Parenting 0-6 Tahun, Apa dan Bagaimana Seharusnya?

Parenting 0-6 Tahun, Apa dan Bagaimana Seharusnya?

>serial karir seorang Ibu 0-6 thn : Children as Player – Parents as Fasilitator

Kata orang yang sudah lebih berpengalaman, mengurus 1 anak itu jauh lebih repot dari mengurus 4 anak, betul ya?
Biasanya, sebagai newbie mom kita merasa menjadi orang paling sibuk di dunia, cung siapa yg sama?

Saya masih ingat waktu hamil dan mengurus anak pertama, semuanya sangat prepare dan dagdigdug takut salah. Rajin baca buku, rajin googling, rajin tanya-tanya. Per bulan perkembangannya betul-betul disimak, sebentar-sebentar nengok KMS, observasi millestone (sudah betul gak ya duduknya, harusnya sudah bisa apa ya, kelewat gak ya…kenapa ini lambat ya, kenapa anak lain lebih cepat ya). Sampai kadang urusan gigi udh tumbuh berapa juga update bgt. Belum lagi urusan MPASI homemade yang kadang masaknya lebih heboh dari masak rendang. Dan, semua gallery foto isinya bayiik semua, dari lagi bobo, lagi makan pertama dan semua aksinya jadi terasa ajaib…aaah jadi kangen punya bayi, eh  😀

Ya, itulah naluriah ya bunda
Hampir tidak ada ibu yang tidak antusias menjalani perannya. Ada dorongan besar untuk bisa memberikan yang terbaik yang kita bisa, di setiap tahapan usianya. Makin besar usianya biasanya makin kompleks juga problematikanya, dan nyatanya kita akan tau bahwa episode mogok makan ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan episode untuk mengajarnya mengendalikan emosi, mengajarinya santun dan segudang lika liku lainnya.

Semua harapan tertuju padanya, apalagi kalau dia belum punya adik. sayangnya, tanpa kita sadari, ketidakpiawaian kita mengelola harapan dan minimnya ilmu mendidik anak yang tepat membuat kita jadi gak “santai” mendidiknya. Kadang kita jadi lebih sibuk dengan targetan harus bisa ini-itu dan jadi stress sendiri ketika “rasanya” anak kita kok jauh ya dari apa yang kita harapkan. Merasa kita yang salah karena belum optimal, dan gak sedikit juga yang merasa anak-anak yang salah. Mereka yang tidak nurut, mereka yang kurang bisa mendengar, mereka yang….aaah banyak deh.

sudah 2 pekan terakhir kemarin, saya mendapat banyak japri chat, baik via email dan WA yang isinya curhatan emak-emak yang punya anak balita,

“gimana ya ngajarin anak yang efektif….umurnya 5 tahun tapi dia itu susaaah banget kalau disuruh belajar, gak mau diem, sampe sama tetangga disuruh rukiyah”
——— (saya terdiam)
“ya Allah…rasanya desperado banget, anakku gak bisa-bisa diajarin calistung nih. Udah jempalitan ngajarinnya, apa di les in aja gitu ya.. 7 bulan lagi dia SD lho, kekejar gak yaa…”
——–
“minta saran dong, anakku mogok sekolah. Gak bisa banget dilepas, aku malu banget sama guru-guru Play grup nya karena dia cuma mau sekolah klo akunya di dalam kelas, anak-anak lainnya bisa kok, kenapa anakku engga ya…apa ini karena dia manja ya?”
——-
“fii, gimana ya cara ngasih tau anakku ini. Dia tuh gak rapiih banget. Sradak sruduk, klo bertamu bikin malu deh. Semuanya dikratak (bahasa jerman yg artinya suka kepo liat dan bongkar kalau liat barang baru)
—-
Di sisi lain, tidak sedikit juga para ibu yang justru bingung karena anaknya terlalu pemalu dan terlalu patuh.
….
ya, curhatan-curhatan sejenis ini membuat saya yg juga punya bocil balita tergugah, dan mungkin sebagian kekhawatiran itu pernah saya alami juga. Kita suka takut anak kita tidak berada pada track yang benar, khawatirnya salah hanya karena ia “berbeda” dengan kebanyakan orang.

Aah, ada aja salahnya ya, ada aja kurangnya dan akan terasa makin capek kalau kita fokus pada targetan, padahal jauh sebelum kita mengeluh, hal yang harus kita renungkan adalah, sudah tepatkah sebenarnya harapan yang kita tempatkan padanya?

benarkah anak kita yg manja ataukah memang belum waktunya dia berlepas dari figur attachment?

perlukah kita gusar karena anak kita susah disuruh belajar?

perlukah kita marah dan terburu buru menuntutnya untuk duduk tenang & mandiri di sekolah di usianya yang belum genap 5 th?

perlukah kita memarahinya hanya karena dia berlaku terlalu aktif?

rasanya kita perlu sedikit merenung,anak kita yg salahkah,atau tuntutan kita yg tidak pada “tempatnya”

tahukah bunda, bahwa sebenarnya dalam tanggungjawab agamanya, usia 0-6 tahun bukanlah usia untuk diberi beban?

Tulisan ini saya niatkan sebagai catatan pribadi, sekaligus juga untk mengingatkan kembali prinsip dasar yang perlu diketahui oleh kita sebagai ibu yang sedang mendidik anak usia 0-6 tahun.

Di tulisan saya sebelumnya, saya pernah membahas ada sekurangnya 4 tahapan usia dalam proses mendidik anak,
1. Masa pra latih (0-2 thn, 2-6 thn)
2. Masa pre aqil baligh 1 (7-10 thn)
3. Masa pre aqil baligh 2 ( 10-14 thn)
4. Post aqil baligh (> 15 thn)

Setiap tahapan usia punya karakteristiknya, dan jangan sampai terbalik-balik, menempatkan anak kita tidak pada “tempatnya”.

Kita memberinya beban, yang bukan pada masanya, alih-alih kita ingin anak kita “cepat”, malah kita akan menemukan anak yang tidak matang di usianya dan menghasilkan ibu yang keriput sebelum waktunya, hihi..

Dalam tulisan ini, saya ingin me-review beberapa prinsip dasar yang perlu diketahui oleh kita dalam mendidik anak usia 0-6 tahun.
Bahwa Usia 0-6 tahun itu…
1. Masanya adalah bermain: Children as player, parents as fasilitator.
2. Masanya bergerak dan mengembangkan imaginasi
3. masanya membangkitkan gairah belajar dan logika nalarnya (belum wktnya belajar ya bun,tugas kita hanya menggugah minatnya)
4. masa golden age untuk mendidik fitrah keimanan
5. masa berlekat dengan figure attachment, dan menguatkannya sd usia 6 tahun
6. membangkitkan kesadaran akan bakat dan keunikannya
7. masa untuknya membangun, merawat & menguatkan ego sebagai individu, untuk mempersiapkan kesiapannya bersosiallisasi setelah usia 6 tahun.
8. menguatkan konsep identitas gender melalui gambaran positif mengenai sosok Ayah dan Ibu
9.masa membangun pola terhadap perawatan jasmani (fisiknya)
10.masa membangun imajinasi positif melalui inderanya

Kalau kita simak, kata kuncinya ada pada “membangkitkan”, “menumbuhkan” dan sama sekali tidak bicara soal hasil akhir bisa ini-itu.Semuanya mengandung makna pra latih, yang berfokus pada pembangunan “pondasi” : minatnya,cintanya pada hal hal baik yg kelak akan dilatihkan lebih lanjut pada masa berikutnya.Untuk bisa menguasai berbagai keterampilan mereka perlu cinta, mereka perlu minat, mereka perlu mengenali dirinya dengan baik.

Anak usia di bawah 6 tahun belum waktunya belajar secara tekstual di meja dengan buku dan alat tulis, bukan juga usia yang bisa dibawa duduk manis dan tenang berlama lama. Mereka memang dalam masanya bermain, bergerak, mengeksplorasi diri dan lingkungannya. Tugas kita adalah menjadi fasilitator yang menyenangkan dan memberinya kesempatan seluasnya. As simple as that mom..

Karenanya, sebelum usia 6 tahun hindari untuk :
– Memberinya tuntutan akademik dan pembelajaran yang bersifat kognitif
– Memaksanya menghafal tanpa melihat ketertarikannya
– Mengajarkan bahasa kedua sebelum bahasa ibu tuntas dipahami
– Mendahulukan mengajari syariat/tata cara ibadah sebelum menumbuhkan kecintaan pada RabbNya
– Membandingkan dengan anak-anak lainnya
– Berobsesi menjadikan anak pada suatu bidang/profesi tertentu tanpa menimbang minatnya
– Berkata, bersikap atau berwajah tidak ramah apalagi kasar saat berinteraksi dengannya
– Menitipkan anak pada orang lain/lembaga kecuali dgn uzur syar’i

MasyaAllah, as simple as that mom. Jadi sebenarnya, tanpa sadar kita banyak menghabiskan energy pada sesuatu yang bukan tempatnya. Tugas kita adalah menjadi sebaik baik teman bermainnya, menjadi fasilitator untuknya belajar banyak hal dari lingkungannya. Bukan sebagai hakim, bukan sebagai penilai.

Ia memerlukan kita jauh lebih sederhana dari apa yang kita bayangkan. Ia memerlukan kita untuk hadir, bersamanya. Bermain bersamanya, dengan tulus, alamiah, tanpa syarat. Mengamati minatnya, memfasilitasi ruangnya, menjawab rasa ingin taunya.Memberinya pengalaman positif akan dirinya,lingkunganya.

Mereka adalah penjelajah sejati,jangan batasi ruangnya dengan cara berpikir kita sebagai orang dewasa. Selami dunianya, ikutlah “belajar” ala dunianya yang bisa jadi berbeda 180° dengan definisi belajar ala kita. Bagi mereka main tanah itu belajar, bagi kita mungkin tak lebih dari urusan soal kuman & kotor. Akan selalu banyak gap, jika kita kita pakai perspektif ala orang dewasa. Duduklah bersamanya mom, 6 tahun adalah waktu yang singkat untuk membekali masa pra latihnya, untuk menyiapkannya agar bisa benar-benar siap menjalani masa latih di usia selanjutnya. Mari bersabar dengan segala prosesnya, dan fokuslah pada cahayanya. Pada keunikan dan kebaikan yang anak-anak kita miliki. Bukan pada sisi gelapnya. Bersama, kita menemaninya tumbuh selaras dengan fitrahnya agar mereka tumbuh menjadi anak yang matang.

saling mendoakan ya bunda, semoga bisa jadi wasilah untuk bisa berbagi dan saling menguatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *