Mempersiapkan Calon Ayah ( Mendidik Fitrah Seksualitas Anak Laki-Laki)

Mempersiapkan Calon Ayah ( Mendidik Fitrah Seksualitas Anak Laki-Laki)

Konon katanya, memiliki anak laki-laki berarti punya tanggung jawab lebih besar dibandingkan anak perempuan, betulkah?

kenapa?
karena tanggung jawabnya lebih besar. Kita sedang mendidik para calon pemimpin, calon imam, calon Ayah yang kelak akan bertanggungjawab pada keluarganya, pada istri dan anaknya.

Saya melihat bagaimana proses menjadi seorang Ayah bukanlah sebuah proses yang mudah.  Banyak para Ayah yang ‘gagal’ menjadi Ayah bukan karena ia tidak mampu, tapi karena ia tidak cukup bekal, tidak cukup belajar. Alhasil, setelah menjadi Ayah ia kikuk, bingung harus bagaimana memperlakukan wanitanya dan keluarganya dengan baik.

Sebut saja namanya Mr.Budi (bukan nama yang sebenarnya), kawan saya seorang pria berusia 35+ yang sampai kini masih kebingungan dengan perannya sebagai Ayah, padahal usia pernikahannya sudah menginjak tahun ketujuh dan sudah dikaruniai 3 orang anak. Mr. Budi ini tipe Ayah tukang main, sebagian besar waktunya habis di luar rumah, dengan berbagai kegiatan kongkow dan tak jarang bersinggungan dengan gadis-gadis muda. Ia hampir tidak terlibat dalam pengasuhan dan “belum” merasa penting untuk melakukan tanggung jawab terhadap istri dan ketiga anaknya. Ia bisa tak pulang berhari-hari karena ‘main’ di luar, juga bisa tetap nyenyak tidur dan bermalas-malasan sementara anak-anaknya menangis di kanan kirinya. Nyaris tidak ada rasa bersalah.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan istrinya?

Iyes!! bukan hanya ketar ketir, setiap saya menjumpainya di sesi konseling wajahnya kuyu dan matanya berat menahan tangis. Beban pernikahan terasa berat sebelah, dan membuatnya tidak sanggup.

Apa suaminya paham beban itu?tidak.

This is my world, and I’m Happy” katanya pada saya. Kalau bukan sedang memposisikan sebagai psikolog yang lagi mengkonsul rasanya pengen jitak kepalanya, tapi saat itu mencoba memahaminya dari sisi yang lain, bahwa ia belum memahami perannya. Bahkan lebih jauhnya lagi ia belum matang dalam perkembangan seksualitas, sebagai laki-laki sejati. Saya tertarik menggalinya, mengapa bisa begitu?

Pada kasus Mr.Budi ini rupanya ia nyaris tidak punya role model tentang bagaimana menjadi Ayah yang sejati. Kedua orang tuanya dulu sibuk bekerja, hampir tidak ada kedekatan dengan kedua orang tuanya. Ia banyak menghabiskan waktunya dengan bibi (pengasuh) dan aneka fasilitas yang tersedia di rumahnya. Ia melihat sosok Ayah banyak di luar rumah dan tak hadir di rumah, hanya sesekali saat liburan panjang. Itupun tetap dengan pekerjaan ini itu.

Ya, ia kehilangan kesempatan belajar dan nyaris tak punya bekal. Wajah tampan dan uang berlimpah tak cukup untuk modalnya memasuki gerbang pernikahan. Banyak lubang, banyak fase perkembangan yang terlewati.

Saya tidak akan bahas kasus itu di tulisan ini, tapi kisah Mr. Budi menjadi pelajaran penting bagi saya yang punya anak laki-laki untuk bisa mempersiapkannya menjadi seorang Ayah sejati kelak, bahwa saya dan suami memiliki tanggung jawab yang besar.

Sosok Ayah dan Ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak-anak dari lahir sampai usianya aqil baligh agar fitrah seksualitas itu tumbuh subur, matang, paripurna.

Aaah, luar biasa ya.

Mari kita tengok apa sebenarnya fitrah seksualitas itu?

Fitrah seksualitas itu berbeda dengan pendidikan seks. Sederhananya, fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai laki-laki sejati ataukah perempuan sejati. Proses pembentukkannya sangat bergantung pada kehadiran dan kedekatan anak dengan orang tuanya. Pendidikan seksualitas ini terbawa sejak lahir dan terus berkembang sampai usia aqil baligh dan mencapai golden age nya di usia 10-14 tahun.

Kenapa berhubungan dengan kehadiran orang tua?

Banyak riset yang mendukung soal hubungan antara kehadiran orang tua dengan perkembangan fitrah seksualitas. Tapi secara sederhananya, hal ini bisa dijelaskan. Orang tua adalah sosok pertama dan terpenting yang dimiliki seorang anak ketika lahir. Orang tua adalah modal, panduan kehidupan yang Allah kirimkan bersamaan dengan hadirnya seorang anak. Ia adalah sosok pertama yang dikenal oleh anak-anak. Sejak mereka lahir, ia mengenal kita melalui sentuhan, suara, wajah dan seterusnya seluruh sikap dan perilaku kita menjadi panduan belajar untuknya, ia rekam, ia ingat, ia persepsikan sampai menjadi sebuah sikap.

Bagaimana proses perkembangan fitrah seksualitas itu?  

Meski kedua sosok (Ayah dan Ibu) harus senantiasa hadir dalam perkembangan fitrah seksualitas, tapi ada pembagian peran yang berbeda untuk setiap tahapnya.

  • usia 0-2 tahun : anak-anak didekatkan pada Ibunya karena proses menyusui. Significant person utama adalah Ibu
  • usia 3-6 tahun :  anak harus dekat dengan Ayah dan Ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional. Pada usia 3 tahun, anak sudah harus bisa memastikan identitas seksualitasnya : saya ini laki-laki atau perempuan?
  • usia 7-10 tahun : seorang anak laki-laki harus didekatkan pada Ayah dan anak perempuan pada Ibunya. Pada usia ini pada anak laki-laki sedang mengalami proses pembentukkan proses berpikir dari pola egosentris ke pola sosial. Anak sudah mulai mengenal apa itu tanggung jawab sosial dan sudah mulai dikenalkan dengan perintah shalat
  • usia 10-14 tahun : merupakan tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas berada pada puncak perkembangannya. Biasanya anak laki-lakinya sudah mengalami ciri-ciri kematangan seksualitas. Mulai masuk fase puber, dan disinilah proses belajar terbaik untuk mengajarnya mengenai peran kedewasaan dan kesejatiannya sebagai laki laki. Hal seperti apa yang harus kita lakukan dalam proses menumbuhkan fitrah seksualitas? kita sambung pada tulisan berikutnya ya#30DWC
    #30DWCjilid8
    #day19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *