Mengapa Mengasuh Anak Terasa Melelahkan?

Mengapa Mengasuh Anak Terasa Melelahkan?

Pekan lalu saya bertemu teman lama yang kini sudah dikaruniai dua orang anak laki-laki yang lucu dan aktif. Hampir tidak ada hal aneh yang saya temukan dari anak-anaknya, tapi saya menemukan wajah teman saya kusut sekali. Sepanjang obrolan kami isinya adalah keluhan-keluhan, yang intinya membuat dia sangat kewalahan dan ‘kapok’ punya anak lagi.
 
Sebagian besar keluhan yang ia ceritakan adalah keluhan ‘khas’ ibu-ibu, yang mungkin dialami juga oleh saya dan ibu-ibu lainnya. Most trending topic : seputar susahnya punya waktu untuk diri sendiri, repotnya menghandle pekerjaan rumah, susahnya membuat rumah aman tentram damai dari teriakan dan tangisan bocah-bocah, sulitnya mengatur anak-anak, dll (sama ya bu ibu? most trending topic, right?)
 
Diantara diskusi kami ada sebuah kalimat yang ia ucapkan dan membuat saya tertegun :
“Aku gak yakin energiku cukup untuk ngedidik mereka dengan benar fi, rasanya aku gak cukup sabar dan telaten. Baru 4 tahun ini aja aku udah kewalahan banget.Perjalanan mereka masih panjang kan.. aku takut gak amanah fi. Gak tau deh dengan kondisiku yang gini bakal jadi apa mereka nantinya. Ngajarin mereka nurut sama aku aja aku belum berhasil, gimana lain-lainnya. Banyak banget sih fi yang harus diajarin seorang ibu ke anak-anaknya..”
 
— banyak banget sih yang harus diajarin seorang ibu ke anak-anaknya –
 
Hmm..tetiba saya dapat insight. Kalimat terakhirnya menjawab pertanyaan saya kenapa wajahnya sekusut itu.
 
saya mencoba memahami cara pandangnya soal mengasuh anak :
 
-mengasuh anak adalah mengajarkan sesuatu
-mengasuh anak adalah membuat anak-anak menurut dengan orang tuanya
-mengasuh anak berisi daftar capaian hal-hal yang harus anak-anak kuasai
-mengasuh anak adalah sebuah perjalanan panjang soal apa dan bagaimana masa depan mereka di tangan orang tuanya
 
…..
 
sekilas tidak ada salah ya, semuanya menunjukkan betapa besar tanggung jawab yang dimiliki oleh orang tua khususnya Ibu yang banyak bertanggung jawab dalam keseharian anak di rumahnya. Saya sangat memahaminya.
 
tapi ada yang terlupakan, yang pada akhirnya membuat pengasuhan itu terasa menjadi menjadi sangat melelahkan,
 
Ia dan mungkin saya sendiri juga sering lupa bahwa :
 
anak-anak kita terlahir membawa fitrah baik
 
Allah yang Maha Penyayang sudah meng installkan berbagai ‘software’ yang akan menemaninya bertumbuh, seperti yang sudah saya bahas pada tulisan-tulisan sebelumnya.
 
Anak-anak kita datang dengan cintaNya, ia memiliki fitrah belajar&bernalar, fitrah mencintai kebaikan, fitrah seksualitas, fitrah bakat dan banyak lainnya.
 
Kita tidak mendidik mereka dari ‘nol’, mereka bukanlah mesin yang perlu ditatar dan dijejal oleh berbagai aturan dan keinginan orang dewasa.
 
…..
Ayah, bunda jangan ragukan kemampuan belajarnya
 
akan terasa lelahnya jika kita sibuk menjejalnya dengan pengetahuan dan keinginan orang dewasa
 
akan ada sederet panjang target perilaku yang tidak selamanya bisa kita kejar
bahwa anak kita harus :
hormat pada Ayah ibu, sayang adik, sopan pada guru, pandai berbahasa, berhitung, cekatan, mandiri, pandai mengaji, dan sederet target lainnya yang membuat kita bisa ngos-ngosan, jika kita memandangnya sebagai objek untuk “diajarkan dan ditatar sesuatu”
 
akan terasa kurangnya, akan terasa banyak salahnya jika memandang pengasuhan adalah proses belajar satu arah, dimana orang tualah yang memasukkan semua pengetahuan pada anak-anaknya
 
proses ini adalah perjalanan cinta yang melibatkan orang tua untuk belajar bersama,
 
saya kutipkan sebuah narasi cantik tentang fitrah yang ditulis oleh ust Hari Sentosa :
 
Tak perlulah kau tanyakan keshalihan anak anakmu
Karena mereka lahir dengan membawa fitrah keimanan
Tanyalah sebarapa banyak kau sucikan jiwamu dan seberapa besar ghirahmu pada alHaq untuk mendidik fitrah mereka
 
Tak perlulah kau risaukan anak anakmu masuk neraka atau syurga
Karena semua anak yang Allah wafatkan sebelum AqilBaligh sudah pasti di syurga
Tanyalah seberapa pantas dirimu untuk mendidik makhluk syurgawi ini
 
Tak perlulah kau bimbangkan ketangguhan belajar anak anakmu
Karena semua anak sejak lahir adalah saintis, sebagai bekal fitrah berinovasi seorang Wakil Tuhan di muka bumi
Tanyalah seberapa semangat dirimu membersamai kehausan mereka belajar tanpa menjejalkan
 
Tak perlulah kau khawatir tak mendapatkan cinta tulus anak anakmu
Karena semua anak pada fitrahnya adalah pencinta sejati dan makhluk paling setia
Tanyalah seberapa besar kau mencurahkan cintamu kepadanya dengan tulus tanpa syarat
 
Tak perlulah kau cemaskan kelak anak anakmu menjadi apa dalam peradabannya
Karena semua anak sudah Allah instal fitrah bakat atau potensi uniknya masing masing yang kelak jadi peran peradaban mereka
Tanyalah seberapa ikhlash dirimu menghargai sifat unik mereka dan tidak tergesa melabelkan atau menghilangkannya
 
Tak perlulah kau gusarkan apakah kelak anak anakmu menjadi lelaki sejati atau perempuan sejati, ayah sejati atau ibu sejati
Karena pada fitrah gendernya, Allah hanya menciptakan fitrah lelaki dan fitrah perempuan
Tanyalah seberapa dekat dan seberapa banyak hadir dirimu ayah dan dirimu bunda membersamai ananda sampai AqilBaligh
 
………
 
tak perlulah banyak khawatir Ayah, Bunda..
 
mengasuh anak bukanlah sebuah beban yang menguras seluruh jiwa raga. Ini adalah sebuah proses perjalanan yang indah, penuh cinta dan ketulusan.
 
Jika kita masih merasa hal ini sebagai sebuah beban, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri sudah seberapa besar dan tulus cinta yang kita miliki. Betulkah sudah mencintai mereka tanpa syarat? betulkah sudah bisa menerima dunianya dengan utuh?
 
Mengasuh anak juga bukanlah sekedar mengajari mereka belajar, karena sebenarnya kitalah yang sedang belajar.
 
Tapi kita pun tak perlu risau, karena sebenarnya mengasuh anak tak perlu banyak teori, karena yang kita asah dan gairahkan kembali adalah fitrah yang sudah Allah titipkan pada Ayah dan bunda,
 
Saat kita mengajarnya mencintai, kita menggunakan fitrah cinta yang kita miliki
 
saat kita mengajar untuk mengenal TuhanNya, saat itu juga kita menggerakkan kembali rasa cinta kita pada ilahi,
 
dan seterusnya
 
Kita mengajar apa yang sebenarnya sudah Allah berikan lebih dulu pada kita, karenanya sebuah pengasuhan tak boleh kaku, dan cinta itu tak bisa berbohong
 
sebuah pengajaran tentang cinta dan kasih sayang akan sulit tertanam jika fitrah cinta kita pun tak hidup, jika kita hidup dengan kemarahan demi kemarahan,
 
deretan nasehat tentang iman dan ibadah akan sulit diterapkan kepada anak-anak kita jika gairah cinta kita padaNya tak hidup,
 
itulah, mengapa cinta itu perlu kejujuran
 
sebelum kita sibuk menilai apa yang kurang pada mereka,
kita harus lebih sibuk untuk mengoreksi, sejauhmana fitrah kita sebagai orang tua tumbuh dengan subur,
 
ayo sama-sama kita temukan fitrah itu Ayah, Bunda
 
seiring sejalan dengan upaya kita menggerakkan fitrah mereka, kita akan sama-sama berlatih menemukan fitrah kita kembali pada kesejatiannya
 
raise our child, raise ourselves
tetap saling mendoakan ya dear parents,
 
#30DWC
#30DWCjilid8
#day14

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Security