Mengarahkan Tanpa Menyalahkan

Mengarahkan Tanpa Menyalahkan

“Menjadi Bunda yang Tak Mudah Marah”

“kakak..ya Allah ini mainan dimana aja, sakit tau kena kaki. Nanti kalau udah ilang malah nyalahin orang lain. Ayo cepat bereskan, kalau engga mamah sapu!”

“kakaaak, nunggu apa lagi…masih belum mandi aja!!ayo cepet sekolah. Tuh liat temenmu rajin sekolahnya, mau jadi apa sih disuruh mandi aja susah!”

“Adek, kakak….ada apa lagi sih?pusing mamah dengernya berantem terus. Udah, kakak jangan gangguin adek. Ngalah dong, kakak kan udah besar, udah cepet kasihin yang adenya mau!”

—-
cung siapa yang familiar dengan kalimat di atas?
*ikutan ngacung.

Episode marah-marah nyatanya jadi hal yang gak terpisah dari perjalanan kita sebagai ibu,

seorang kawan bertanya pada saya,
“ada gak sih ibu yang gak pernah marah sama anaknya?

Mungkin ada ya, tapi jarang.

sesabar sabarnya, se pandai pandainnya menahan, lika liku mengasuh anak itu memang penuh godaaan emosi karena seorang ibu biasanya punya naluriah tinggi untuk ‘menertibkan’ situasi,

“menertibkan situasi”
Salah satu penyebab kita mudah marah marah pada anak-anak ialah karena perasaan ingin “memperbaiki” perilaku anak yang kita anggap salah, sementara kitanya merasa “benar”.

awalnya niatnya bagus ,tapi sayangnya seringnya kita sampai terlewat batas,
bukan hanya sekedar marah, melainkan jadi “marah-marah” dan tidak sedikit yang bahkan menggunakan kekerasan dengan tujuan menertibkan,

alih-alih menertibkan, biasanya malah jadi berujung lebih panjang,

selama beberapa tahun saya mendampingi banyak kasus kekerasan pada anak di Lembaga, saya semakin yakin bahwa kekerasan dalam bentuk apapun bukanlah bahasa pengasuhan. Saya melihat langsung: Luka itu membekas, dan menjadi masalah baru di kemudian hari.

Biasanya, ada 2 efek yang mungkin terjadi pada anak yang terbiasa diasuh dengan kekerasan : anak kita menjadi submisif, takut dan tidak yakin dengan dirinya sendiri atau menjadi anak yang sangat agresif, mereka mengkopi dan tidak sedikit yang pada akhirnya menjadi pelaku kekerasan pada teman-temannya.

Insyaallah mungkin kita relatif bisa menahan untuk tidak melakukan kekerasan fisik, tapi taukah bunda kalau kekerasan itu ada yang bersifat psikis?

Kata-kata yang diberikan dengan nada tinggi, hujatan dan komunikasi yang kita gunakan menggunakan bahasa yang bersifat koruptif juga termasuk dalam unsur kekerasan.

Bahasa koruptif?
Istilah ini dipopulerkan oleh Ibu Elly Risman,
Bahwa ternyata korupsi itu gak melulu soal uang, tanpa sadar kita pun bisa menjadi “koruptor” yang perlahan mengikis jiwa manis dan fitrah baik anak-anak kita dengan bahasa yang tidak tepat dan menyakiti hati,

Ada beberapa jenis bahasa koruptif yang perlu kita hindari saat kita berbicara dengan anak kita : Memerintah, menyalahkan, menyindir, mengancam, membohongi, mengkritik, men cap/me label, membandingkan, menganalisa, menasehati atau di saat yang tidak tepat, meremehkan dll.

Tidak perlu dicontohkan redaksinya ya bun, bahkan mungkin sebagiannya sudah hafal karena secara tidak sadar pernah kita lakukan.
Basanya kita baru sadar setelah kata-kata itu terlanjur keluar, terlanjur membekas.

Kalimat-kalimat itu nampak sederhana, tapi perlahan membuat kekuatan jiwanya melemah, konsep dirinya rapuh. Anak menjadi tidak PD, tidak berharga bahkan sangat mungkin menuai dendam.

aah, tentunya bukan itu kan hasil yang ingin harapkan.
Kita ingin memperbaiki sikap mereka bukan merusak.

Sesekali marah itu wajar, bahkan dalam banyak hal kita perlu bersikap tegas agar ia tau mana hal baik dan tidak baik,
tapi, kita perlu sama-sama mengkoreksi, sudah tepatkah caranya?

apakah kita sedang “mengarahkan” atau justru sedang “menyalahkan”

salah satu cara simpel yang bisa kita gunakan untuk mengeceknya ialah melihat kesudahan reaksi setelah kita marah pada anak,

apakah perilaku itu diulang pada hari berikutnya dan kita harus mengulang lagi untuk marah-marah?

Jika marah-marahnya kita tidak efektif, biasanya kita akan melihat perilaku itu diulang, lagi dan lagi

Ia kembali cuek pada mainannya, tetap tidak aware dengan tugas sekolahnya dan hal-hal lain yang sebelumnya kita coba tertibkan,

Akhirnya, ibu kembali harus marah untuk membuatnya tertib, dan biasanya tensi nya lebih tinggi,

“kakak, udah dibilang berapa kali? Kenapa gak ngerti-ngerti sih?”

“awas ya…kalau diulang lagi…bunda gak mau tau, nanti gak akan dibelikan lagi mainan. Ayo cepat bereskan, kalau engga buang semua mainan ini!!”

——-
Kalimat otoritasnya semakin menjadi ya bun, kata-kata ancaman mulai masuk

Lalu cobalah amati lagi, berulang lagi kah?
Kalau ya, tandanya….
——-
Bunda harus beli krim anti aging biar kerutan gak tambah banyak, hehe
……
Tandanya cara kita gak tepat bun, kita tidak menyelesaikan masalah.
“you just solving by the time, but not solving the problem”
——-
Iya, problemnya belum selesai sama sekali,
Ia bisa jadi bahkan tidak paham apa dan mengapa ia perlu membereskan mainannya. Otaknya merespon alarm dari “keras”nya suaranya bundanya, bukan karena kesadaran bahwa ia merasa perlu melakukan itu,

Dalam tulisan saya ini, saya ingin berbagi beberapa cara agar kita bisa sedikit mengurangi kerutan di wajah dan menjadi mamah yang gak mudah marah-marah,

1. Setiap kali merasa terjebak terjebak emosi biasakan untuk mengambil jarak dengan anak.
Contoh : ibu di dapur, lalu mendengar anak-anak menangis kencang karena rebutan. Berhentilah sejenak, atur nafas dan kendalikan diri. Kadang saya duduk dulu, minum milo dingin kalau ada,hihi. Tapi jangan lama-lama ya.
Beri waktu sejenak untuk kita menata diri. Temukan bedanya meng “advokasi” 2 bocah berantem saat kitanya tenang dan saat kitanya emosi.

2. Berlatih mengklasifikasikan jenis marah, dan temukan alasan, “apakah kita perlu marah?

Klasifikasikan dengan cepat, masalah ini masalah yang penting atau tidak penting?prinsip atau tidak?sesuaikan dengan kesepakatan yang dibuat dalam keluarga.
contoh 1: kita melihat kakak memukul adek dengan sengaja

contoh 2 : hari libur, anak terlihat santai belum mandi sementara hari sudah siang

tentunya beda reaksi dan penekanan yang perlu kita berikan pada kedua kondisi tersebut. Pada kondisi yang pertama, jelas kita perlu “menertibkan” dengan cepat, memberinya penekanan bahwa hal tersebut tidak baik. Pada kondisi kedua, kita mungkin bisa “lebih longgar” memberikan bargaining position soal kapan akan mandi.

3. Berlatih menemukan “why” dibalik perilaku menjengkelkan anak-anak kita, biasakan mendengar dulu, baru masuk untuk mengadvokasi
biasakan mendengar dulu sebelum marah-marah. Biasakan bertanya apa yang membuatnya melakukan hal yang kita anggap menjengkelkan.

4. Olah vocal mom, berlatihlah untuk bicara tidak pakai nada tinggi. Rendahkan suara, tapi tetap jaga wibawa

5. Bila merasa perlu memberi penekanan, bisa gunakan kalimat empatik yang sifatnya pengamatan, seperti :
Kak, mamah perhatikan ini sudah kesekian kali kakak menyimpan mainan sembarangan. Kemarin mamah liat mainanmu di kolong meja, sekarang ada di belakang pintu dan hampir saja kesapu. Kalau cara kakak begini, bukankah akan susah nyarinya nanti?
(ajak dia mengamati dan melihat perilakunya sendiri, lalu biarkan ia merasakan sendiri “pentingnya” melakukan apa yang kita minta)

6. Kurangi penggunaan bahasa yang banyak, fokuslah pada arahan
sampai dengan usia 7 tahun, anak-anak kita belum bisa menerima pesan panjang, fokuslah pada apa yang mau kita sampaikan, hindari ceramah panjang apalagi kalau itu tidak ada kaitannya dengan point yang ingin kita sampaikan,

contoh : “kakak, apa ini mainan berantakan di depan pintu. Kebiasaan jelek banget ini. Hampir tiap hari begini, udah dibilang berkali kali. Kakak tau gak, cucian mamah banyak banget, mamah capek. Bantuinnya engga malah nambah kerjaan aja!”

dari sepanjang kalimat itu, pointnya : “kak, simpan mainanmu, ini menghalangi jalan.”

7. Buat kesepakatan
Pada anak yang sudah lebih besar (biasanya ditandai dengan komunikasi yang sudah bisa tiktok 2 arah), buatlah kesepakatan. Tekniknya bisa pakai nomor 5, ajak anak berempati mengamati kesalahannya, lalu buatlah kesepakatan.

contoh :
Kak, mamah perhatikan ini sudah kesekian kali kakak menyimpan mainan sembarangan.Sepertinya kita perlu buat kesepakatan, biar kakak nyaman bermain dan mamah pun gak marah lagi, bagaimana kalau…..(sesuaikan dengan usia dan buatlah aturan yang disepakati bersama)

8. Puji dan beri apresiasi terhadap keberhasilannya
setelah arahan diberikan, di hari yang lain amatilah sejauh mana ia belajar untuk memperbaiki. Jangan pelit memberi apresiasi. Kalau usianya sudah besar, ia bahkan bisa diajak untuk melakukan self correcting,
biasanya, anak saya suka spontan mengeluarkan kalimat :
“bun, gimana aku hari ini, udah lumayan kan ya. Aku cuma marah-marah sama adek 2 kali, tapi terus baikan lagi. Ternyata enak ya gak marah-marah itu..”

aah, masyaallah. Rasanya gak ada kata yang lebih indah dari mendengarnya punya insight dan mendapatkan kenyamanan untuk melakukan hal-hal baik, bukan karena saya atau ayahnya, dan bukan juga karena paksaan.

Lantas apakah proses ini mudah?
tentunya tidak, tapi bukan berarti tidak bisa kita coba. Awalnya mungkin kikuk dan lebih banyak keceplosannya, tapi makin lama insyaallah akan makin terlatih.

lalu, apakah kalau marah-marahnya efektif kita akan melihatnya langsung berubah?

tentunya tidak juga. Karena kita bukanlah roro jongrang, hehe. Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Tapi saat kita memperbaiki cara komunikasi, di sanalah kita memberi kesempatannya untuk belajar, kita mengasah fitrah baik untuk tumbuh dan pada akhirnya ia akan punya navigatornya sendiri.

Selamat mencoba ya mom, insyaallah kita sama-sama belajar. Menjadi ibu yang pandai mengarahkan, bukan menyalahkan 

Insyaallah kita bisa menjadi ibu yang bahagia tanpa banyak kerutan di wajah.
bye-bye kerutan, bye bye krim anti aging 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *