Karir Seorang Ibu Part #1

Karir Seorang Ibu Part #1

“Kau pengasuh anak kah? ”

tanya seorang makcik pada saya yg sdg main dg alma di taman. Sebuah sapaan yang menohok dan bikin saya tiba-tiba pengen ambil kaca buat dandan, hehe..
sambil rapihin jilbab biar nampak gak spt mbak2 pengasuh saya jawab :

“bukan makcik, budak (anak) ini, anak saya..”
wajahnya terlihat heran dan sepertinya ia masih punya deretan pertanyaan untuk saya, daan…benar saja! dia bertanya dimana rumah saya, tipe rumah seperti apa saya tinggal, darimana asal saya hingga pertanyaan pokok lainnya, seakan sedang mencari info apakah saya ini TKW legal atau ilegal, hehe.

“kau disini buat apa? ” (apa aktivitasmu di sini?)

“saya ikut suami saya, suami saya Phd student di UTM, kami dari Indonesia ” saya mencoba menjawab agak lebih lengkap. wajahnya terlihat sedikit lebih respek. Tapi nampak masih penuh tanya.

“kau sekolah tinggi juga kah?”

“alhamdulillah makcik, sampai master, saya seorang psikolog”

wajahnya nampak penasaran,
“kau cuti, masih boleh dapat gajikah?
“mengapa kau urus budakmu sorang, kenapa tak sambung kerja? (kenapa kamu mengurus anakmu sendiri?, kenapa gak bekerja saja di sini)

kali ini saya hanya tersenyum dan tidak menjawab detil, saya hanya menyampaikan padanya bahwa saya senang bisa mendapat kesempatan mengurus anak saya sendiri. Dan, tiba gilran saya yang balik bertanya, makcik ini pun bercerita panjang sambil terlihat kesulitan meng handle cucunya yg kebetulan hari itu ‘dititipkan’ padanya.

dari ceritanya, saya mengerti tatapan herannya. Dia seorang nenek dengan 2 cucu seusia alma, putrinya pun sebaya dengan saya. Putrinya lulusan Phd dari universitas yg sama dari tempat suami saya belajar. Bedanya, putrinya bekerja, berkarir sementara ia melihat saya tidak.Putrinya tidak mengurus anak2nya sendiri(itulah mungkin ia melihat saya spt ibu kurang kerjaan karena pagi-pagi malah main di taman, hehe)

Dia banyak memberi saya gambaran atas pentingnya kerja keras masa depan, karir dll nya. Dia mendorong anak-anaknya bekerja, sementara kedua cucunya dititipkan di taska (daycare). Praktis, dan efektif katanya. Sehingga kedua org tuanya bisa mengembangkan ilmu dan tentunya menabung banyak untuk masa depan.
———–
Saya hanya tersenyum mendengarkan, kali ini saya bukan lagi pgn cari cermin buat dandan, tapi pgn ajak makcik ini jalan-jalan yg rada jauh, biar makcik tau bahwa karir sebagai ibu tidak sesempit itu. Tapi tentunya situasi santai pagi di taman bukan untuk beradu argumen, apalagi beliau orang tua. Dan, saya pun berusaha memaknai pertanyaan interogatifnya sbg bentuk kasih sayang seorang ibu.
———-
Sapaan makcik dan tatapan heran seperti itu bukan satu dua kali saya alami selama tinggal 6 bulan di KL.
Kuala Lumpur dan mungkin di kota besar lainnya tanpa disadari banyak membentuk paradigma soal konsep “karir seorang ibu” Bahwa perempuan itu harus maju, berkembang, berkarir. Bahwa ibu rumah tangga dan mengurus anak sendiri = bukan sebuah pekerjaan (seandainya makcik tau yah, para IRT itu lebih sibuk dari ibu2 kantoran, hihi).

Bahkan, saya byk melihat di sini banyak istri yang memiliki kewajiban yang sama dg suami untuk ikut memenuhi kebutuhan/gaya hidup keluarga, mereka menanggung beban untuk mencicil rumah, mobil dan berbagai gaya hidup lainnya. Tak heran ketika daycare banyak menjadi piihan, karena dipandang praktis, efektif.

