Karena “Riweuh” itu Relatif

Karena “Riweuh” itu Relatif

Insight untuk menulis tema ini cukup lama, tapi baru sempat diteruskan karena banyak hal, dan selalu teringat lagi kalau muncul penyakit langganan ibu-ibu : “riweuh” dengan segala urusan domestik rumah tangga, yang nampak gak ada ujungnya, hihi. Mulai dari urusan mengisi kulkas sampai mengisi token listrik, mencari ide menu makanan sampai mencari pasangan sandal anak-anak yang hilang..hehe.

Riweuh dalam term sunda biasa dipakai untuk menggambarkan situasi yang repot, ribet yang menguras konsentrasi sehingga mengasah kemampuan kita mengatur banyak hal bersamaan. Dan biasanya selama sepersekian jam– kita merasa menjadi orang yang paling repot dan paling menderita di dunia, hehe.

Kita sama-sama merasakan, ber-riweuh ria tidak membuat pekerjaan terselesaikan dengan baik. Seringnya bahkan membuat waktu kita menjadi lebih tidak efektif. Pernah mengalami repotnya cari kunci motor/mobil saat buru-buru mau berangkat? Bolak-balik rumah kesana kemari padahal kuncinya udh nyantol di mobilnya… hehe. Gejala riweuh bisa ditanya sama orang-orang terdekat, biasanya mulai terdengar kepanikan yang dengan suara naik beberapa oktaf untuk minta ini itu sampai dengan bentuk paling menyebalkannya ialah menularkan riweuh sama kanan kiri kita..hehe.

Uniknya, tidak pernah ada ambang yang sama pada tentang penyebab riweuh, tiap orang akan diuji dengan tingkat ke”riweuhan” yang berbeda. Ada yang merasa mengurus anak satu saja rasanya bikin pengen cuti jadi ibu, sementara ada ibu yang punya anak empat tapi luar biasa nyantainya. Ada yang membutuhkan waktu dan full konsentrasi untuk memasak makanan enak untuk suami, sementara ada ibu yang bisa sekaligus masak sambil cuci baju-cuci piring-gendong anak juga sambil main instagram…itulah….riweuh itu relatif.

Beda kepribadian berbeda pula caranya menyingkapi ke ‘riweuh’an ini. Saya melihat sekurang-kurangnya ada 3 tipe (ini hanya opini pribadi, silahkan ditambahkan klo teman-teman menemukan tipe baru yaaa…hehe).
1. sang petangguh
ketika ada tugas-tugas yang harus diselesaikan, dia menghadapinya penuh totalitas. Biasanya orang-orang seperti ini punya energi psikis yang besar. Makin diberi pekerjaan/tugas, makin produktif. Dia cenderung tenang, dan melihat dengan objektif tugas-tugas tersebut dan kemudian menyelesaikannya. Beberapa dari tipe ini juga saya lihat memiliki kemampuan perencanaan yang baik. mereka bisa survive dengan keterbatasan waktu – bahkan materi dan mengoptimalkan yang mereka bisa untuk menyelesaikan urusan mereka dengan baik.
2. sang petarung
bahasa halus saya adalah si ‘petarung’, apa yang dipertarungkan? tipe petarung ini akan berupaya sedemikian rupa agar dirinya tidak riweuh, dengan menyalahkan/mengalihkan beban ke lingkungannya. Ketika diberikan tugas yang agak berat, ia mengeluh pada pemberi tugas, ngedumel kanan kiri. Contoh : Saat riweuh dengan urusan rumah domestik rumah tangga, ia mengeluh mengapa anak2 yang sulit diarahkan, tidak jarang hujan – benda-benda mati pun jadi lawan untuk diajak tarung, hehe. Tipe kedua ini cenderung tidak siap dgn tugas dan banyak menggerutu. Selesaikah tugasnya? sebagian besar yang saya amati tidak. pun ketika dikerjakan energy psikisnya banyak habis untuk mengeluh, menyalahkan orang lain sehingga banyak waktu yang terbuang.
3. Sang pelari
Tipe ketiga ini saya beri nama sang pelari alias tukang kabur, hehe. Saya mengamati ada beberapa tipe orang yang semakin diberikan beban/tugas – semakin menghilang dari peredaran. Mereka tidak se-agresif sang petarung yang akan mempertahankan diri mereka di zona nyaman. Mereka cenderung calm, tapi lambat laun melepaskan diri dari tanggung jawab yang diberikan padanya. Sebabnya tentunya beragam dan sangat subjektif, tapi khas dari pola ketiga ini adalah ketidaksiapannya untuk menempa diri menerima beban dan belajar pengalaman baru. Amankah? untuk 1-2 kali cukup aman karena mereka biasanya bukan tipe pencari konflik. Tapi perlu diingat, bahwa tipe ketiga ini juga melewatkan banyaak sekali kesempatan belajar untk bertumbuh dan berkembang.

Tulisan saya ini jelas bukan untuk mencoba mengklasifikasi, bisa jadi kita pernah mengalami menjadi tipe 1 – 2- 3 pada situasi-situasi tertentu, tentunya saya percaya sebagai pribadi dewasa kita punya pertimbangan. Karena sekali lagi, riweuh itu relatif.

Bagaimana pun sikap kita menghadapi ke riweuhan ini, saya menggaris bawahi 4 hal utama :

  1. Menerima sunatullah bahwa kehidupan ini satu paket dengan tugas dan kewajiban. Artinya, memang akan terkandung tanggungjawab dari setiap apa yang kita lakukan. Setiap pilihan, ada konsekuensi dan tanggungjawabnya. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa hidup ini bukan cerita di negeri dongeng yang hanya bisa dinikmati episode menyenangkannya saja, bahwa kebahagiaan adalah sebuah pencapaian yang harus diikhtiarkan.
  2. menempa diri pada situasi yang tidak biasa untuk menjadi pribadi tangguh, kita harus sedikit keluar dari zona aman, mungkin akan sedikit riweuh-ribet dan penyesuaian di sana sini pada awalnya, tapi sebenarnya di saat yang bersamaan kita sdg meningkatkan kapasitas diri kita lebih dan lebih lagi
  3. memahami life time development
    setiap tahapan usia memiliki karakteristik dan tugas perkembangannya. Penting untuk memahami “kita sedang berada dimana” dan ” apa yang sedang dicari”
    adik bayi usia 10-15 bln punya tema perjuangan tentang bagaimana sulitnya membawa badan untuk bisa belajar berjalan, anak SD punya tema perjuangan betapa sulitnya mereka beradaptasi dgn ulangan dan soal2 matematika (pernah merasa ujian hidup paling berat adalah ulangan matematika?hehe dan ternyata itu terlewati, bahkan mungkin setelah dewasa pertanyaan “kapan menikah”, “kapan lulus” dan kapan2 lainnya punya tingkat stress yang lebih tinggi dari soal algoritma paling sulit sekalipun. sekali lagi, riweuh itu relatif.
    kemampuan kita untuk memahami diri dan apa yang sedang kita cari membantu proses penerimaan diri dengan lebih baik, dan itu menjadi cadangan energi untuk kita bs survive melewatinya.
  4. Bersikap tenang dan banyak bersyukur
    saya menemukan ada variabel sabar dan syukur yang membuat kita bisa lebih stabil melewati berbagai tuntutan tugas dari kanan kiri sebagai konsekuensi dari peran yang kita jalani. hati yang tenang akan sangat membantu kita dalam mengendalikan diri dan melihat masalah dengan lebih objektif. Biasanya dengan sendirinya solusi-solusi akan lebih mudah ditemukan saat hati kita tenang. Ketikapun mentok tidak ada solusi, rasa tenang dan sabar setidaknya membantu diri untuk lebih siap menghadapi berbagai situasi yang mungkin terjadi.

guru saya pernah mengatakan, “saat kita terhimpit pada berbagai hal yang rasanya sangatlah sulit, sangat jauh dari zona nyaman tetaplah maju untuk menghadapinya dengan tenang. Lewati dan jalani yang kita bisa, karena kita akan menemukan pola-pola adaptasi/solusi baru dari situasi yang sempit itu. Pola ini harganya sangat mahal, karena hanya bisa dimiliki pada mereka yang bersedia menempa diri dan mau untuk menjadikan diri mereka lebih terampil menjalani hidup..”

ya, life skill atau keterampilan hidup yang menjadi sasaran utamanya. Kehidupan yang hanya sesaat akan sangat pendek jika orientasi kita hanyalah kesenangan semata. dan akan sangat melelahkan jika melewatinya tidak dengan sabar dan syukur.

Yuk, kita belajar lebih terampil menghandle minimal urusan kita sendiri dan berupaya untuk menjadi sebaik yang kita bisa. Mari belajar mengambil tanggung jawab pada setiap peran kita dengan optimal. Minimalisir keluhan, ganti dengan langkah-langkah solusi.

Allah menyediakan banyaak sekali tema kehidupan yang bisa kita pelajari di setiap episodenya.

tulisan ini spesial ditulis khususnya untuk para ibu yang sedang berjuang di episodenya masing-masing : pejuang skripsi, pejuang tesis,kehamilan, menyusui, pejuang nafkah keluarga, pejuang rumah tangga, pejuang mpasi…semuaaanya…saling mendoakan untuk jadi pejuang tangguh yaa  🙂

“karena kewajiban kita jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia “

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Security