Kedewasaan dan Pengendalian Emosi

Kedewasaan dan Pengendalian Emosi

sepekan ini saya terngiang-ngiang nasehat teh Yukie Agustia Kusmala 7 thn lalu saat kami sdg sama2 stage di RSMM Bogor tntg apa itu ciri dewasa.Saat itu usia saya 23 tahun, tentunya masih unyu2 sbg newcomer di gerbang masa dewasa dini.
beliau hanya mengatakan sebuah kalimat :
” dewasa ialah kita bisa memilah mana hal yang penting dan tidak penting ”
saya diam menyimak, lalu beliau meneruskan :
” memilah penting yang tidak penting untuk kita pikirkan, untuk kita rasakan, sehingga dengan sendirinya energi psikis kita tidak habis untuk hal-hal yang tidak penting.. ”

tahun demi tahun saya merenungi makna kalimat itu, dan semakin memahami bahwa,
iya, ciri menjadi dewasa similar dengan kemampuan seseorang mengendalikan dirinya, mengendalikan emosinya.Sehingga sikap, keputusannya bukanlah hal yang tergesa-gesa, dan tidak didominasi oleh nuansa emosi

itulah mengapa, tentunya menjadi dewasa jauh dari kata “alay” dan ” lebay” .
Tidak alay karena semakin dewasa kita akan semakin memiliki pondasi berpikir yang menjadi dasar perilaku kita, sehingga kita tidak bersikap ikut-ikutan, atau merasa gamang dan kebingungan dengan arah dan tujuan kita.
kita akan semakin mantap, dengan apa yang kita tuju, dan aktivitas kita akan terarah menujunya.

tidak lebay, karena semakin dewasa kita akan semakin menamai, mengenali dan mengendalikan emosi kita.
kita akan bisa membedakan kapan kita tergugah secara emosi (kesal, tersinggung, sakit hati, dlll…) dan bagaimana kita harus menyingkapinya.
kita akan semakin pandai menyaring bahwa : tidak semua hal harus kita pikirkan, rasakan dan nge ‘gugu’ (mengikuti/nuturut) emosi kita.
nyatanya, akan ada hal yang perlu kita proses lebih lanjut, tapi masih lebih banyak hal yang harusnya kita skip (tidak untuk kita pikirkan)

saya teringat nasehat guru saya, Prof.Sawitri di salah satu kuliah dg beliau :
” kita punya kapasitas energi psikis, kalau diibaratkan spt flashdisk, besarnya berbeda-beda. Respon emosi yang tidak perlu akan menjadi sampah2 yang menyedot banyak kapasitas.Ingatlah, tidak semuanya perlu masuk di ruang utama. Urusan kita yang lebih penting jauh lebih banyak, maka gunakannya energi psikis kita dengan efisien ”

ya, kalimat tersebut semakin menguatkan, bahwa menjadi dewasa ialah kemampuan kita meng efisiensi kan energi, dan menuntut kemampuan problem solving yang lebih tinggi, bukan berorientasi pada emosi, tapi pada masalahnya.
karena kalau emosinya yang dituruti, akan banyak sekali biasnya dan semakin membuat kita jauh dari solusi.

Rasul pun berpesan ” jangan marah”
tentunya punya segudang arti bahwa kemarahan yang tak berujung akan mendatangkan banyak penyakit hati yang pada akhirnya membuat kita tidak produktif dalam beramal.

tapi tentunya, kita hanyalah manusia yang memiliki perasaan,
tergugah secara emosi tentunya sangatlah wajar, bahkan ada bbrp kepribadian tertentu yang mmg lbh mudah tergugah,

tapi, ingatlah bahwa, bersikap emosional itu pilihan
kita sangat bisa mengambil pilihan sikap untuk menjadi dewasa,
dengan mengendalikan diri kita ketika marah

banyak teori dan konsep tentang anger management atau sejenisnya. Tapi intinya sama : pengendalian diri.

mengendalikan diri tidak membuat pesan nya hilang (bukan ditahan/di repres), tapi diolah dan dikomunikasikan dengan bahasa/cara lain yang lebih baik.

islam pun mengajarkan dengan apik manajemennya, bila marah sedang berdiri maka duduklah — dlll..bila masih marah berwudhu dan shalatlah–karena tidak mungkin seorang shalat dlm keadaan marah2..  🙂

aah indah sekali, pesan keduanya sangatlah apik : kendalikan diri, rehatlah sejenak seperti menekan tombol pause,
atur nafas, beri kesempatan distribusi oksigen agar otak dapat berpikir jernih, matikan alarm system di otak yang menyala2 tak henti.. dan lihatlah lebih objektif..bahwa :
kita masih punya banyak pilihan sikap yang bisa diambil selain menuruti emosi dan kekesalan kita,
kita masih punya banyak pilihan sikap yang lebih produktif selain aksi mogok, marah2, mendiamkan, kabur, dan bentuk luapan emosi lainnya…

bismillah, sore hari yang syahdu, Allah kembali hadirkan lagi petikan nasehat itu sebagai pengingat diri,
karena menjadi dewasa menuntut kemampuan kita dalam mengendalikan diri

yuk bunda, kita cek..sudahkah sampah2 emosi kita dibersihkan?jangan terjebak oleh prasangka dan emosi yang dapat menurunkan kapasitas kita,

karena sesungguhnya, kewajiban kita masih jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia  🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Security