Mempersiapkan Calon Ayah (mendidik fitrah seksualitas anak laki-laki)-Bagian 2

Mempersiapkan Calon Ayah (mendidik fitrah seksualitas anak laki-laki)-Bagian 2

  • Alhamdulillah, sampai pada bagian kedua dari bahasan pendidikan fitrah seksualitas pada anak laki-laki.

Sejujurnya sambil dagdigdug saya menulisnya. Sambil menulis sambil membayangkan wajah putra saya, Azzam yang kini masih berusia 5 tahun. Membayangkannya akan menjadi laki – laki dewasa, menjadi suami dan Ayah dari anak-anaknya nanti.

Aaah masyaaAllah. Kadang masih belum 100% sadar bahwa proses persiapan itu dimulai dari sebuah sentuhan pada wajah kecilnya saat ini.

Sebuah sentuhan, pelukan dan semua kebersamaan kami bersamanya saat ini kelak dikenang dan menjadi pondasi bagaimana ia akan memperlakukan anak-anaknya kelak.

Terbayang sejauh itukah Ayah Bunda?
Inilah mengapa perjalanan sebagai orang tua itu luar biasa mulianya. Kita tidak hanya sedang mendidik bocah kecil, kita mendidik sebuah generasi.

Dulu sebelum menikah, saya sering mendengar nasehat : “Carilah laki-laki yang sayang pada Ibunya, Insyaallah ia akan pandai juga menyayangi istrinya…

Dulu meski belum kebayang, saya mengikuti nasehat itu. Point ‘sayang ibu’ menjadi salah satu kriteria penting bagi saya saat memilih pasangan. Saat ada ikhwan yang datang dan bermaksud melamar, saya mengamati bagaimana ia mencintai Ibunya. Saya membuka dialog saat  ta’aruf dengan pertanyaan : “Apa arti ibu untukmu?, “Seperti apa kamu melihat kedua orang tuamu?”

Saya mengamati setiap jawaban yang keluar sambil membayangkan bagaimana situasi di rumahnya, seberapa dekat hubungan mereka dan bagaimana proses pendidikan yang ia dapatkan di rumahnya.

Dulu saya terkesan dengan Ayah Azzam hanya karena saya melihatnya membungkuskan sebuah sayur asem saat kami sedang makan bersama di sebuah kegiatan. Dia pun sepertinya gak tau saya diam-diam mengamati kalimat dan cara bicaranya saat ia bilang : “Wah, sayur asemnya enak. Boleh saya bungkus? Ibu saya suka sekali sayur asem. Ibu saya pasti senang kalau saya bawakan..”  Aaah, rasanya seketika ada desiran angin yang membuat wajahnya keliatan ganteng sekali saat itu, wkwkkwkw.

Aaah, jadi cerita nostalgia ya. Cerita ini tidak pernah saya ceritakan pada orang lain karena mungkin tidak banyak artinya. Tapi buat saya sangat berarti. Sayur asem itu jadi sebuah tanda cinta sederhana. Menggambarkan sebuah kelekatan, sebuah ikatan cinta.

Ya, itu bagian dari cinta. Bagian dari pendidikan seorang laki-laki yang diberikan seorang Ibu pada anaknya. Alhamdulillah hipotesa saya benar. Setelah saya mengenalnya lebih dalam, saya bisa merasakan bagaimana beliau telah mempersiapkan suami saya jauh-jauh hari, untuk bisa memikul tanggung jawabnya sebagai suami dan Ayah.
Beliau tidak mendidik dengan banyak kata dan perintah, tapi beliau membuat suami saya merasa dicintai dan pondasi itu dibawanya hingga dewasa. As simple as that, sebuah ketulusan cinta tanpa syarat.

Cinta (0-2 tahun)
Ya, Cinta menjadi hal pertama dan utama yang diperlukan seorang anak untuk membangun fitrah seksualitasnya. Sejak awal kelahiran sampai dua tahun pertamanya Ibu menjadi significant person (tokoh utama)  yang membangun cinta ini. Bagaimana anak merasa diterima, disayangi, dibutuhkan dan merasakan kenyamanan akan diri dan lingkungan dibangun oleh sebuah proses kelekatan yang baik dengan Ibu.
Ajaib! Inilah alasan mengapa menyusui sampai usia 2 tahun bukanlah sekedar anjuran kesehatan, tapi Allah tuliskan sebagai perintah langit. Karena ada banyak keutamaan di dalamnya. Proses bonding : sebuah cinta tak bersyarat.

Kemandirian (3-6 tahun)

Memasuki usia 3 tahun, anak memasuki fase untuk mengenali dirinya secara utuh. Ia mulai mengembangkan otonomi,  mengenal “area” nya, mengembangkan sisi individualitasnya. Setelah proses penyapihan, ia mulai belajar rasa nyaman sebagai dirinya sendiri meski terlepas dari Ibu.
Di masa ini Ayah dan Ibu berperan sama besarnya dan harus seimbang. Ibu memberi sumbangsih untuk mendidik anak laki-laki mengenali perasaan (aspek emosional) dan Ayah hadir sebagai sosok yang memberikan sumbangsih aspek rasional.

Jatuh itu memang sakit nak!” , bahwa sakit adalah sebuah konsekuensi dari jatuh. Bahwa jatuh itu bisa terjadi terjadi ketika kita terburu buru atau tidak hati hati berjalan.
Bahwa jatuh itu bukan salah lantai, bukan salah kodok lewat  🙂

Bagian-bagian seperti ini adalah salah satu tugas perkembangan pola berpikir rasional anak laki-laki, dan banyaknya Ayah yang lebih piawai alias lebih ‘tega” menyampaikannya tanpa perlu pasang wajah melow seperti Ibu.
Di sisi lain, Tapi Ibu perlu hadir untuk menyeimbangkan rasio dengan emosionalnya. Bahwa marah itu boleh, kesal itu bisa terjadi, bahwa mereka tetap bisa menangis di pelukan Ibu dengan nyamannya tanpa perlu ditekan dengan doktrin : “anak laki-laki kuat gak boleh nangis!

Sampai usia 3-6 tahun, Ayah dan Ibu perlu bekerjasama untuk membangun keseimbangan emosi dan rasio. Masa ini bukanlah masa untuk diberikan beban karena anak belum bertanggung jawab secara moral. Tugas Ayah Ibu adalah menumbuhkan kepercayaan diri, mengembangkan kekuatan dirinya. Saat ini adalah masa perkembangan ego individualitasnya. Jika masa ini terbangun baik, maka ia akan lebih mudah beradaptasi untuk membangun sosialitas di usia selanjutnya.

Masa Mencontoh Peran Ayah- Ibu (7 – 10)

Usia 7-10 tahun adalah golden age untuk perkembangan fitrah belajar dan bernalar. Pola pikir anak laki-laki di usia ini sudah mulai bisa bergeser dari pola egosentris (berorientasi pada diri sendiri) ke arah  pola pikir arah sosiosentris (mulai memahami keterkaitan lingkungan dengan diri dan mulai mengenal tanggung jawab sosial). Inilah mengapa perintah shalat dimulai saat usianya 7 tahun.

Bagaimana mendidik fitrah seksualitasnya?
Pada usia inilah sudah mulai ada fokus pendidikan gender. Anak laki-laki harus didekatkan pada Ayahnya dan anak perempuan dengan Ibunya. Anak laki-laki kita akan menyerap dan belajar banyak hal mengenai lingkungannya, dan sumber belajar terbaiknya adalah Ayah. Relasi yang dibangun : children as worker/learner dan parents as guide/coach.
Inilah saat terbaik melibatkannya untuk belajar melaksanakan perintah/ibadah secara terbimbing. Ayah mengajaknya pergi ke masjid, membacakannya banyak kisah heroik mengenai perjuangan Rasul yang pemberani, melibatkannya dalam berbagai aktivitas maskulinitas : mencuci mobil, memperbaiki benda rusak.

Di masa ini, para Ayah perlu  menunjukkan kepemimpinan dan kewibawaan. Ketegasan, konsistensi dan berbagai sisi maskulitas Ayah dipelajari dan direkam oleh anak-anak.

Penguatan Peran Ayah ( 10-14)
Masa Aqil Baligh (>15 tahun
)

dua tahap selanjutnya insyaallah di tulisan berikutnya ya

#30DWC
#30DWCjilid8
#day 20

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Security