Sosok Penting itu Bernama Ayah

Sosok Penting itu Bernama Ayah

Setelah banyak membahas mengenai sosok Ibu, mari kita tengok sejenak sesosok yang tidak kalah penting dalam pengasuhan,

Sosok itu bernama Ayah,

Tidak banyak tulisan yang mengulas soal sosoknya, padahal perannya tidak kalah pentingnya dengan ibu, bahkan dalam banyak hal tanggung jawabnya jauh lebih banyak.

Tulisan saya kali ini santai, kita coba sharing bertahap ya agar perspektifnya bisa lebih lengkap. Ayah dan bunda bisa saling sharing di komen ya
…..
Saya akan mulai dari pengamatan saya tentang beberapa sosok Ayah dan suami yang saya klasifikasikan menjadi beberapa kategori.

(ilustrasi ini saya ambil dari berbagai kisah rumah tangga dan pengalaman teman dan klien yang pernah saya jumpai, kesamaan kisah adalah kebetulan semata, hehe)

A : Ayah sebagai pelaku rutinitas

Tipikal yang pertama ini paling banyak saya temui. Ayah bertanggungjawab penuh dalam nafkah keluarga. Ia sangat bertanggungjawab. Sebagian besar waktunya di luar rumah. Ia pergi pagi dan pulang malam, begitu seterusnya.
Ia menitipkan fungsi pengasuhan sepenuhnya pada Ibu. Jika beruntung dan Ayah tak lelah, anak-anak bisa menemuinya di waktu weekend atau hari libur.

Sisi positifnya, Ayah tipe ini sangat gigih dan penuh tanggung jawab. Meski di sisi lain, keterlibatannya dengan keluarga menjadi sangat minim.Ibu menjadi sosok paling signifikan dan bertanggungjawab penuh dalam operasional rumah sementara Ayah tidak banyak tau soal apa yang terjadi di rumah.

B : Ayah sebagai controller(pengawas)

Tipe B ini mirip dengan tipe A, tapi power Ayah lebih dominan. Sebagian besar pengasuhan jaman dulu mempraktekannya. Ayah bertugas di luar rumah, tapi melakukan pengawasan kepada Ibu dan anak-anak. Beberapa tipe B yang saya temui biasanya tegas. Idealisme nya tinggi, ia mencoba mengaplikasikan tanggung jawabnya ke dalam hal-hal yang sifatnya prinsipil dan aturan. Ia akan rajin melakukan ceking soal tugas sekolah anak-anak, bagaimana ibadahnya, shalatnya, bagaimana kesehatannya, meski ia tidak terlibat.

Tipe B ini biasanya disegani dan tidak jarang “ditakuti” oleh anak-anak karena powernya. Positifnya hal-hal pokok terjaga ritmenya, meski banyak yang cenderung jadi kaku.

C : Ayah sebagai cintanya Ibu

Sebenarnya saya agak bingung kasih nama kategorinya, tapi saya menemukan ada Ayah dengan tipikal ini. Ia adalah sosok laki-laki yang piawai sekali mencintai Ibu, tapi tak pandai menjadi teman main anak-anak.

Ia kikuk jika harus terjun untuk mengasuh anak-anak apalagi ditanya soal blue print rumah tangga, berbagai keputusan harus diguide dan diambil dari sudut pandang Ibu : asal ibu senang.
Ia akan memberikan apa yang membuat Ibu nyaman : pembantu, fasilitas, gadget, uang belanja, dll. Soal arah dan blue print rumah tangga? gimana nanti.
Ibu yang tau, Ayah ikut Ibu aja.

Positifnya, Ayah tipikal ini biasanya selow, praktis dan tidak ambil pusing. Tapi di sisi lainnya, roda rumah tangga mudah terombang ambing khususnya saat Ibu sedang labil atau hubungan Ayah Ibu sedang kurang baik, karena Ayah tidak terlatih melakukan problem solving.

D : Ayah Main

Tipikal keempat jumlahnya langka. Ia adalah sesosok Ayah yang bisa menikmati waktu kebersamaan dengan keluarganya. Ia adalah hero bagi anak-anaknya dan jadi teman main yang menyenangkan, Anak-anak merasakan kehangatan atas kehadirannya : pelukannya, candanya. Beberapa yang saya temui adalah mereka juga yang family man, tidak sungkan berbagi peran rumah tangga dengan Ibu dan juga gigih dalam memenuhi perannya sebagai pencari nafkah. Tapi tidak sedikit juga porsi ini gak lengkap, Ayah adalah teman main yang menyenangkan untuk anak-anak, tapi ada pula yang tidak terampil untuk bertanggung jawab pada hal yang lebih serius.

E : Ayah Tukang Main

naah…beda 1 kata tapi besar maknanya. Tipikal kelima ini adalah Ayah yang senang main sendiri, di luar rumahnya. Ia lebih betah dan lebih menikmati waktu “main” nya di luar rumah karena satu dan lain alasan. Bisa jadi karena alasan pekerjaan, hobi…dan lainnya. Ia tidak terlibat dalam pengasuhan dan punya pandangan bahwa hidup itu harus happy, Mereka biasanya santai menikmati hidup, meski di sisi lain kadang mereka jadi salah dalam menetapkan priorotas. Pada beberapa kasus, tipikal ini saya lihat banyak mengalami masalah dalam kedewasaan peran.

….
Ayah, masuk tipe yang mana, adakah pandangan lain?
Bunda, ada kendala soal peran ayah di rumah kah?

saling sharing di kolom komentar ya,

ps :
tulisan ini tentunya tidak bermaksud mengklasifikasi, karena untuk menjadi Ayah ‘paket lengkap’ tentunya perlu proses dan banyak hal yang melatarbelakanginya.

Apa dan bagaimana proses belajar menjadi Ayah yang sejati, insyaallah kita bahas pada tulisan selanjutnya ya… 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *