Teman Belajar Ayah (serial Sosok Penting Bernama Ayah-Bagian 3)

Teman Belajar Ayah (serial Sosok Penting Bernama Ayah-Bagian 3)

Tulisan ini adalah serial ketiga dari bahasan sosok penting bernama Ayah,

Di tulisan yang sebelumnya kita membahas berbagai tipe Ayah dalam keluarga dan bagaimana proses belajar Ayah

Dan, akhirnya sampai pada bahasan bahwa Ayah sejatinya memiliki sebaik baik teman belajar

Siapa dia?

Dia adalah istrinya, ibu dari anak-anaknya

 

Ibu, sudahkah bisa menjadi teman belajar Ayah?

Aaah, bahasan ini agak sedikit melo dan bikin baper ya

Karena nyatanya, proses ini tidaklah mudah dan tidak semua pasangan mampu melakukannya

Banyak sekali cerita para Ayah yang tidak mendapatkan kesempatan belajar hanya karena teman belajarnya  di rumah tidak menyenangkan dan menenangkan hati

Jadi serba salah, serba bingung, serba tertekan

Membuat Ayah sebagai nahkoda kehilangan kendali dari bahteranya sendiri

 

Apa akibatnya jika Ayah tidak berperan?

rumah tangga terombang ambing
Ibu menjadi single fighter dan merasa menjadi orang paling prihatin di dunia,

Sementara Ayah bingung, serba salah dan tidak bisa mengambil solusi dari masalah rumah tangga

Anak-anak? Mereka murung dan tak kalah bingung

Bahkan tak jarang pada banyak kasus anak-anak menjadi pelampiasan emosi ketidak puasan orang tuanya

Aaah, jangan sampai ya Bunda

Apa sebenarnya maksud dari teman belajar Ayah?

Menjadi teman belajar Ayah tentunya tak sama dengan definisi ‘teman’ pada umumnya

Relasi ini sifatnya unik, unik sekali

Relasinya bersifat intimate (sangat dekat), tapi juga tetap harus banyak ruang privasi

Relasi ini harus dibawa se rileks mungkin,

Tapi visi belajar yang dibawanya adalah visi akhirat

 

Ada 4 hal yang harus dipahami oleh Ibu untuk bisa menjadi teman belajar Ayah

  1. tugas besar Ayah

Ini menjadi hal pertama dan utama. Pastikan visi Ayah dan Bunda sudah sama.
Apa sebenarnya tugas  besar Ayah?
Sebagai muslim, visi besar Ayah dijelaskan dalam QS At Tahrim : 6
“jagalah dirimu dan keluargamu dari panasnya api neraka”

Dalam operasionalisasinya, Ayah akan menjalankan visi rumah tangga sesuai dengan tuntutan Rasullah SAW. Dengan konsep ini, Ayah dan bunda perlu sama-sama memahami bahwa tugas besar kita mengarah pada hal yang esensial dan bekerja sama untuk fokus pada tujuan dan sedapat mungkin menghindari perdebatan yang tidak sesuai dengan visi.

Artinya lagi?
saat Bunda memahami tugas besar Ayah ini, fokuslah untuk mendorong nya menjalankan visi, bukan sekedar mendorong nya untuk menjadi pelaku rutinitas.

dan, jangan salah menempatkan resahmu bunda

Resahlah saat ia tak shaleh, resahlah saat shalat shubuhnya terlambat. Resahlah saat anak-anak tak mendapat pendidikan aqidah dari Ayah
bukan sekedar resah karena uang belanja kurang, karena Ayah tidak romatis, dll.
sekilas sama pentingnya, tapi beda esensinya

Menjadi teman belajar Ayah, yang utama ialah sejauh mana bunda memahami apa tugas besarnya dan membantunya untuk amanah

  1. kesempatan belajar

bagian kedua ini sifatnya lebih banyak ke tataran teknis, setelah Ayah dan Bunda punya visi yang sama soal rumah tangga, step berikutnya adalah pembagian peran yang memadai dan memberikannya kesempatan belajar seluas mungkin

ada 4 komponen penting dalam memberikan Ayah kesempatan belajar :

  • trust
  • acceptance
  • power
  • love

Bagian ini pernah saya bahas pada tulisan sebelumnya : Karena laki-laki perlu teman belajar
Keempat komponen itu harus diolah menjadi seni berbagi peran. Menarik, unik, susah-susah gampang.

Diawali dengan memberinya trust (kepercayaan) penuh untuk memegang kendali rumah tangga,   lalu berikan penerimaan yang tulus, apa adanya tentang kehadirannya. Apresiasi idenya, beri ia rasa nyaman saat mengemukakan pendapat, simak arahannya, dll.

Setelah itu, berikan ia powernya. Bagian ini disebut dengan bab ketaatan : kerelaan kita untuk dibina dalam rumah tangga sesuai dengan syariat yang Allah dan Rasulkan sampaikan.

terakhir, upayakan menyelimutinya dengan cinta. Hati ibu lembut dan ini menjadi kekuatan Ayah untuk tetap tentram menjalankan tugasnya.

 

  1. seni menjadi advisor

 

ada kalanya Ayah lelah dan juga salah. Di sinilah fungsi teman itu membantu sekali menjaga Ayah tetap on the track,

sebagai teman belajar Ayah, bunda perlu menjadi sebaik baik advisornya
Bagian ini juga susah-susah gampang
karena salah penyampaian bisa jadi salah menerimanya

Bunda perlu memahami, bahwa ia ter stigma untuk kuat dan hebat. Hindari mencerca kesalahannya, hindari menjustifikasi, jangan berikan instruksi bertubi.

Masuklah lewat pintu special, koreksi kesalahannya dengan cara yang baik.

 

  1. ruang privasilast but not least, ruang privasi
    ada salah satu nasehat pernikahan yang sampai sekarang masih saya ingat selalu

“pernikahan yang langgeng, tetap perlu ruang misteri. Ruang itu bernama privasi. Tetaplah saling menghargai bahwa dibalik dunia yang dijalani berdua, masing-masing tetap perlu ruangnya sendiri..”

aaah, terbayang bunda.
Ruang privasi itu memberi energy. Biarkan Ayah tetap memilikinya. Ruang itu kadang tak besar dan tak banyak kok, tapi pengaruhnya besar.

Biarkan Ayah tetap menjalankan hobinya, minatnya, waktu untuk sendirinya yang mungkin tidak selamanya melibatkan Ibu.
Hal yang sama juga perlu dilakukan Ayah terhadap Ibu ya

 

Sama-sama punya me time, istilah sederhanannya.

Di sinilah kita bisa saling mengembangkan dan tetap saling men support

Karena menikah, tak sekedar bersama kan?

Lanjut lagi tulisannya nanti ya

#30DWC

#30DWCjilid8
#day17

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *