfaat  🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Security