Karir Seorang Ibu Part #2

Karir Seorang Ibu Part #2

(dari cinta, kita mulai perjalanan karir yang terencana : fitrah based education in parenting applied)

“ibumu, ibumu, ibumu..”
kalimat tegas yang berulang disampaikan oleh Rasulullah kepada sahabat semakin menguatkan bahwa karir seorang ibu adalah sosok yang dimuliakan, dan peran yang dilakukannya merupakan project dunia dan akhirat. Begitu indah dan mulia, meski dalam keberjalanannya, bukan tanpa liku dan tanpa galau.

Episode galau punya banyak bentuknya.Mulai dari episode lahir sc vs normal, asi vs sufor, working mom vs stay at home mom, episode pilah pilih sekolah, dan berbagai episode lainnya yang seringkali membuat kita bertanya : “apakah kita sudah jadi ibu yang baik? Sudah benarkah cara kita mendidik anak-anak?

Alhamdulillahnya, dari sekian episode itu kita masih menjadi seorang ibu dan gak berubah menjadi sailormoon.
inilah tanda, bahwa sepanjang itulah juga, Allah memberi kita kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Seperti yang kita sharing di part #1, bahwa hidup adalah pilihan sepanjang kita mampu mengambil tanggung jawabnya.

Hati ibu memang tercipta lebih peka, karena di dalamnya ada cinta yang banyak. Dan karena inilah, bahasan mengenai karir seorang ibu tidak hanya selesai pada proses menumbuhkan cinta dan ketulusan. Setelah cinta dan ketulusan untuk mendidik itu tumbuh, disanalah karir itu baru dimulai….

Setelah kita bcr soal pondasi cinta dan ketulusan untuk jadi seorang ibu di part #1, point berikutnya adalah bicara tentang “bagaimana” kita memulainya. Seperti layaknya sebuah karir, tentunya perjalanan ini haruslah terencana, berjangka dan tentunya harus didasari oleh pondasi yang kuat, baik secara kapasitas fisik , mental dan tentunya dasar keilmuan yang cukup.

Kita tidak bisa mendidik anak dengan bekal ‘katanya – katanya’atau sekedar berbekal ingatan saat kita diasuh sewaktu kecil, juga tidak bisa mengasuh dengan patokan anak orang lain alias rumput tetangga yang biasanya lebih hijau. Kita perlu pondasinya bu ibu sayang, karena kita yang bertugas memastikan apakah anak-anak kita sudah tumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya. Karena kesalahan dalam proses mendidik dapat mengacaukan atau bahkan meluruhkan fitrah anak. Alih-alih terlihat berkembang, justru malah “kacau” karena kita tidak menempatkannya sesuai tempatnya.

Pernah dengar ada anak usia 8 tahun stress dgn pelajarannya dan mogok sekolah?
pernah lihat anak usia SMA yang masih belum mudeng soal urusan shalat?
pernah lihat anak kecil yang asik merokok dan nonton video porno?
Maraknya kasus pornografi, LGBT, sampai kriminalitas yang dilakukan anak-anak dan segudang fenomena lainnya menjadi catatan merah potret akhlaq anak bangsa saat ini,meresahkan hati kita semua sbg ibu.Whats wrong?

Ada sesuatu yang tidak pada tempatnya, ada pendidikan yang sengaja atau tidak sengaja didapat dan mengacaukan fitrahnya.

Apa itu Fitrah?

Banyak sekali definisi yang memaparkan tentang fitrah. Tapi saya lebih senang menyederhanakannya sebagai sebuah potensi yang suci, lurus dan terberi sejak manusia lahir. Dengannya kita bisa menerima agama, kebaikan yang akan menuntun kita untuk dapat bertabiat lurus. Dan saya percaya, setiap anak terlahir dengan fitrah yang baik. Hanya kemudian lingkungan dan pendidikan setelah lahir-lah yang akan menentukan “instalasi”-nya, akan dibawa dan diarahkan seperti apa? Inilah mengapa, pola kita mengasuh anak, harus kembali pada fitrahnya.

Sebagai seorang psikolog yang juga seorang ibu, saya pun mencari berbagai referensi soal apa dan bagaimana kita memulai proses pengasuhan ini,karena ternyata teori-teori psikologi barat tidak cukup kokoh untuk menjawab hal yang bersifat maknawiyah dalam perspektif sebagai muslim. Karena ternyata, pintar saja tdk cukup,mereka perlu bekal iman yg akn mnjd navigator hidup setelah kita tiada.

“segenggam iman untuk anak-anak kita-kita”

Dalam tulisan saya ini, saya mengutip sebuah konsep yang luar biasa bagus mengenai pendidikan berbasis fitrah yang saya ambil dari buku Fitrah Based Education yang ditulis dengan apik, holistic dan integratif oleh bapak Harry Santosa

Bukunya sangat detil dan mengintegrasi Islam & psikologi, dalam tulisan ini saya mengutip 2 hal besar yang perlu menjadi catatan sederhana untuk memulai karir kita sebagai seorang ibu :
1. Memiliki tujuan, visi misi pengasuhan
2. Memiliki sararan tuju pengasuhan

Pertama : Tujuan, Visi dan Misi
Untuk memulai karir sebagai seorang ibu, terlebih dahulu kita perlu memiliki tujuan, yang kemudian diturunkan ke dalam visi misi yang jelas “apa yang menjadi tujuan akhir dari pendidikan anak kita nanti : karakter seperti apa yang ingin terbentuk, apa yang menjadi harapan dan do’a kita padanya?” Tujuan-visi dan misi akan membedakan “arah” dan warna pengasuhan yang akan kita bawakan dan memudahkan kita membuat perencanaan sekaligus juga sebagai evaluasi jika dalam keberjalanannya kita menemui kendala.

Tujuan ini sifatnya sangat personal. Ada orang tua yang sangat akademik oriented, sehingga menjadikan prestasi sebagai tolak ukur anak-anaknya. Ada orang tua yang sangat concern pada materil.Bahkan ada pula orang tua yang cenderung memilih untuk pakai gaya “santai” – nyaris gak ada target apapun, selama anaknya bisa bahagia. Bolehkah? boleh-boleh saja, selama hasil ‘cetakannya’ nanti bisa dipertanggungjawabkan di akhirat.

Sebagai muslim, kita tentunya perlu menegok pada falsafah penciptaan kita, kita perlu menengok lagi maksud Allah terhadap penciptaan kita, bahwa kita diciptakan semata-mata untuk dapat beribadah dengan baik, menjadi manusia yang penuh manfaat dan kasih sayang pada sesama. Tujuan, visi dan misi ini tentunya perlu didiskusikan super serius dengan pasangan dan dibuat sebagai blue print pengasuhan bersama

Kedua, adalah memahami sasaran tuju (8 aspek yang disasar dalam mendidik anak)

Ada 8 fitrah personal yang harus dikembangkan pada diri seorang anak

(tulisannya agak padat….sambil siapin cemilan yaaah, konsentrasi bu ibu)

1. Fitrah Keimanan (spirituality, morality, religious)
Ini pertama dan utama bahwa setiap anak lahir dalam keadaan sudah terinstal fitrah keimanan. Secara fitrah tidak ada anak yang tidak cinta pada kebaikan, kecuali disimpangkan atau dikubur oleh pendidikan yang salah dan gegabah. Fitrah ini menjadi pondasi & bertanggungjawab pada proses pembentukan moral dan akhlaq anak-anak kita. Periode golden age pembentukkan fitrah ini berada pada usia 0-7 tahun bu ibu, di masa ini tugas besar kita adalah membangun imaji positif tentang Allah, Qur’an, Rasul,para sahabat dgn seindah indahnya. Dan…. ternyata,imaji positif itu pertama kali akan dipersepsi dan dikontruksi dari pengalaman interaksi anak dengan orang tuanya. Wow!! akhlaq kita kpd anak,mimik kita saat mendengar adzan,sikap kita pada al qur’an dll nya akn jadi memory yg terekam&menentukan bgmn fitrah ini berinteraksi.

2. Fitrah perkembangan
Fitrah perkembangan ini adalah hal yang mungkin paling familiar oleh ibu-ibu. Sudah banyaak sekali teori barat yang memaparkan soal ini, kita mengenal tahap perkembangan, millestone di berbagai tahapan usia, tp sudahkah kita tau juga bhw dlm Islam,tahap perkembangan sekurang-kurangnya terbagi menjadi 3 :
(1) 0-7 tahun sebagai masa pra latih
kata kunci tahap ini adalah eksplorasi dan terbentuknya imaji positif, tahap penguatan dan pembentukan konsepsi. Tidak disarankan adanya pembebanan apapun yang akan membuat trauma dan melunturkan fitrahnya. Kedekatan dan kelekatan dengan orang tua khususnya ibu sangat menentukan keberhasilan proses selanjutnya

(2) 7 – 10 sebagai pre akhil baligh awal (latih awal)
Tahap ini adalah golden age bagi fitrah belajar dan bernalar, kita punya tugas untuk membangun kesadaran bahwa Allah maha pelindung, pengatur dan ia perlu menyadari keteraturan ciptaan Allah pada dirinya dan lingkungan, karenanya ia sudah mulai boleh dibebankan “aturan”,salah satunya dengan diberikan perintah untuk shalat sebagai penanda bahwa ada “adab” yang mengatur kesehariannya

(3) 10 – 14 sebagai pre akhil baligh akhir (latih akhir)
Sering disebut sebagai fase terberat karena orang tua punya tugas untuk mempersiapkannya memikul beban secara syariat,

(4) > 15 tahun dalam Islam disebut sebagai masa akhil baligh

3. Fitrah Belajar dan bernalar (learning, thinking, innovation)
“tidak ada bayi yang memutuskan merangkak seumur hidupnya”. Kalimat ini menunjukkan bahwa setiap bayi yang lahir adalah pembelajar tangguh dan sejati, mereka menuntaskan belajar “jalan” nya hingga bisa berlari dan menguasai keterampilan lainnya. Apa yang kita lakukan ialah memberinya kesempatan, ruang yang aman dan motivasi. Anak-anak kita adalah para penjelajah yang memiliki rasa ingin tau tinggi, jadi tidak heran ya bu ibu mengapa hampir semua sudut rumah kita pernah “di gratak” oleh anak-anak kita. Keranjang cucian jadi mobil-mobilan, lipstick kesayangan ibu jadi spidol, kasur jadi trampoline, dll… apa yang selama ini kita lakukan? Marah, berteriak dan ngomel karena rumah berantakan gak ada selesainya?

Tahan dulu bu ibu, karena secara konsep fitrah belajar ini bisa luruh juga karena kesalahan interaksi kita dalam mendidik anak-anak. Sikap terlalu menyetir belajar anak (harus bisa ini itu, harus dgn cara begini begitu), terlalu memfasilitasi, memberikan kompetsisi dan rasa takut adalah termasuk hal-hal yang bisa membuat fitrah ini menjadi luruh. Oh ya, Golden age pembentukkan fitrah ini terjadi pada usia 7 – 12 tahun.

4. Fitrah Seksualitas
Bagian ini adalah bagian yang cukup bikin dag dig dug apalagi kalau kita lihat fenomena maraknya masalah LGBT dan berbagai kasus seksual yang terjadi pada anak-anak di usia dini. Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai laki-laki sejati atau sebagai perempua.Hasilnya akan nampak terlihat jelas saat mereka sudah mulai baligh, apalagi ketika mereka menjalankan peran mereka sebagai suami/sitri nantinya. Tapi apakah fitrah itu akan terbentuk tiba-tiba? tidak.

Fitrah seksualitas ini dibangun bahkan sejak masih bayi (detil per tahapan insyaallah akan dibahas pada tulisan selanjutnya ya). Di sinilah diperlukan kerjasama Ayah dan Ibu. Para Ayah perlu menunjukkan kepemimpinan dan menjadikan dirinya piawai soal urusan kelaki-lakian dan ke ayahan, begitu juga dengan ibu.

5. Fitrah estetika dan bahasa
Setiap anak memiliki sense of aesthetics atau sense pada keindahan, keharmonisan. Dan bahasa merupakan alat ekspresi nya, siapa yang mengaktualisasinya?jawabannya juga adalah orang tua, khususnya Ibu. Fitrah ini akan memacu kemampuan kreativitas, inisiatif, rasa cinta pada alam sekitarnya.

6. Fitrah fisik
Setiap anak terlahir dengan fisik yang suka bergerak aktif dan panca indera yang suka berinteraksi dengan lingkungan. Selain perawatan dan penguatan pada pola kebutuhan jasmaniah, ibu juga perlu memfasilitasi kebutuhan gerak dan eksplorasi inderanya.

7. Fitrah individualitas dan sosialitas
Setiap anak dilahirkan sebagai individu, sekaligus juga sebagai makhluk sosial. Sosialitas akan tumbuh baik pada usia 7 tahun, jika individualitas tumbuh baik sebelum usia 7 tahun. Orang tua bertugas untuk menuntun anak-anak kita agar nyaman dengan dirinya, mengenali dan menerima dirinya dengan utuh dan menuntunnya untuk menjadi bagian dari lingkungan sosial yang kemudian dapat berkontribusi di masyarakat.

8. Fitrah bakat dan kepemimpinan (Talents, Passion dan strenght)
Setiap anak terlahir unik, membawa sifat bawaan yang unik yang jika dikelola inilah yang akan disebut sebagai panggilan hidup atau “passion”. Kita perlu peka mengenali bakat dan memberinya kesempatan untuk berkembang.
Golden Age pembentukkan fitrah ini adalah pada usia 10 – 14 tahun, atau disebut masa pre akhil baligh.

—–banyak ya mom? Ini baru gambaran besarnya, detil per tahapan usia memiliki sasaran spesifiknya tersendiri (insyaallah disambung di kesempatan lainnya ya). Tapi inilah big BLUE PRINT nya, bahwa pekerjaan ini bukanlah karier yang sepele,karena kita sdg mendidik generasi.

Ayo kita belajar sama-sama, untuk bisa amanah pada fitrah yang Allah tanamkan pada anak-anak kita, menjadikan mereka tumbuh sesuai fitrah, menjadikannya manfaat di dunia dan selamat di akhirat nanti, amiin,

Kuala Lumpur dini hari, dibuat sbg catatan pribadi..
Karena dari cinta, kita mulai perjalanan karir yang terencana, insyaallah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *