Karena Laki-laki itu Perlu Teman Belajar

Karena Laki-laki itu Perlu Teman Belajar

(ketahanan keluarga dan kematangan peran Ayah)

Tulisan ini begitu spontan tertuang setelah saya membuka foto2 lama. Saya jadi menyimak kembali perjalanan metamorfosa peran seorang laki-laki menjadi suami dan Ayah dari kedua anak saya. Tidak banyak tulisan/penghargaan yang mengulas tentang sosok Ayah, meski sebenarnya apa yang mereka lakukan tidak kalah sulitnya dengan proses adaptasi kita sebagai istri dan ibu.

Dalam banyak hal seorang wanita lebih banyak kesempatan mempersiapkan diri dan belajar setelahnya. Wanita punya lebih banyak guru, figur, balad tentang bagaimana caranya menjadi wanita.Sebaliknya Ayah, ayah belajar dengan siapa?sementara tanggung jawab ayah jauh lebih besar.
—-
budaya kita lebih banyak bicara mengenai bagaimana seorang perempuan dididik untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Sebagian dari kita mungkin sudah ‘terlatih’ mengurus adik, keponakan, dan bahkan dibekali berbagai keterampilan tertentu dengan pesan “agar disayang suami”, ” supaya nanti jadi ibu yang baik”.
Sebaliknya, kita lebih jarang mendengar kalimat itu disampaikan pada laki-laki. Hal inilah yang bisa jadi membuat lebih banyak laki-laki yang saya kenal, klien yang pernah saya temui cenderung lebih kaku dalam beradaptasi dengan perannya setelah menikah.
sebagian besar harus diberikan “kode” atau instruksi untuk bisa melakukan ini dan itu — untuk sekedar membantu menggendong bayi, mengajak main anak, atau bahkan mendampingi anak2 kita menyiapkan perlengkapan sekolahnya, atau mengerjakan PR nya.
hingga secara alamiah nama yang paling banyak dipanggil adalah : “ibu….” dan jadilah si ibu menjadi ibu wonder women, mulai dari mandiin sampai anak-anak tidur lagi.

Lalu kalau sdh seperti ini, gak lama biasanya ibu kelelahan dan jadi baper, merasa tidak punya me time, merasa Ayah tidak cukup inisiatif, dan segudang prasangka negatif lainnya. Lalu menjadi super sensiitif menyalahkan ayah yang tidak banyak berperan. Sementara makin sensitif wanita, makin kode itu sulit diterjemahkan — begitu pengakuan seorang narasumber yang sebut saja bernama Budi, hehe
Jika kode sulit diterjemahkan, maka bagaimana Ayah bisa belajar memenuhi keinginan ibu?

—-.
tanpa sadar, satu demi satu proses belajar itu terlewati. Ibu biasanya menjadi sok kuat dan pada akhirnya benar-benar kuat tanpa peran Ayah.Saya sering mendengar kalimat populer :

” aah bu, ada gak adanya suami juga sama aja..”
“adanya juga gak ngebantu”
“aah, susah dan capek ngasih taunya. Daripada cape hati, udah ajalah..yang penting uangnya ajalah.”

—–
dalam posisi ini biasanya Ayah sudah semakin kehilangan kesempatan belajarnya, dan pada akhirnya Ayah serba salah dan akhirnya mundur perlahan. Daripada semakin ribut, semakin serba salah.

Ayah,ada dimana?

Ayah biasanya lebih banyak mengambil peran sebagai pencari nafkah utama, sudah pergi dari pagi dan pulang malam. Tidak banyak yang punya cukup waktu untuk terlibat langsung dalam pengasuhan kepada anak, atau memberikan support langsung kepada ibu. Beruntung jika Ayah masih punya cukup energi selepas pulang dari kantor, atau masih menyempatkan waktu di hari sabtu minggunya. Tentunya syarat dan ketentuan berlaku : jika tidak cape, jika tidak ada lembur dan jika lainnya.

Beruntung pula jika pada waktu-waktu yang sempit Ayah mendapatkan kesempatannya untuk terlibat, untuk memahami situasi yang terjadi di rumah selama ia pergi dan minimal punya wkt yang cukup untuk mengemudikan kendalinya sbg nahkoda, sbg imam. Sebagaimana yg dicontohkan Islam dalam kisah ibrahim dan Lukman. Bahwa Ayahlah sebaik-baik pemimpinnya, bahwa tugas mendidik anak terutama penanaman aqidah utamanya berada di pundak Ayah, dan posisi ibu adalah membantu tugas Ayah.

ayah, dimana Ayah?

ayah ada, tapi tidak semua ayah mendapatkan kesempatan menunaikan amanah itu. Tidak semua ayah mendapatkan kesempatan belajar itu. Sebagian besar yang saya amati karena mereka pada akhirnya terjebak pada rutinitas kesibukan, minimnya waktu, kurangnya bekal pengetahuan, kurangnya skill dan semuanya biasanya bermula.karena ia tidak mendapatkan teman belajar yang baik.

teman belajar?

Ya, karena seorang laki-laki itu…perlu teman belajar ”
–begitu lagi-lagi menurut pengakuan seorang laki-laki yang sebut saja bernama budi lagi, hihi

“temani saya belajar…”

Kalimat itu saya dengar setelah tahun kedua pernikahan kami.Momentnya masih jelas dalam ingatan saya, kalimat itu diucapkan dengan kelu, nampak berat. Menyiratkan betapa peran untuk menjadi menjadi imam dan kepala keluarga yang baik bukanlah hal mudah, dan penuh tanggung jawab. Ia perlu saya,sbg pendamping, sebagai teman belajar.

ingatan saya melambung pada sebuah nasehat :
“a man never growing old, selalu ada sisi kekanakan dalam diri seorang laki-laki, Karenanya, ia perlu wanita. Karenanya, Islam memerintahkannya berpasangan. Islam menciptakan wanita sebagai pakaian untuknya. Untuk saling melengkapi, untuk membuatnya matang, untuk membuatnya tenang. ”

saya mengulang-ulang kalimat itu,

“untuk membuatnya matang, untuk membuatnya tenang….”

sebelumnya saya tidak pernah memikirkan hal ini secara mendalam, karena laki-laki dicipta dan di stigma untuk kuat, untuk mandiri, untk maskulin, untuk bertanggungjawab.
ia mungkin bisa menampakkan itu saat berada di luar rumah, tapi akankah selamanya mereka kuat? Mudahkah?

tentunya tidak,
ada saatnya ia bingung. Ada saatnya ia rapuh. Ada saatnya ia perlu sejenak mengeluh. Ada saatnya bisa jadi ia ingin menjerit dan kehabisan energi, hanya berbeda cara mengekspresikannya dengan kita para wanita.

sebagian dari mereka mengekspresikannya dalam diam, sebagian mungkin memilih mengesampingkan kegalauan itu dalam bentuk kesibukan pekerjaan dan beberapa dari laki-laki yang krg kuat komitmennya mungkin akan mencari pelarian pada wanita yang lain..
“yang membuatnya matang, yang membuatnya tenang…”

masalah2 itu biasanya terjadi sangat halus,tapi perlahan mengikis kepuasan berumah tangga, mengikis kenyamanan diri dan perannya, hingga tidak sedikit yang akhirnya benar-benar hilang dari orientasi rumah tangganya..

karenanya, seorang laki-laki perlu teman belajar

ia perlu teman untuk menyusun konsep dirinya yang baru sebagai seorang laki-laki dewasa,
ia perlu atribut atribut positif untuk menyusun siapa dirinya kini, apa yang bisa dan mampu ia lakukan, apa yang membuatnya berharga, dimana dia dibutuhkan…dan bagaimana cara melakukannya.

untuk menyusun konsep ” saya suami/ayah yang baik ” seorang laki-laki sekurangnya menyusun beberapa definsi.
misalnya :
ayah yang baik : mampu menafkahi yg cukup, mampu memberikan perhatian, ringan tangan membantu pekerjaan rumah, dlll….

bayangkan lagi, satu demi satu definisi itu harus dioperasionalkan lagi, hingga bagi pasangan yang sulit puas dgn suaminya, satu definisi saja bisa jadi banyak sekali prasyaratnya…dan pada akhirnya masing-masing merasa tidak puas. Istri merasa suaminya tidak sesuai harapan, sementara suami merasa usahanya tidak dihargai, keduanya tidak sampai-sampai di garis finish. Padahal keduanya telah berupaya melakukan yg terbaik,

keduanya berjalan, tapi tidak berdampingan. Melainkan saling menunggu di garis finish.Sehingga langkah kemajuannya jengkal demi jengkalnya tidak terlihat. Perjalannya menjadi perjalanan saling menuntut, bukan perjalanan untuk sama2 belajar, sama2 melayani, sama-sama membahagiakan.

karena, laki-laki itu perlu teman belajar.
Dari laki-laki saya–yg tdk bisa disebut namanya. Saya belajar bahwa sekurang-kurangnya ada 4 kebutuhan dasar seorang laki-laki untuk memenuhi perannya.

  1. kepercayaan (trust)
    kebutuhan dasar ini adalah pondasi untuk membangun harga diri.Untuk bisa memulai memenuhi perannya,mereka perlu diberi kepercayaan.Beri ia kepercayaan sepenuhnya, bahwa ia bisa memenuhi perannya sebagaimana janjinya pada Allah untuk menjaga kita.Beri ruang untuk mereka menyusun konsep rumah tangga, simak ide dan hargai pendapatnya. Minimalisir bantuan dari kanan kiri jika tidak benar-benar diperlukan. Merekalah imamnya, nahkodanya.
    Bisa jadi banyak hal yang membuat kita ragu, tapi sedapat mungkin minimalisir ekspresi negatif, tampakkan emosi positif untuk setiap proses belajarnya.
    Salah satu nasehat yg saya ingat pada point ini adalah : ” fokuslah pada kebaikan pasangan kita, jangan mencari hal yang tidak ia miliki. Biasakan untuk tidak menceritakan aib/keburukan pasangan pd org lain, karena sebaik baik pasangan ialah yang pandai menjaga kehormatan pasangan dan memahami kekuatan yg dimilikinya, bahkan saat semua org tidak mempercayainya”
  2. kekuatan (power)
    setelah kepercayaan, mereka perlu panggungnya. Berikan ruang untuknya memberikan arah, mengambil sikap dan keputusan. Ruang diskusi tentunya sangat terbuka, tapi jangan banyak berdalih dan ngeyel dengan apa yang menurut kita benar. Di titik ini biasanya ketaatan kita sbg perempuan diuji, bahwa sebaik baik wanita ialah yang paling baik ketaatan kepada suaminya — selama tidak melanggar syariat. Salah satu konsep yang perlu disamakan ialah, segala sesuatu yang dilakukan haruslah mengandung kebaikan bagi keluarga dan menuju visi bersama.
  3. penerimaan (acceptance)
    dibalik sosoknya yang mandiri, yang kuat. Para laki-laki selalu perlu tempat untuk nya berpulang dan berlabuh, dan its called “home” and is not just a house.
    a “home”, tempat untuk mereka pulang, melepaskan topengnya, meredakan peluhnya. Tempat mereka diterima tanpa syarat dan tuntutan. Tempat mereka mere charge energi. Dan tentunya, seorang istri memiliki andil besar untuk menciptakan ketenangan itu.Sebuah penerimaan yang tulus tentang apa adanya suami, dg sgl kekurangan dan kelebihannya.
  4. caring&loving**

point keempat ini saya beri tanda** karena kebutuhan caring&loving para laki-laki yang saya pelajari berbeda bentuknya dg kebutuhan kita sbg perempuan. Mereka tentunya tidak selalu perlu kata-kata manis “i love u” atau buket bunga. Mereka kadang hanya memerlukan keberadaan kita secara fisik, utuh. Bagian ini saya biasanya sering bertanya, “apa yang bisa saya lakukan untuk menyenangkanmu?”
kadang-kadang bahkan pertanyaan itupun terlalu sulit dijawab karena kebutuhan dicintai seorang laki-laki terlampau sulit didefinisikan.
Tapi pada akhirnya, saya menyimpulkan point keempat ini sebagai kemampuan satu sama lain untuk saling mengisi, dan itu terjadi secara spontan, sederhana, tanpa instruksi.Dan hal tersebut dimulai dari tersedianya hati yang utuh, untuk saling membahagiakan, hingga tercipta rasa bergantung satu sama lain.

trust-power-acceptance& caring, 4 hal ini yang saya pelajari darinya,
sebagai tugas belajar bersama,
untuk sama-sama bertumbuh, mematangkan peran masing-masing.

untuk sama-sama menguatkan, bukan menyalahkan.
untuk sama-sama membahagiakan

karena tugas ini, bukanlah tugas perseorangan
karena tugas ini akan lebih ringan jika dijalani bersama

karena bahagia ini, akan dicipta bersama
akan dipertanggungjawabkan dihadapanNya

“ada 2 pilihan sikap ketika kita bertemu dg cinta. Pertama jatuh cinta, kedua membangun cinta. Padamu, aku ingin yang kedua. Karena aku tak ingin sekedar jatuh cinta, tapi aku ingin membangun cinta ini sampai ke syurga..” (Salim A.Fillah)

wallahualam bi shawab.

ps : tulisan ini ditulis sbg pengingat diri yang direfleksikan dari pengalaman pribadi dalam sudut pandang sy sbg wanita, situasi tertentu bisa jadi berbeda cara memaknainya. Monggo kaum bapak yang mau menambahkan sudut pandangnya, semoga bs bermanfaat

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Security