Raja Kecil itu Bernama Anakmu

Raja Kecil itu Bernama Anakmu

kisah nyata hari ini :
…Suatu pagi yang tenang karena di KL hari ini sudah mulai libur.Saya menghela nafas setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, selonjoran sambil ngotret rencana hari ini, terbayang mau ‘me time’ pagi mumpung anak-anak masih tidur pules : mau bales-balesin chat, baca buku, dll. Saya mulai geser bangku, gelar laptop, colok-colok charger, pegang HP.

Dan, belum sempat chat diketik, saya dikagetkan suara nyaring dari belakang saya :

“haai bunda, door!!!” Sapa anak saya yang pertama,
“Lagi ngapain bund, jangan pegang hp terus dong kan udah janji gak banyak pegang gadget (*nah loh!) Enaknya kita ngapain ya hari ini. Ayo dong, hari libur nih, jadi yah kita buat garasinya Tayo si bus, kita cari bahan-bahan yuk”
serunya ceriwis sekali,

kami memang saling berjanji untuk gak banyak pegang gadget saat lagi sama-sama, dan memang saya pernah janji mau buat sendiri garasi tayo the bus (demi kreativitas dan penghematan uang belanja negara, hehe)

—– akhirnya si HP ditaro lagi sambil punya rencana mau siap-siapin aja bahan-bahannya, lalu kembali ke HP dan laptop *emak pasang strategi*

Dan, karena azzam sudah lumayan mandiri untuk sesaat dia pun anteng dengan beberapa bahan-bahan bekas yang sudah disiapkan.
*emak lega*

Belum sampai 10 menit buka-buka IG, baca-baca berita, sapa2 syantik…

“bundaaaa…aku mau susu coklat”
anak saya yang kedua pun ternyata bangun, *emak pasang strategi lagi : bawain susu coklat, lalu dipukpuk lagi sebentar biar bobo lagi…”

dan, strategi gagal. Anaknya melek dan keliatan seger banget.
“Bun, mas azzam mana, aku mau main..”

*pasang strategi lagi : ahaaa!! Main bersama aja ya, ade dikasih mini project juga.
——
Apa yang terjadi selanjutnya?
………
Emak lanjut sapa cantik di medsos, buat indomie pakai cengek atau mandi luluran?
…….
Ibu-ibu yang pernah ada dalam situasi ini pasti bener tebakannya.

yaap!! Me time nya gagal karena ternyata main bersamanya gak sampai 10 menit, lalu keduanya rebutan.

Dan, akhirnya HP dan laptop itu benar-benar disimpen sampai siang harinya, saya ikut main dengan anak-anak. Coba-coba buka di sela sore hari tapi gak jadi juga karena ini itu dan singkat cerita baru saya buka lagi dini hari ini, jam 01 : 28 waktu KL
*sungkem yah kalau lama balas chatnya, inilah saya buibu. Kalau yang sudah kenal dekat mungkin sudah hafal kebiasaan saya yang baru muncul di malam hari.

—- familiar dengan situasi itu bunda? *salim satu-satu kalau ada yang merasakan juga situasi seperti yang saya alami.

ya, dan ini bukan satu dua kali dimana daftar prioritas kita bubar jalan saat ada raja kecil di rumah. Dan setelah semua kondisi aman tentram, barulah kita tata lagi satu demi satu daftar rencana itu. Itupun kalau gak ikut bobo bareng anak-anak.
Kalau ketiduran?
ya, besoknya buat rencana lagi dan berdoa lebih banyak, begitu seterusnya :d

dan, ini terbilang situasi normal yah.
Belum lagi kalau anak-anak sakit, daftar prioritasnya langsung bubar jalan bisa sampai 1 pekan berikutnya.

Yah, setelah kita punya anak, kita punya raja kecil di rumah yang mengambil hampir seluruh prioritas kita.
Jangankan balesin chat sambil duduk manis atau mandi luluran, bikin indomie pakai cengek kadang harus nunggu momentum dulu biar kerasa banget nikmat setiap sendokannya…*pengalaman.

Yah, awal-awal menjadi ibu saya kaget kok segininya menguras waktu, jiwa dan raga. Perasaan dulu bahasan ini gak dibahas di buku teori psikologi perkembangan manapun.
Iyalah, karena ternyata gak ada sekolah untuk jadi ibu, bahkan bagi kami yang psikolog pun gak menjamin jadi lebih terampil pas sudah jadi ibu.
Karena belajar yang sebenarnya adalah di lapangan, ‘nyemplung’ : Practice makes perpect.

Dulu, sebelum jadi full time mom dan pindah ke Kuala Lumpur,saya merasa sudah ‘lumayan’ berhasil jadi ibu. Selama 5 tahun lebih menjalani, saya merasa punya tingkat kewarasan yang cukup baik, merasa cukup punya energy untuk anak-anak, merasa cukup sabar, merasa lumayan pokoknya.

Dan, setelah menjadi seorang ibu yang utuh, saya baru sadar bahwa ternyata saya salah, saya mengukur diri saya terlalu tinggi.

Saya baru sadar bahwa “karir” saya sebagai ibu baru saja dimulai. Saya baru saja belajar dan sungguh belum ada apa-apanya, baik kesabarannya, energinya, keikhlasannya, dllnya.

Kenapa? karena dulu, tanpa saya sadari, tanggung jawab itu tidak saya pegang sepenuhnya, saya jadi ibu dengan banyak “tim sukses”

Ada khadimat di rumah yang bisa saya delegasikan tugas ini dan itu selama saya pergi, ada sekolah azzam yang super oke yang bisa bantu saya mengkontrol tumbangnya, ada adik saya yang meski hanya sabtu minggu bisa dititipin anak-anak,
Ada anak tetangga yang sering main ke rumah dan membuat sore hari saya tenang karena mereka asik bermain dan bergerak (jadi malamnya tidur cepat), ada televisi dengan kids channel yang lumayan bisa menemani anak-anak sesaat saya harus pakpikpek di dapur atau kejar deadline..dan segala kenyamanan akomodasi, kemudahan akses yang banyak sekali mengeksekusi peran saya sebagai ibu, membuat saya tenang untuk melepas anak-anak meski hanya beberapa jam.

Ya, berbeda sekali suasananya dengan di sini.
Kami tinggal di negeri orang, dan satu-satunya tim saya hanya suami. Perbedaaan kultur, dan situasi masyarakat di sini membuat saya tak bisa se leluasa melepas mereka bermain dan bergerak seperti di Indonesia. Anak-anak sebaya azzam dititipkan di daycare dan jarang sekali kita melihat anak-anak berkeliaran bermain bersama. Sungguh beda deh sama apa yang diceritakan dalam kisah ipin upin.

Anak-anak saya nyaris tidak punya teman sebaya. Meski di samping rumah kami ada daycare, mereka tidak bisa saling bermain bersama karena perbedaan kebiasaan dan pertimbangan keamanan. Saya hanya menyaksikan mereka saling sapa di balik teralis pintu daycare, atau saling berbagi mainan&makanan lewat jendela. Aaah, sedih liatnya. Tapi saya yakin, semua ini juga proses belajar untuk azzam dan alma. Jadi, siapa teman main azzam&alma? ya,pilihannya adalah saya atau suami saya.

Tinggal di negeri orang juga punya banyak keterbatasan,
kami tidak pakai televisi dan tidak punya kendaraan untuk bepergian seperti di Indonesia karena satu dan lain pertimbangan.

jadi bisa dibayangkan, hampir 24 jam (minus mereka tidur), saya bersama mereka. Dan sebagian besar area “petualangan” mereka adalah rumah.
Dari bangun tidur, sampai tidur lagi.
Dari energy full, sampai habis.
Laper, haus, yang dicarinya ayah bunda
Bosen, pengen main, yang dipanggilnya ayah bunda
pengen cari temen berantem-beranteman, juga medianya ayah bunda atau adek, hihi
begitu seterusnya, sampai mereka puas bermain, mengantuk dan tidur.

Tidak banyak jedanya, mengambil lebih dari 70% waktu saya setiap harinya dan membuat saya mengulik ulik sedemikian waktu untuk bisa menuntaskan urusan saya sendiri.

Capek?
Iya, sangat capek dan lumayan bisa menurunkan berat badan di awal-awal bulan. Di awal menjalani peran baru ini saya merasa energy saya hampir habis. Saya mencoba mencari supply energi sedemikian rupa dan mengoptimalkan semua hal yang saya punya. Saya banyak menilik ke dalam diri saya, dan menyederhanakan ambisi saya.

Di titik itu mungkin sisi belajarnya. Saya jadi lebih banyak waktu untuk melihat ‘the purpose of life’ saya yang sebenarnya, tidak disibukkan oleh rutinitas jadwal klien, kejaran deadline…atau kejaran harus begini dan begitu. Kami benar-benar belajar membangun ketahanan keluarga dan fokus pada kekuatan yang kami punya.

Lambat laun saya memahami, bahwa inilah kehidupan dan karir ibu yang sebenarnya.
Saat peran itu diambil sepenuhnya. Saat tanggung jawab itu, dipelajari seutuhnya.
saya belajar melihat lebih dalam, tentang apa yang saya punya. Yang sesungguhya menjadi harta saya.

ya, Raja kecil yang memintamu ber khidmat itu bernama anakmu,
Dan kalau saya boleh melengkapinya lagi,

Raja kecil itu, adalah syurgamu
Merekalah kunci pembuka banyak keridhaan dari Nya,
Merekalah juga orang yang paling setia, mencintaimu dengan utuh
merekalah yang dapat menerimamu, apa adanya
di mata merekalah juga, kamu adalah wanita yang paling cantik sedunia, yang tidak pernah bosan dicari

Aah masyaallah, raja kecil itu, syurgamu.

Mari berlatih mengasah ke ridhan mu wahai ibu,
karena dari sana semuanya itu bermula,
Karena masa ini sungguh tidak akan lama,
Biarkan rumahmu menjadi seindah syurga,
Dengan keridhanmu, menjadi sebaik baik ibu untuknya

00 : 47, Kualalumpur
tulisan acak yang lebih tepat disebut curahan hati, nyaris tanpa konsep seperti tulisan sebelumnya. Tapi ini adalah catatan kejujuran diri, semoga bisa menjadi pengingat betapa berharganya peran kita saat ini wahai ibu, keep setrong emak-emak sayang 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Security