Tulisan ini tentunya tidak berupaya mendeskreditkan pihak manapun, tidak juga mengkotak-kotakan status Full time mom vs working mom. Saya pernah mengalami menjadi working mom maupun full time mom. Saya masih ingat dilemanya meninggalkan anak saat kerja, juga mengalami episode rempong yg ada manis-manisnya jadi full time mom, hihi..
Terlepas dari itu semua, saya yakin kita para ibu sudah mencoba melakukan yang terbaik yang kita bisa, dan semua ibu adalah Ibu terbaik untuk anak-anaknya, sepanjang ia mampu mengambil tanggung jawab.
Pertanyaannya, betulkah tanggung jawab itu benar-benar kita ambil sepenuhnya?

ataukah, kita sedang merasa “terlampau aman” saat anak-anak kita diasuh oleh org lain dan merasa sudah cukup bertanggung jawab dgn memberikan mereka sisa wkt weekend nya kita?” bahkan kadang, di sisa waktu pun, anak-anak masih harus berbagi dgn gadget kita, aneka chat yg blm dibalas, cucian baju dan hal-hal lainnya. ataukah..kita justru sedang mengalami betapa penatnya rutinitas kita sbg ibu dan ingin sesegera mungkin mendelegasikannya pada orang lain, dan berkata…”alhamdulillah…merdeka!!” saat anak-anak kita sudah tidur atau sdg dipegang org lain, dan mengutuki diri sendiri karena merasa kehabisan waktu karena anak-anak? *introspeksi diri di pojokan kamar, hiks.

inilah yang menggugah hati saya,karena tanpa disadari syetan banyak menguji ketaatan kita dan karir kita sebagai ibu dengan membolak balik paradigma “karir seorang ibu”

ya, ayo ngacung…seringkali fiqh prioritasnya jadi terbolak balik, kita banyak terjebak pada rutinitas, merasa bahwa hal lain di luar tugas menjadi ibu jauh lebih menyenangkan hati, kita terjebak pada capaian materil, kita mengasuh dengan cara tergesa-gesa tapi lupa dengan fitrah kita sebagai ibu. Kita menjadi ibu, tapi tidak menjalani karir sebagai seorang ibu….

ya, karir seorang ibu yang sebenarnya.
menjadi ibu yang utuh, yang menjalani perannya dengan tulus, dengan bahagia. Seperti layaknya karir pekerjaan,
karir sebagai ibu adalah sebuah proses berjenjang, berkelanjutan yang kita ambil, kita pelajari, kita jajaki untuk mengambil tanggung jawab pengasuhan bagi anak-anak kita, apakah ini hal sepele?tentunya tidak, sama sekali tidak. Karena nyatanya belajar jadi ibu itu gak ada selesainya.

Kita semua mengalami jatuh bangunnya. Mengalami adaptasi yang tidak mudah, bahkan sejak pertama kali kita mengandung. setelah anak-anak kita lahir, kita merasakan seketika hidup kita berubah, ada ‘raja’ kecil yang meminta segala hal yang kita miliki, cinta, ketulusan, perhatian dan sebagian besar waktu kita.

Apakah ini karir yang sia-sia dan bisa didelegasikan begitu saja?
tentunya juga tidak. Ini adalah karir dengan ganjaran syurga, Untuk sebuah tujuan besar, mulia. Menjadi madrasah pertama untuk mereka, mendidiknya menjadi anak shaleh yang berdaya guna di dunia dan selamat di akhirat nanti.Jikalau ini adalah sebuah pekerjaan, maka ini benar benar BIG project, dengan job description yg banyak sekali. Lalu, sudah sejauhmana karir kita sebagai ibu kita jalani? sudah cukup tuluskah, cukup seimbangkah kita mengatur waktu? sudah cukup sabarkah menitinya? sudah sejauhmana kita mengambil tanggung jawab ini?

aaah, saya makin merunduk dg pertanyaan-pertanyaan ini. Saya pribadi masih sering merasa terbolak balik dan masih harus belajar untuk sabar untuk menjalani profesi ini dgn tulus, dengan cinta.

saya teringat nasehat ibu Ely Risman menyoal peran ibu ini :
“life is choice, and the choice is yours. But please, take the responsibility”

Responsibilty, menjadi point pertama dan utama untuk menjawab sudah sampai dimana kita menjalani peran ini. Bukan tidak boleh bekerja, berkarir, mengembangkan diri dan lain-lainnya.

Semuanya adalah pilihan, tapi tanggung jawab kita sebagai ibu tetaplah harus menjadi hal utama yang perlu diperhatikan. Tanggung jawab ini bukan sekedar tentang memenuhi kebutuhan mereka secara fisik maupun materil. Tetapi juga berbagai fitrah yang harus didik, dikembangkan untuk menjadikan mereka anak-anak yang matang, diantaranya :
1. fitrah keimanan
2. fitrah belajar, bernalar
3. fitrah bakat dan kepemimpinan
4. fitrah seksualitas dan cinta
5. fitrah estetika dan bahasa
6. fitrah individu dan sosialitas
7. fitrah jasmani
—— cukup banyak ya..dan setiap tahp usia tumbuh kembang punya karakteristiknya tersendiri (penjelasan soal ke 7 fitrah ini kita akan bahas pada part 2 ya)
Dari 7 aspek itu, pemenuhan kebutuhan jasmani hanyalah 1 dari sekian banyak potensi fitrah pada anak yang perlu kita kembangkan, jadi rupanya kebutuhan materil, memastikan mereka makan-minum sehat, bangun sampai tidur lagi baru sepersekian dari berbagai aspek fitrah yg harus dikembangkan dan hal ini semakin menguatkan kita bahwa karir sebagai orang tua terutama ibu bukanlah persoalan sepele apalagi dipandang sebelah mata. Dan, bukanlah sesuatu yg bisa didelegasikan sembarang, tanpa perencanaan.

karena kita sedang bicara soal visi yang besar yang nilai investasinya jauh lebih tinggi dari aset termahal sekalipun.

Visi ini besar, berharga tapi bukanlah sebuah beban. Kita tidak boleh terburu buru menyerah apalagi mendelegasikannya pada pihak lain yg dirasa lebih mampu. Kita semua bisa bu ibu, insyaallah. Saya mengutip perkataan teduh dari ust ardiano rusfi,yang juga seorang psikolog.

” Mendidik anak adalah naluri, bukan soal kecakapan akademis.Allah telah mengilhamkan ke dalam dada ibu tentang hikmah mendidik anak, bahkan sejak dalam kandungan, modal utama mendidik anak adalah cinta dan ketulusan, dan itu karunia yg Allah berikan. Tugas kita membangkitkan keduanya, tidak perlu diajarkan.. Parenting itu mudah, kita bisa mendidik sendiri anak-anak kita, dengan cinta dan ketulusan yang kita miliki, karena mereka adalah amanah yang Allah titipkan pada kita, bukan pada orang lain…”
____

“dititipkan pada kita, bukan pada orang lain ”

Pada kita dititipkannya wahai ibu, dan ini adalah karir kita yang sebenarnya, yang akan Allah mintakan pertanggungjawabannya. Anak-anak kita tidak perlu titel kita, jabatan kita, seberapa banyak uang kita, seberapa trendy kita. Jauh dari itu semua ia perlu kita, sebagai ibunya yang utuh. Inilah pekerjaan kita yang sebenarnya, sebuah karir yang harus kita jalani, pelajari dan diupayakan sebaik mungkin, seserius(bahkan harus lebih serius) dari cara kita menjalani pekerjaan kita di kantor, di kampus dan peran lainnya.

Ayo sama-sama belajar membangkitkan karunia cinta dan ketulusan untuk mendidik anak-anak kita sendiri, sesuai dg fitrahnya, insyaallah.

Semoga tulisan ini bs bermanfaat, insyaallah berlanjut pada part #2 ya

*Di Kuala Lumpur, selepas pagi dari dialog sebuah taman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Security