Sirkus dan Family Bonding

Sirkus dan Family Bonding

“Saya juga dulu mengalaminya, teman-teman sudah mengenal saya seperti rombongan sirkus… saya kalau bepergian selalu membawa anak-anak saya, lengkap dengan semua perabotannya, persis seperti pemain sirkus ”

kalimat itu terdengar begitu santai dan ringan dari seorang psikolog senior, yang saya sangat segani. Beliau mengatakannya sambil menepuk pundak dan menatap saya dengan penuh empati di suatu sore dimana nafas saya terengah-engah duduk di ruang rapat sambil menggendong alma, setelah sebelumnya saya bolak balik bernegoisasi dengan Azzam untuk bersabar menunggu saya selama rapat dan memastikannya juga aman&nyaman selama saya tinggal. Beliau bahkan mempersilahkan saya menyusui sambil saya mempresentasikan konsep penanganan yang saya usulkan ketika alma terlihat mulai gelisah.

sore itu, sedapat mungkin saya mengatur energi, mengatur konsentrasi untuk dapat mengikuti rapat yang cukup penting dan mempresentasikan beberapa usulan penanganan. Sore itu saya diundang sebagai tim psikolog penanganan kasus sodomi yang terjadi pada puluhan anak laki-laki di sebuah kota di jawa barat. Di sana saya bertemu beliau dan beberapa orang lainnya. Dan saya adalah satu-satunya psikolog junior yang masih punya anak balita dgn segala ke riweuhannya..hihi.

Rapat tersebut bisa dikatakan spontan dan mendadak, saya hanya dikabari beberapa jam sebelumnya. Sebenarnya bisa dibuat praktis karena durasi rapatnya hanya berlangsung selama kurang lebih 1 jam, tapi….untuk seorang ibu dengan 2 balita yang saat itu tidak ada ART (ART saya ada jadwal sekolah sore hari), pergi mendadak dengan 2 balita dengan jarak tempuh cukup jauh adalah hal yang sangat dramatic dan heroik bukan?? *cuuung yang samaa… (cari temen)

Ya, dramatic dan heroik. Mulai dari episode menyiapkan bekal makanan, pakaian, mainan, mencari supir yang bs mengantar, mengatur proses penitipan…dll — belum lagi mempersiapkan bahan-bahan rapat itu sendiri sampai akhirnya memastikan anak-anak aman nyaman selama kita beraktivitas. teman-teman dekat saya biasany hafal, biasanya isi mobil dan tas saya sudah menyaingi kantong ajaibnya doraemon, isinya segala ada. Mulai dari biskuit sampai pensil HB , dari berkas tes sampai waslap..mainan, tak lupa aneka kresek untk antisipasi baju basah, untuk pampers, dll–lengkap deh. Memang dipikir-pikir mirip rombongan sirkus. Siap show dgn sgl perabotannya. hihi
Rasanya 1 jam bagai sewindu..dan selama sepersekian jam biasanya kepala agak nyut-nyutan mengamankan suara tangis dan teriakan bocil-bocil yg beradu dengan kepentingan kita. Kalau lagi hati tentram saya sepenuh penuhnya sadar bahwa masanya adalah bermain dan bukan tempatnya saya meminta mereka memahami aktivitas dan kepentingan saya. Sebagai anak, yang mereka tau mereka ingin nyaman, dan bersama bundanya,itu saja. Sangat simpel ya? sayangnya kalau kita riweuh kadang hal-hal simpel itu jadi terasa begitu beratnya.

—-kembali pada obrolan sirkus dan bonding
Setelah selesai rapat sore itu, singkat cerita kami berbincang cukup lama tentang keluarga. Beliau kembali mengulang kalimat itu : SIRKUS.
” saya menjadi rombongan sirkus selama kurang lebih 8 tahun sampai anak2 saya usia kelas 1/2 SD, mereka selalu saya bawa. Memang repot saat itu, tapi sangat worthed, karena kita sedang meng investasikan memory tentang bonding yang akan selalu mereka ingat sampai besar, mereka akan punya pondasi tentang kasih sayang ibu dan keluarganya… ”

nyess…rasanya ademm sekali, biasanya saya perlu tisu basah dan segelas pocari sweat stlh ber riweuh ria, tapi sore itu tidak. Kalimat dari beliau terasa adem sekali menelusuk sanubari. Adem, adem sekali. Kalimat yang padat, mendalam dan menjawab banyak konsep tentang family bonding dan peran kita sebagai orang tua.

saya jadi teringat nasihat guru saya lainnya, beliau pernah berpesan:
” pahami tugas dan peranmu sebagai ibu, sepenuhnya. Jangan setengah-setengah dan jangan terbalik prioritasnya. Ini bukan soal bekerja atau tidak bekerja, tapi ini soal tanggungjawab. Setiap kita boleh memilih, tapi tetap ambil tanggungjawab itu. Bukan untk didelegasikan, bukan di sub kontrakkan pada orang lain.. tidak penting untuk anakmu mengetahui seberapa besar penghasilan dan seberapa penting kesibukan orang tuanya, mereka hanya perlu kasih sayangmu, waktumu dan hati yang utuh untuk mendampingi mereka bertumbuh..”

sebelum kami pulang dan mengantar kami ke gerbang, beliau berpesan:

“tugas utama kita adalah sebagai ibu, menjadi wanita yang baik. Menjadi psikolog adalah bagian dari profesi kita. Tetap penuhi tanggung jawab kita yang utama, insyaAllah yang lainnya akan mengikuti…”

Lagi dan lagi. Begitu ringan tapi padat isi. Saya tidak bisa berkata-kata, qadarullah..sore itu saya seperti mendapatkan kuliah parenting untuk memantapkan peran saya sebagai ibu. ” Menjadi ibu ” : Sebuah konsep yang sederhana, tapi bukan untuk dipahami dengan logika semata, ia memerlukan kedalaman perasaan dan kemantapan untuk menjalankan semua konsekuensi dari dari peran kita sebagai ibu. Meski baru satu kali bertemu, tapi pertemuan ini begitu berkesan untuk saya. Begitulah mungkin gambaran wanita dewasa yang sudah matang dengan perannya : mantap, fokus dan tidak terbalik balik prioritasnya.

proses yang mudahkah? tentunya tidak, kalimat yang beliau ucapkan pastinya hasil dari proses belajar yang panjang dan dari sebuah ” rombongan sirkus ” dengan segala kehebohan dan ke riweuhan nya.
Sulitkah? tentunya ada penyesuaian di sana sini, dan begitu banyak pilihan di luar sana yang memungkinkan kita melepas tanggung jawab itu. beliau dan ibu-ibu hebat lainnya sudah membuktikannya, seperti yang dikutip dalam gambar : ” time spent with family is worth every second.. ”

insyaallah, tidak ada yang sia-sia dari semua pendampingan dan waktu yang dilalui dengan anak-anak kita, setiap belaian pada rambutnya, setiap tangis yang kita usap dari mata kecilnya..setiap pelukan, setiap tatapan matanya yang meminta perhatian..setiap teriakannya yang memanggil nama kita…semuanya akan menjadi memory yang terekam.

mereka merekam, bahwa ibu sayang padanya, ibu memperhatikannya, ibu ada untuknya. Mereka belajar bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik..mereka belajar menamai perasaannya, menghargai dirinya, memberi nilai pada keluarganya…dan banyak pelajaran lain yang tidak mereka dapatkan di buku ataupun bangku sekolah dan akan menjadi konsep yang mereka bawa sampai mereka besar nanti.

semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan menjadi penguat bagi ibu-ibu lainnya, bahwa peran kita begitu berharga. Kitalah madrasah pertama bagi mereka, kitalah pedoman,kitalah guru pertama dan utama…

Insyaallah, sedikit bersusah ria menjadi rombongan sirkus, tidak apa ya?  🙂

“setiap kelahiran adalah kejutan bagi semesta, dan setiap anak adalah mesin belajar terbaik yang pernah ada di alam semesta. Bersama kejutan itu, Tuhan menghadirkan seorang ibu sebagai investasi dan pedoman pertama dan utama untuk mereka..”
(kutipan film dokumenter The Begining of Life)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WordPress Security