(masih) tentang sesosok Ayah : Apa dan Bagaimana Ayah Belajar?

(masih) tentang sesosok Ayah : Apa dan Bagaimana Ayah Belajar?

Setelah di tulisan sebelumnya kita membahas soal berbagai tipe Ayah

Hari ini kita coba menengok apa dan bagaimana seorang Ayah belajar dan mengembangkan sifat ke’Ayah’annya

Berbagai tipikal Ayah muncul karena banyak faktor dan latar belakang.Beda pembentukkan,beda hasilnya.

Meski sejatinya,naluri dan fitrah sebagai Ayah dimiliki oleh semua pria,tapi tidak semua fitrah itu tumbuh sumbur dan matang karena berbagai hal.

Diantara kita mungkin ada yang beruntung mendapatkan pasangan yang cepat belajar menjadi Ayah sejati : Ayah yang menjadi hero,family man, favorit istri dan anak-anak

Tapi tidak sedikit dari kita yang belum mendapatkannya

Saya sering belajar dari melalui cerita teman maupun klien bagaimana mereka berupaya sekuat tenaga agar pasangannya bisa menjadi pasangan yang baik dan Ayah yang sejati

Ada yang diuji dengan pasangan yang emosional sehingga begitu ringan ucapan dan tangannya untuk berkata dan berlaku kasar pada istri dan anak-anak

Ada Ayah yang cueknya super duper sehingga ibu harus menghandle semua tanggungjawab rumah dan anak-anak sementara Ayah tak kunjung peka untuk meringankan beban Ibu

Ada Ayah yang hobinya main,asik dengan dunianya sendiri dan belum paham dengan tanggung jawabnya

Ada Ayah yang belum tergerak untuk gigih mencari nafkah sehingga istrinya ketar ketir

Ada Ayah yang hadirnya tak memiliki daya pengaruh bagi istri dan anaknya

dan lain sebagainya,
Fenomena itu banyak terjadi

Ayah adalah nahkoda tapi ia tidak semua Ayah berkesempatan memegang kendali bahtera rumah tangganya

Nobody is perpect ya
Untuk jadi Ayah paket lengkap tentunya punya segudang cerita dan latar belakang

Saya mempelajari ada tiga faktor besar yang mempengaruhi proses belajar menjadi Ayah yang sejati :

√Pertama, pendidikan masa kecil

Kita tidak bisa memungkiri ada pengaruh pengasuhan dan pendidikan yang diterima Ayah saat ia masih kecil, khususnya pada perkembangan fitrah seksualitasnya (periode kritisnya pada usia 10-14 tahun, insyaallah nnti kita bahas juga point ini ya)

Jika fitrah seksualitas ini mendapat kesempatan untuk tumbuh baik, seorang anak akan mendapatkan model dan pengalaman untuk mengembangkan fitrah gendernya, sebagai laki-laki atau perempuan sejati

Bagaimana Ayah dulu diasuh,seberapa dekat Ayah dengan orang tuanya, bagaimana Ayah dulu melihat sosok bapaknya adalah faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajarnya hari ini, saat ia telah menjadi Ayah

√ Kesempatan belajar

Bagaimana kalau semasa kecil Ayah tidak mendapatkan pembelajaran peran yang memadai?

Point kedua ini bisa jadi jawabannya

Manusia adalah makluk pembelajar, begitu juga Ayah

Beberapa tipe Ayah ada yang mendapatkan kesempatan mengembangkan sifat kelaki-lakian nya dari significant person lain di luar rumahnya : dari kakek, uwa, om, kakak laki-laki dan lain sebagainya.Juga bisa mengembangkannya lewat banyak tempat : bangku sekolah, kuliah, tempat kerja, tempat kajian agama, dll

Nah, setelah menikah Ayah seharusnya mendapatkan sebaik baik teman belajar, yang akan menyempurnakan proses belajarnya

siapa dia?

Ia adalah istrinya, ibu dari anak-anaknya

Yap,setelah menikah adalah proses belajar yang sesungguhnya untuk Ayah

Biasanya gak langsung terampil ya, karena fitrah ke Ayah an itu harus diasah dan dilatih

Untuk bisa terasah dan terampil Ayah perlu kesempatan belajar : ia perlu panggung sebagai tempat aktualiasasi, menguji coba kemampuan dirinya.
Ia perlu diberi kepercayaan, perlu diberikan waktu, perlu ditemani belajar

bagaimana caranya?
(bagian ini insyaallah dibahas di tulisan selanjutnya ya)

√ Ketiga, Faktor Pendukung Lainnya

Faktor lain yang tidak kalah penting ialah hal-hal lain yang terjadi di luar keluarga, salah satunya ada karakteristik pekerjaan, kebijakan kantor, rekan kerja,orang di luar keluarga inti dan lainnya.

Tentu ada cerita dan tantangan berbeda dari para Ayah yang menjalani Long Distance Married, Ayah yang tinggal di rumah mertua, Ayah dengan tugas pekerjaan yang menuntut waktu dan tenaganya banyak terkuras di luar, dan lain lainnya.

Semua faktor di atas terangkai, menjadi sebuah proses belajar
Karena menjadi Ayah lengkap ini bukanlah proses instan
Perlu waktu, perlu proses dan tentunya perlu teman belajar

Karena punggungnya memikul beban yang tidak sedikit
Ia tidak hanya memikul tanggung jawab dunia
Tapi juga tanggung jawab akhirat bagi istri dan anak-anaknya

Ia bertanggung jawab mendidik gadis kecilnya tumbuh ayu dan piawai menjaga kehormatannya
Ia mendidik jagoan kecilnya untuk memiliki jiwa maskulin dan mewarisi kepempimpinannya
Ia menjaga, melindungi istrinya agar tetap merasa nyaman dan tentram di kala dekat dan jauh

masyaaAllah, semoga para Ayah dikaruniakan kemampuan belajar yang tiada henti untuk memikul tugas mulia sebagai pemimpin keluarga,

dan semoga para Ibu dimampukan, untuk menjadi sebaik baik teman belajar sejatinya, amiin

Insyaallah di tulisan selanjutnya kita bahas khusus soal Teman Belajar Ayah ya

semoga tulisan ini bermanfaat, monggo para Ayah dan Bunda menambahkan sharingnya di kolom komen ya, atau masuk ke diskusi@sofianaindraswari.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *