Ketika Setia Membutuhkan 1001 Alasan

Ketika Setia Membutuhkan 1001 Alasan

(ketahanan keluarga )

“ketika setia pun membutuhkan 1001 alasan…”
kalimat itu terngiang-ngiang di telinga saya 1 pekan terakhir ini dan pd akhirnya mengantar saya membuat tulisan ini.

Sore itu, di hadapan saya duduk seorang wanita cantik. Wajahnya tertunduk ketika harus menyampaikan pelaporan ats perselingkuhan dan tindakan asusila yg dilakukan suaminya, yang ia lihat scr langsung.
————

beberapa hari sebelumnya, di hadapan saya ada 2 pasangan muda belia tengah berdebat hak asuh. Sang istri tidak kalah cantiknya, bahkan msh sangat muda. Dengan nada berapi api ia yakin dengan keputusannya untuk bercerai di usianya yg masih 20 thn karena dari suaminya ternyata sudah memiliki wanita idaman lain.

———-

sebelumnya, kisah serupa pun saya dengar dari org2 terdekat saya, dengan tema yg sama : kesetiaan. Dengan berbagai alasan yang berbeda : para lelaki itu menemukan sosok yang “lebih” di luar pernikahannya : lebih cantik, lebih muda, lebih keibuan, lebih menarik….dan berbagai alasan yang tidak bisa dideskripsikan. Alasan-alasan itu kadang menyusup dalam hati dalam bentuk yang sangat halus, kemudian menggoyahkan kesetiaan.
———–

Setiap klien adalah guru, dan setiap kasus yg saya temui adalah pengalaman belajar yang luar biasa. Dan, berturut turut dengan tema yg sama : kesetiaan. Tentunya Allah sedang mengajarkan sesuatu.

saya tertegun, merunduk. Ingatan saya berputar..

tetiba teringat obrolan santai seorang teman laki-laki saya semasa SMP dulu. Dia pernah mengatakan : ” seorang laki-laki akan mencari 3 sosok dalam diri seorang perempuan : sebagai istri yg dapat melayani dgn baik, sbg teman yg bs jd partner untuk melewati hari-harinya, dan sbg ibu yg dirindukan krn kehangatan sehingga menjadi tempat ia berpulang…dan, mereka tidak puas sebelum menemukan 3 sosok itu dalam diri seorang perempuan..”

saya masih ingat ekspresi wajahnya saat mengatakan itu, begitu santai, dan saya hanya tersenyum karena saat itu saya blm bisa membayangkannya.

Seketika kalimat itu hadir kembali, memasuki ingatan saya dan membuat saya bertanya. Benarkah?alasan itukah yg membuat para pria-pria itu berpaling dan mencari kesenangan di luar istrinya?

terlepas dari benar-tidaknya, rasanya bab ini perlu menjadi perhatian dan proses belajar bagi saya pribadi. Bahwa ternyata : untuk bisa setia, kita butuh alasan. Bahwa kesetiaan bukanlah hal yg otomatis. Tapi perlu dibangun, perlu diupayakan, perlu alasan yg kokoh.

Alasan, ya. Saya sepakat kita perlu alasan.

saya teringat obrolan santai lainnya, kali ini dari teman wanita saya bbrp bulan sebelum dia menikah, saat dia bercerita pd saya dia meminta calon suaminya menuliskan alasan setiap harinya mengapa ia mau menikahinya. Alasannya ialah agr ketika mereka sudah menikah, lalu seketika mereka kehabisan alasan untuk mencintai dan hidup bersama, buku itu bisa menjadi saksi bahwa mereka punya alasan yang sangat banyak.

…. “jika seketika aku kehabisan alasan untuk mencintaimu, atau aku kehabisan alasan untuk tetap bertahan bersamamu… ”

kalimat ini agk rancu buat saya yg saat itu sudah lebih dulu menikah, bukan karena saya dan suami tidak punya buku semacam itu, tapi karena pada kenyataannya, alasan-alasan itu pun adakalanya habis juga.

“aku menikahimu, karena kamu cantik, karena kamu manis…karena kamu yg paling mengerti aku…karena kamu, satu-satunya yang menerima aku apa adanya….karena kamu yang…..”

———

ada kalanya, alasan itu pun luruh dan seolah jd dilupakan, seiring dengan waktu, seiring dgn ujian pernikahan, seiring dengan banyaknya hal lain di luar sana yg lebih cantik, lebih muda, lebih mengerti, lebih lainnya…..

saya sering bertanya pada pasangan yang ada di ambang perceraian mengenai visi misi awal menikah, mengenai alasan yang memantapkan keduanya menikah, mengenai kebaikan pasangan…dll
sebagian besarnya (khususnya pd kasus yg berat) mengatakan bahwa semua itu hanyalah mimpi yang kosong.Bahkan diantaranya mengatakan sangat menyesal telah mengambil keputusan pernikahan.

“Apapun bisa terjadi, kita tidak tau kemana takdir membawa kita bu….” — itu biasanya jadi kalimat akhir yang saya dengar dr mereka.

——–
saya tertegun, semakin merunduk

kali ini saya teringat nasihat seorang ustadzah sepekan setelah saya menikah :
” dinamika pernikahan itu tidak seperti yg dibayangkan dalam cerita. Di dalamnya penuh kejutan untuk dipelajari. Akan ada fase-fase untk memantapkan pondasi di tahun-tahun pertama, dimantapkan lagi di 5 tahun berikutnya, diuji lagi di 10 tahun berikutnya…dll. Ada bahagianya, tidak jarang juga menangisnya. Bisa jadi, kita bahkan akan kehilangan alasan untuk mencintai&hidup bersamanya. Jika itu terjadi, ingatlah satu alasan : ketaatan pada Allah, atas janji yg sama-sama kalian ucapkan di hadapan Allah sewaktu akad dan disaksikan para malaikat…”

————

Aha!
saya mulai menemukan benang merahnya, tentang apa alasan itu. Alasan itu haruslah sesuatu yang sangat mendasar, yg digantungkan pada yg maha besar, bukan pada sesuatu yg sifatnya relatif.

Alasan itu adalah ketaatan pada Allah, yang pada akhirnya memantapkan iman, dan mengkokohkan komitmen.

benarlah jika Islam menganjurkan kita memperhatikan point agama diantara sekian alasan untuk kita menikah,
karena dengan agama, visi pernikahan akan memiliki kerangkanya, akan memiliki batasannya. Bukan sekedar “menurutku, menurutmu” atau perkara “bagaimana enaknya”

Islam punya pedoman, punya batasan bahkan contoh yang nyata yg bisa ditauladani dari Rasulullah. Karenanya seorang sahabat pernah berkata : “nikahilah pria yg shaleh, jikapun ia tidak mencintaimu, ia tidak akan menyakitimu…”

terlepas dari berbagai dinamika yg juga tidak kalah banyaknya dalam bab agama ini, tp saya sepenuh penuh percaya, bahwa inilah pedoman yang paling bs saya pegang, untuk memastikan roda pernikahan tetap pada tracknya, bahwa kami sedang berjalan pada relnya. Islam sangat memberi kejelasan mengenai hak dan kewajiban pasangan, tentang adab ketika menjumpai konflik, tentang musyawarah, tentang akhlaq kepada pasangan,dll….

selanjutnya, barulah kita akan membahas hal lain-lain seperti keterampilan komunikasi pasangan, kemampuan untuk menjadikan diri sebagai wanita yang dicintai oleh pasangan, dll….

perenungan saya malam itu ditutup oleh diskusi antara saya dan suami mengenai alasan mengapa harus setia.Kesetiaan adalah implementasi iman dan menuntut kekokohan dalam memegang komitmen.
Masing2 pasangan tentunya memiliki janji/komitmen yg dibangun bersama pasangan, yang selanjutnya menjadi aturan tidak tertulis yg dipatuhi bersama.

Setalah point mengenai iman dan ketaatan kepada Allah. Saya coba merangkum 5 komitmen yg kami pelajari dari beberapa nasehat pernikahan. Tentunya ini bukanlahnya laporan pencapaian, melainkan sebagai catatan untuk saling menguatkan komitmen, smg bs bermanfaat..
(teman-teman lain boleh menambahkan ya)

  1. komitmen untuk saling menyempurnakan

pasangan kita bukanlah sosok yg sempurna. Banyak kejutan setelah menikah yang tidak semuanya kita sukai&bisa kita terima dari pasangan. Mulai dari hal yg besar sampai hal yang bisa jd sangat sepele. Akankah kita memperdebatkannya?lalu mencari kekurangannya di luar?
kami sepakat tidak, karena tidak akan ada habisnya. Kitalah yang akn bersama menciptakannya, saling membantu untuk bisa menjadi pasangan yang disukai. Mudah? tentunya tidak.
Sama2 berjalan menikmati prosesnya, bukan menunggu di garis finish. Dgn kesabaran dan izinNya, kita akan menjadi saksi dari setiap metamorfosa peran dan kematangan pasangan kita, insyaallah.

  1. komitmen untuk saling mengembangkan

hidup bersamanya bukanlah hitungan 1-2 tahun, tapi kita pernah berjanji sehidup semati dengannya. Kami sepakat pernikahan adalah bersatunya 2 kehidupan. Di dalamnya ada harapan dan kekuatan yang harus diteruskan. Karenanya penting untuk mengenali dan memahami pasangan kita : mimpi-mimpinya, kebiasaannya, kekurangan, kelebihannya.
Hal ini akan memudahkan kita menyusun tujuan bersama, sehingga apapun yang akn diputuskan/dilakukan oleh salah satunya adalah hal-hal yang mengarah pada tujuan bersama.Saya pribadi terbantu dengan adanya “rapat kerja”, dimana kita saling berdiskusi rencana2 ke depan dan mengevaluasinya scr rutin. Di moment2 ini, kita berdiskusi sbg tim, termasuk di dalamnya pembagian peran dan dimana kita bisa saling mengisi dan memberikan support.

  1. Komitmen untuk saling membahagiakan

point ini adalah nasehat yg kami coba operasionalkan dari nasehat pak Tauhid Nur Azhar pada tausyiah nikah dalam pernikahan kami. Beliau menyampaikan bahwa : “indahnya pernikahan bisa dicapai melalui hal sederhana : sediakan hati yang tulus untuk mencintai dan dicintai pasangan kita ”
menikahi orang yang sempurna sesuai harapan kita adalah kemungkinan, tapi mencintai orang yang kita nikahi adalah suatu kewajiban.
Nasehat ini mengajarkan saya untuk melihat pasangan kita sebagai sebaik baik paras, sebaik-baik hati…dan kebaikan lainnya. Sudah tidak lagi lirik kanan-kiri, mengkhayalkan jika ini – jika itu, dll.
melihatnya dengan tulus, dengan hati sehingga insyaallah kita akan melihat banyak sekali kebaikan yang ia miliki.
definisi cantik/tampan, manis, menarik akan punya definisinya sendiri…dan menjadi sangat spesifik, personal — karena hanya kita yg memahaminya. Dan insyaallah menjadi definisi yg tidak mudah tergantikan, amiin.

Kalaupun di luar ada yg lebih baik, tundukkan pandangan dan bisikkan dalam hati : “itu bukan milik kita” — dan belumlah akurat karena kita tidak melihatnya mendalam seperti kita melihat pasangan kita.

  1. Komitmen untuk tetap memberikan ruang personal

point keempat ini juga merupakan rangkaian nasehat dari Pak Tauhid Nur Azhar, 6 thn lalu saat beliau memberikan nasihat ini saya belum paham. Beliau berpesan : “dalam menikah, kadang memang perlu ada ruang misteri, tidak semua hal dari pasangan harus kita pahami. Tetaplah berikan ruang. Karena kejutan-kejutan dari pasangan inilah yang akan membuat cinta terus bertumbuh”

saya dan suami mencoba mengoperasionalkannya dengan membiarkan proses pengenalan diantara kami berlangsung alamiah dan tetap memberikan masing2 ruang personal. Setelah kami saling memahami mimpi masing2 dan menyepakati blue print bersama, kami memberikan kebebasan (selama tidak melanggar syariat) untk membangun “inner world” .

contoh sederhana saya berupaya memahami keasyikannya dengan laptop dan aktivitas pribadi yg menyenangkan dirinya. Meski hanya sekedar potong rambut, bekam,lari pagi, menabung untuk membeli barang2 favoritnya, dll. Begitu juga dengan saya. Kadang2 suami sengaja membawa anak2 jalan agar saya bs beres2 dg khusyu, meninggalkan saya di toko alat tulis sendirian atau sekedar memasak cemilan ketika teman2/adik2 mahasiswa main ke rmh.

Kami sepakat tdk perlu ada ritual razia hp, bertukar sandi akun sosmed, atau saling membuntuti kamu dimana-dengan siapa-sdg berbuat apa, hihi.
Banyak moment dimana kami saling berbincang ide masing2, tanpa perlu dinilai/diintervensi (selama tdk di luar syariat). Kadang2 beliau ‘membiarkan’ sy mencoba suatu hal yg sbnrnya sudah terlihat dalam penilaiannya tdk efektif/krg baik, hingga saya mengalaminya sendiri. Kami belajar saling menahan diri, untuk memberi porsi yg tepat dengan tidak meng kedepankan ke “aku” an, melainkan memahami apa&bagaimana yg “ia” maksudkan.

Hal sederhana yg pada akhirnya membantu kami merasa sama2 hidup merdeka : ruang kepercayaan.Terkadang, ruang2 itu tidak selalu bs dijelaskan. Tidak selalu harus dikonfirmasi, tapi begitu memberi arti,

  1. komitmen untuk mengembalikan segala konflik dan perbedaan pada Qur’an dan shunnah

konon katanya, pernikahan adalah bersatunya 2 hati yg ikhlas dan saling memaafkan, karena kalau ukurannya logika, kita tidak akan pernah selesai, karena masalah akan sll ada.

saya banyak diingatkan untuk berani menghadapi perbedaan. Bahwa pernikahan isinya tidak melulu soal hal yg indah. Bahwa konflik adalah sebuah hal yg harus dihadapi dan bisa diselesaikan.

Setiap ada konflik, upayakan tetap ada yg menjaga kayuh layarnya–tidak boleh keduanya hanyut dalam situasi emosi.
Apabila dirasa sedang “panas”, saya berupaya untuk memberi masing-masing wkt untuk sendiri. Dan kami berkomitmen untuk mengecek amaliyah masing2. Entah bagaimana korelasinya, saya menemukan ada hubungan yg kuat, antara hubungan kita dgn Allah dan ketenangan hati. Hati yg jauh dari Allah, amaliyah harian yg berantakan membuat keimanan kita menjadi mudah goyah, dan akhirnya mengaburkan kita pada tujuan akhir yg hakikinya sehingga syetan menyibukkan kita pada hal2 yg berlebihan, dengan rasa was-was, curiga, dll.

Mengembalikan masalah pada qur’an dan shunah meminimalisir kita untuk terbawa emosi dan menjadikan kita lbh objektif dalam melihat masalah. Kita ini kenapa, mencari apa, bagaimana Al Quran memiliki solusinya. Di titik sana kita akan mulai menyelesaikannya.

wallahualam bi shawab,

tulisan ini tidak ditulis untuk menggurui siapapun, hanya merupakan catatan hikmah dari berbagai nasehat pernikahan yg kami dapatkan, smg bs menjadi alasan yg memantapkan komitmen untuk tetap setia, pada tujuan akhir kita : Ridha Allah, sbg pasangan yg dirindu syurga, Amiin.

“commitment is the glue that bonds you to your goals ”

teman-teman FB lainnya yg mau berbagi alasan lain untuk setia, boleh ditambahkan pada kolom komentar ya,

insyaallah menjadi pelajaran yg berharga untuk kita semua. Hanya Allah lah pemilik hati. Smg Allah menetapkan hati kita dalam agamaNya, amiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Security